
"Udah selesai makan malamnya?" Tanya tuan Abdi kepada dua wanita kesayangannya.
"Gita udah pa" jawab Gita meletakkan sendok ke piring.
"Mama juga udah kok" jawab nyonya Indira.
"Yaudah kalau gitu" kata tuan Abdi lalu mengedarkan pandangannya "mbak, mau bayar" panggil tuan Abdi saat ada waiters yang sedang melintas.
"Baik pak, ingin melakukan pembayaran melalui kartu atau cash pak?" Tanya waiters itu, ditangan waiters itu pun memegang mesin ATM mini.
"Kartu mbak" jawab tuan Abdi memberikan sebuah kartu kepada sang waiters.
Waiters itu menerima kartu tuan Abdi dan langsung menyelesaikan transaksi.
"Ini kartunya tuan. Terima kasih sudah menikmati makan malam di restoran kami" ucap waiters itu ramah dan mengembalikan kartu milik tuan Abdi.
Waiters itu pun pergi, tak lama keluarga tuan Abdi pun sama-sama beranjak dari tempat duduk.
"Apakah ada tempat yang akan kau kunjungi sayang" tanya nyonya Indira kepada putrinya.
"Kaya nya ngga ada ma, kita pulang aja" jawab Gita mendekati sang mama dan menggandeng tangan mamanya.
Sampai di parkiran Gita melihat supirnya dan juga sahabatnya sedang duduk berdua. Namun bukan itu fokus Gita, melainkan sahabat Gita itu seperti sedang mengobati supirnya karena di tengah-tengah mereka ada kotak p3k. Gita pun menghampiri sahabat dan supirnya.
"Karin!" Panggil Gita.
Karin yang sedang fokus mengobati Eka, dan dia masih menikmati rasa berdebar karena dekat dengan Eka pun langsung terkejut dan tidak sengaja menekan luka Eka.
"Auuu...." Ringis Eka.
"Maaf,, maaf..." Ucap Karin menyesal.
"Eka, kamu kenapa?" Tanya tuan Abdi.
"Maaf tuan, tadi saat saya sedang ingin melihat sesuatu di jalanan tiba-tiba saya melihat non Karin seperti di kejar-kejar orang" jelas Eka menatap tuan besarnya.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya nyonya Indira.
"Saya nggak papa nyonya, untung tadi non Karin memanggil security jadi ada yang membantu mengusir preman itu" kelas Eka lagi.
"Preman?" Tanya Gita kaget. Gita langsung melihat ke arah sahabatnya. "Lo di kejar preman Rin?" Tanya Gita.
"Gue...."
"Tapi Lo ngga apa-apa kan?" Tanya Gita khawatir. Ia langsung memeluk Karin.
"Gue ngga apa-apa kok" jawab Karin mengelus lengan Gita yang ada di dadanya.
__ADS_1
"Syukurlah.." ucap Gita.
"Ya sudah kita pulang saja. Kita obati luka kamu di rumah" ucap tuan Abdi.
"Baik tuan"
"Karin ikut ke rumah ya om, besok Karin mau joging bareng Gita" pinta Karin.
"Ya baiklah, ayo naik ke mobil" perintah tuan Abdi.
Eka pun berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil majikannya. Dan saat ia ingin membuka pintu kemudi ternyata disana sudah ada tuan Abdi.
"Tuan, kenapa tuan disini?" Tanya Eka.
"Tentu saja untuk menyetir" jawab tuan Abdi.
"Biar saya saja tuan"
"Eka, biarkan tuan besar yang menyetir mobilnya. Lihat kondisi kamu" ucap nyonya Indira dari jok belakang.
"Tapi nyonya.."
"Duduk di sebelah saya atau saya tinggal...?" Tanya tuan Abdi menatap Eka.
Eka pun langsung membuka pintu mobil dan duduk di sebelah tuan Abdi. Karin yang melihat itu tersenyum lucu. Dia memeluk Gita dari samping.
"Lo beneran jalan kaki?" Tanya Gita melihat Karin.
"Iya, gue pengen menikmati suasana malam. Udah lama banget kan gue ngga keluar kayak gini. Taunya gue salah jalan" sesal Karin.
"Lain kali jangan seperti ini ya Rin, kalau orang tua kamu tau mereka pasti khawatir" ucap nyonya Indira.
