CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 94


__ADS_3

"Dahlia, kamu tau kan. Beberapa hari lagi acara penting buat Gita. Gita itu sahabat aku, aku pengen bikin kue spesial buat Gita. Tapi aku ngga bisa bikin kue" ucap Karin tiba-tiba.


Saat ini Karin dan Dahlia sedang ada duduk di bangku taman yang ada di samping rumah Wijaya. Dahlia menatap heran ke arah Karin, lalu apa yang bisa ia lakukan.


"Kamu bisa bantuin aku ngga?" Tanya Karin menatap Dahlia dengan tersenyum lebar.


"Bantu? Bantuin apa mbak?" Tanya Dahlia.


Karin pun berdecak ketika Dahlia tidak paham jika ia ingin meminta bantuannya.


"Bantu aku bikin kue. Buat acara pertunangan Gita sama kak Bryan nanti" ucap Karin antusias. Karin bahkan menggenggam tangan Dahlia secara spontan.


Melihat ekspresi Karin, akhirnya Dahlia pun mengangguk setuju.


"Makasihh..." Seru Karin langsung memeluk Dahlia.


Dahlia terkejut dengan tindakan Karin, namun ia pun membalas pelukan Karin. Dahlia merasa terharu, seorang gadis kaya mau berbicara bahkan memeluk gadis dari panti asuhan seperti dirinya.


***


"Mama mau beli apa?" Tanya Santi kepada sang Mama.


"Mama inget dulu Gita suka banget sama aksesoris. Mama mau belikan dia satu set perhiasan" jawab nyonya Indri.


Santi pun mengikuti langkah kaki sang Mama menuju ke arah dimana banyak etalase yang memamerkan berbagai macam bentuk perhiasan emas. Sembari mendorong stroller Santi melihat sekeliling dimana terdapat banyak sekali perhiasan. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah gelang couple berwarna silver. Gelang itu.....


"Santi, kita beli gelang ini yuk. Gelang ini couple" ucap Gita kepada Santi dengan antusias. Kala itu mereka masih bersahabat baik. Bahkan saat mereka datang ke toko itu mereka mengenakan baju yang sama.


Santi melirik ke arah gelang yang di tunjuk oleh Gita. Waktu itu keuangan keluarga Santi sedang menurun. Bahkan ayahnya juga sedang di rawat di rumah sakit. Santi menatap wajah Gita yang tak berhenti tersenyum sembari menatap gelang silver couple di dalam etalase. Sebenarnya Santi tidak tega, namun keadaan keluarganya membuat ia harus menolak keinginan Gita.


"Git, sorry banget ya... Gue ngga bisa. Lo kan tau, keuangan keluarga gue lagi down" ucap Santi sedih.


Gita menggenggam kedua tangan Santi kemudian menatap Santi.


"Kita sahabat, gimana kalau aku yang beli, aku kasih kamu satu" saran Gita.

__ADS_1


Santi langsung menggeleng keras. "Enggak Git, gue ngga bisa. Lo udah banyak bantu gue. Please. Gue ngga enak sama lo" tolak Santi.


"Santi..."


"Git,,, please...."


Gita akhirnya menganggukkan kepalanya dan menarik tangan Santi untuk meninggalkan toko itu tanpa membeli apapun. Sebelum keluar dari pintu, Gita sempat menoleh kembali ke arah etalase dan Santi yang melihat itu hanya bisa menunduk sedih.


"Santi!" Tepukan di bahu Santi mengagetkan dirinya yang sedang menyelam ke masa lalu.


Nyonya Indri melihat ke arah mana mata Santi, kemudian ia tersenyum.


"Kamu mau gelang itu? Ambil, biar Mama yang bayar" ucap nyonya Indri.


Santi pun berjalan dan mengambil gelang silver couple yang dulu sangat di inginkan oleh Gita. Santi menggenggam gelang itu, matanya berkaca-kaca. Kini semua telah berubah ketika ia sudah mampu membeli gelang itu, persahabatan mereka telah hancur. Dan Santi sendirilah yang menghancurkan persahabatan antara dirinya dan Gita.


