
Angga berangkat ke kantor dengan lesu. Sudah tidur larut malam ia juga bangun kesiangan dan tidak ada sesuatu pun yang bisa di makan untuk sarapan. Ia kesal sekali, kenapa juga istrinya itu tidak pulang. Biasanya Santi lah yang selalu membangunkan dirinya dan saat sudah bangun dan hendak ke kantor sarapan pun sudah siap di atas meja. Dan pagi ini dirinya seperti terkena sial, bangun kesiangan tidak sarapan ditambah jalan yang sedikit macet.
Angga melihat ke arloji yang ada di pergelangan tangannya, matanya melotot saat jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi. Sudah dapat di pastikan bahwa ia pasti terlambat ia melihat kedepan jalanan masih macet mungkin karena hari ini hari Senin dan dia yang berangkat terlalu siang.
Terpotong sudah gaji nya bulan ini, belum lagi karena Angga yang sering absen.
"Ya sudah lah, jalanan macet. Telat paling cuma tiga puluh menit doang" ucap Angga bermonolog.
Di sisi lain di bandara,
"Kamu yakin mau mengambil alih perusahaan itu?" Tanya pria paruh baya kepada putranya.
"Bryan yakin pa, lagipula perusahaan itu sudah terlalu lama di pegang oleh orang lain. Meskipun itu orang kepercayaan papa, tapi papa lihat sendiri perusahaan itu tidak berkembang sama sekali" ucap Bryan kepada pria yang di panggil papa
"Pa, sudahlah percaya sama anak kita" ucap istri dari paruh baya itu.
"Kamu yakin kamu kesana karena ingin mengambil alih perusahaan?"
"Kenapa papa tanya gitu?" Bryan mengerutkan keningnya
"Bukan karena Gita" tanya papanya menatap intens Bryan.
"Pa, meskipun itu juga menjadi salah satu alasan Bryan kesana. Tapi perusahaan adalah tujuan utama Bryan" jelas Bryan. Berharap papa nya akan mengerti.
"Sudahlah pa, biarkan Bryan melakukan apa yang ingin di lakukan. Anak kita sudah besar. Sudah bisa menentukan pilihannya sendiri dan Bryan pasti tau mana yang terbaik untuk dirinya dan mana yang tidak" jelas sang istri mengelus lembut lengan suaminya.
"Mama memang yang mengerti Bryan" Bryan pun memeluk mama nya dan mencium pipinya. Sedangkan sang mama mencium kening putra nya itu.
"Ya sudah Bryan berangkat ya ma,pa" pamit Bryan
__ADS_1
"Iya sayang. Kalau sudah sampai sana kabarin mama sama papa ya" ucap sang mama.
Bryan pun melangkahkan kakinya menuju ruang tunggu di bandara. Ia sudah memerintahkan Romy untuk ikut dengannya dan membawa koper nya.
"Gita, sebentar lagi kita bertemu" ucap Bryan pelan menatap ke arah luar
"Tuan, semua barang sudah siap" kata Romy tiba-tiba
Romy justru mendapat tatapan tajam dari Bryan. Saat ini Bryan sedang melamunkan pujaan hatinya tapi justru di ganggu oleh Romy.
'apa lagi salahku' batin Romy
"Tuan, mari kita masuk ke pesawat sebentar lagi pesawat akan berangkat" ucap Romy mencoba mengalihkan perhatian Bryan. Bryan pun berjalan tanpa menoleh kepada Romy, Romy pun mengikutinya dari belakang.
Setelah melihat pesawat yang di naiki Bryan perlahan terbang. Orang tua Bryan pun segera berbalik hendak pulang. Hingga tiba-tiba...
"Om.. Tante..." Seru seorang wanita.
"Tante Bryan udah berangkat" tanya wanita itu.
"Sudah si, baru saja. Tuh pesawatnya" jawab mama Bryan menunjuk pesawat yang kini sudah terbang ke langit.
"Yahh,, Tante kok ngga bilang sih kalo Bryan mau pergi."