"Iya Tante, maafin Karin ya" ucap Karin menyesal menatap ke arah nyonya Indira.
"Iya enggak papa, yang terpenting sekarang kamu udah selamat" ucap nyonya Indira tersenyum.
***
Di waktu yang sama di restoran cantik, di kelas VIP.
"Bryan kenapa kau membawa kakek ke tempat seperti ini?" Tanya tuan Kurnia kepada cucunya.
"Tentu saja untuk makan" jawab Bryan santai.
"Apa kau lupa jika kakek mu ini suka makan di tempat yang menyediakan menu berat seperti nasi. bukan malah makanan seperti seperti ini" ucap tuan Kurnia memandang ke arah meja yang berisi berbagai makanan barat.
"Kakek, sesekali harus makan disini. Uang kakek banyak bukan untuk apa jika bukan untuk mentraktirku makan"
__ADS_1
"Dasar bocah" ucap tuan Kurnia memukul kepada Bryan dengan sendok.
"Aduh .. kek aku bukan anak kecil lagi" ucap Bryan mengusap kepala yang baru di pukul kakeknya.
Untung saja ruangan yang di gunakan adalah ruangan khusus orang kaya jadi tidak ada yang melihat kejadian barusan. Jika saja sampai ada yang melihat maka Bryan akan kehilangan muka nya. Seorang pengusaha yang berjiwa dingin seperti Bryan di pukul sendok oleh sang kakek. Huh membayangkan itu Bryan bergidik ngeri..
"Baiklah kek. Jika sudah selesai kita pulang." Ucap Bryan
"Ya."
Mereka pun membayar kepada waiters lalu segera meninggalkan restoran ini.
***
"Santi, kau kenapa? Sejak siang tadi kau terlihat gelisah?" Tanya Angga.
Semenjak makan siang tadi Santi menjadi seperti orang yang banyak fikiran. Sering melamun dan seperti tidak bersemangat.
"Tidak apa-apa mas, ayok kita tidur mas. Sudah hampir larut malam" jawab Santi.
Santi pun bersiap tidur. Angga meskipun heran namun juga tetap mengikuti Santi yang sudah mulai terlelap.
Pukul 23.35
Drrrtt..... Drrrtt....
Santi mengerjapkan matanya saat mendengar handphone nya yang ada di atas nakas bergetar. Tangan Santi pun bergerak ingin mengambil handphone itu untuk melihat siapa yang menelpon dirinya malam-malam begini.
Mata Santi langsung terbuka lebar saat melihat siapa yang menelepon dirinya. Santi melihat ke arah Angga yang sudah tidur lelap sekali. Ia pun pelan-pelan turun dari ranjang dan keluar ke balkon kamar.
"Deka,,, kemana saja kamu. Mengapa tidak membalas pesanku" ucap Santi pelan namun nadanya terlihat kesal.
"Maaf sayang. Aku hari ini sungguh banyak pekerjaan" jawab seseorang dari seberang.
Sementara saat ini di sebuah hotel bintang 5. Seorang pria yang menelpon Santi sedang duduk di sofa yang ada di kamar itu. Ia menatap perempuan yang saat ini sedang tertidur lelap.
"Tadi siang kau dengan siapa hah? Aku melihat mu sedang bersama seorang wanita?" Tanya Santi dari seberang.
Deka terlihat kaget, namun ia nampak tenang. "Sayang aku adalah pria tampan sungguh wajar jika banyak wanita yang mendekati ku" ucap Deka.
"Aku sudah mentransfer uang di rekening mu sebagai permintaan maaf karena hari ini aku mengabaikan mu" ucap Deka lagi.
Deka melihat perempuan yang malam ini menemani dirinya sedang menggerakkan tangannya mencari keberadaan diri Deka.
"Sayang sudah dulu ya, sudah larut kau beristirahatlah"
Tanpa menunggu jawaban Santi Deka sudah memutuskan sambungan telepon.
__ADS_1
Di tempat Santi, Santi segera mengecek aplikasi bank yang ada di hp nya. Dan memang benar ia baru saja menerima sejumlah transferan uang. Santi tersenyum lebar melihat nominal yang baru ia terima. Ia pun segera masuk ke kamar kembali dan melanjutkan tidurnya.