Santi dan nyonya Indri pun menuju kasir untuk membayar perhiasan yang telah di beli. Sekaligus meminta agar di bungkus kan langsung sebagai hadiah nanti.


Saat mereka sedang berada di kasir dan tengah memperhatikan seorang pekerja yang dengan lihai membungkus perhiasan tadi seseorang yang di kenal Santi juga datang untuk membayar.


"Mama" sapa Angga kemudian menghampiri nyonya Indri dan menyalaminya.


Tina pun dengan bahagia menepuk-nepuk pipi Angga yang hendak menciumnya. Bayi perempuan itu ternyata sudah bisa mengenali wajah Angga.


"Kau disini Angga?" Tanya nyonya Indri. Angga pun kemudian berdiri dan menatap mantan ibu mertuanya.


"Iya Ma... Angga membeli sesuatu" jawab Angga.


Nyonya Indri pun tersenyum dan mengangguk mengerti.


"Terima kasih mbak" ucap Angga sembari menerima barang yang sudah di bungkus dengan plastik.


"Angga duluan Ma" ucap Angga kemudian berlalu meninggalkan nyonya Indri.


Santi hanya terpaku menatap punggung Angga yang sudah hampir keluar dari toko tersebut. Santi menghela nafas pelan, ada rasa kecewa di hatinya ketika Angga enggan menyapa dirinya bahkan menatap pun tidak.

__ADS_1


"Ayok," seru nyonya Indri mengagetkan Santi.


"Sudah selesai ini. Makasih ya mbak" ucap nyonya Indri ramah.


Santi pun mengikuti sang Mama untuk keluar dari toko itu.


***


"Inget, jangan capek-capek. Besok kamu harus tetep fit" ucap Bryan kepada Gita.


Gita pun mengangguk dan tersenyum menatap sang kekasih hati.


"Aduh,,, please deh ya.. kalau mau pamer kemesraan jangan disini" seru Karin membuat Gita terkekeh geli.


"Kamu mau kayak gitu yank?" Tanya Aldo yang ada di samping Karin.


"Apa?" Tanya Karin menatap Aldo.


"Tunangan. Kayak Bryan sama Gita" jawab Aldo.


"Aku pikir-pikir dulu deh ya" jawab Karin kemudian beranjak dan meninggalkan Aldo.


"Yaankk..!!!" Seru Aldo kemudian menyusul Karin yang tengah menjulurkan lidahnya ke arah Aldo.


Gita yang melihat itu pun tertawa, sementara Bryan hanya tersenyum tipis sembari memandang wajah Gita yang terlihat semakin cantik ketika sedang tertawa.


Tawa Gita langsung lenyap ketika ia sadar bahwa Bryan tengah memandangi nya. Seketika wajah Gita langsung kemerahan dan ia pun memalingkan wajahnya.


"Kenapa?" Tanya Bryan meraih dagu Gita dan membuat Gita menatap kearahnya.


Bryan menatap wajah Gita lamat-lamat. Sungguh indah pahatan Tuhan di hadapannya ini. Bibir ranum, alis tebal. Hidung yang tidak terlalu mancung namun tidak juga pesek. Pipi yang sedikit chubby dan bersemu merah ketika sang empu merasa malu.


"Kamu cantik" ucap Bryan membuat jantung Gita berada ingin lepas dari tempatnya.


"Udah dong.... Jangan bikin aku iri!!!" Seru Karin lagi. Kali ini ia bersender di dinding sembari melihat ke arah Gita dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Gita pun langsung melepaskan diri dan berlari menghampiri Karin. Tanpa mengatakan apapun Gita langsung menarik Karin menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Sementara Bryan yang melihat kekasihnya tengah malu hanya tersenyum tipis.


Bryan pun beranjak dan ingin masuk ke kamar, ketika ia sudah hampir masuk kamar tanpa sengaja ujung matanya melihat seseorang sedang melakukan sesuatu dan sedang berbicara melalui panggilan telepon. Bryan yang penasaran pun menghampiri orang itu dan ketika sudah dekat...


__ADS_2