"Ini juga mendadak. Kami juga baru tau tadi pagi saat Bryan pamit. Sudah ya sisi, om dan Tante mau pergi ke perusahaan dulu" kata papa Bryan.
Orang tua Bryan pun pergi dan meninggalkan wanita bernama Sisi itu sendiri. Sedangkan Sisi menghentakkan kakinya persis seperti seorang anak kecil. Lalu ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kakek..." Ucap Sisi dibuat sok sedih
__ADS_1
"Kenapa sayang" jawab seseorang dari sana yang sepertinya sudah sangat tua
"Bryan pergi tapi ngga ngajakin aku. Bryan juga ngga pamit sama aku. Huaa" ucap Sisi seperti menangis.
"Sudah, kamu tenang ya. Nanti kakek pesankan sebuah pesawat biar kamu bisa nyusul Bryan"
"Benar kek"
"Tentu saja"
"Terima kasih kek"
Sisi pun mengakhiri sambungan teleponnya lalu menghapus kasar air mata yang sengaja ia keluarkan. Ia tersenyum miring, dia sudah berjuang sampai di titik ini maka dia juga tidak akan membiarkan Bryan pergi dari hidup nya lagi. Sisi mengepalkan tangannya mengingat wajah wanita yang membuat Bryan sama sekali tidak meliriknya. Ia benci, jangan sampai Bryan kembali mencari wanita yang telah mencuri kebahagiaannya. Sisi pun pergi dari bandara dan segera menuju ke suatu tempat.
Di sisi lain, di rumah mewah milik kakek Bryan. Kakek Kurnia, nama kakek Bryan. Lelaki yang sudah berumur enam puluhan lima tahun, namun karena pola hidup yang sehat membuat ia masih terlihat sangat muda. Pria itu masih terlihat gagah dengan setelah jas yang kenakan saat ini. Pria itu hendak ke perusahaan untuk menemui seseorang. Ia sangat marah saat mendengar kabar bahwa Bryan pergi ke kota itu lagi. Sudah susah payah ia memisahkan Bryan dengan wanita itu jadi jangan sampai Bryan menemui wanita itu lagi.
"Denan, siapkan mobil, kita ke perusahaan" ucap pria itu kepada supirnya, Denan.
Denan pun segera meluncur ke garasi mobil yang ada di parkir bawah tanah. Ia menyiapkan mobil yang biasa di pakai oleh tuannya. Sementara tuan Kurnia berjalan ke depan untuk menunggu supirnya.
"Silahkan tuan" ucap Denan setelah membukakan pintu untuk tuannya.
Tuan Kurnia pun segera masuk dan di susul oleh Denan. Mobil pun berjalan menuju perusahaan miliknya yang saat ini di kelola oleh putra nya, tuan Arya.
***
Santi sampai di rumah sudah pukul sebelas siang. Karena setelah mandi tadi ia kembali tertidur, semalam ia hanya tidur beberapa jam saja karena aktivitas panas yang ia lakukan bersama sang kekasih. Ia pun segera masuk ke dalam rumah untuk membersihkan badan kembali. Jangan sampai bekas merah yang ditinggalkan oleh kekasihnya di ketahui oleh suaminya.
Setelah selesai mandi dan berganti baju. Santi pun bersiap membuat makan siang untuk suaminya. Santi pun menyiapkan bahan-bahan masakan yang akan ia buat. Ia berencana memasak sop ayam yang cepat. Karena waktu makan siang sudah hampir tiba. Ia pun segera meracik bumbu-bumbu dan setelah beberapa saat sop ayam buatannya pun sudah selesai di masak.
__ADS_1
Santi pun mengambil nasi yang sebelumnya sudah ia masak terlebih dahulu, ia memasukkan nasi ke sebuah rantang bertingkat dua. Rantang bawah ia isi nasi dan rantang kedua ia isi sop ayam yang ia campur dengan kentang.
happy reading semua... jangan lupa beri like dan vote agar author lebih semangat update