CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 106


__ADS_3

"Minggir!" Ucap Gita mendorong tubuh Bryan dengan kasar.


Bryan pun menggeser tubuhnya agar sang istri bisa menduduki kursi miliknya. Biasanya jika itu orang lain jangan kan menduduki di sentuh sedikit saja Bryan sudah pasti akan murka. Namun karena saat ini yang menduduki adalah sang ratu dalam hati dan hidupnya maka ia pun tidak marah. Bryan justru jongkok di lantai agar ia bisa menatap wajah sang istri.


"Sayang ... Aldo itu mengatakan tentang kehamilan tentu saja kehamilan mu" ucap Bryan sangat lembut. Takut jika Gita akan merasa kesal.


"Aku ngga hamil" jawab Gita cepat.


"Akhir-akhir ini kakak lihat kamu sedikit aneh..."


"Jadi menurut kakak aku aneh? Udah lah.. aku mau pergi aja!" Seru Gita kemudian beranjak.


"Sayang.. jangan begini dong. Dengerin kakak dulu" seru Bryan langsung memeluk tubuh bagian bawah Gita akan tidak bisa berjalan.


Gita pun menarik nafas panjang namun kemudian tetap duduk kembali.


"Kakak rasa akhir-akhir ini ada yang berbeda dari kamu. Seperti saat kamu mengajak makan bakso" ucap Bryan sembari membelai lembut pipi Gita membuat Gita memejamkan matanya.


"Apa yang aneh dari makan bakso?" Tanya Gita membuka matanya dan menatap lekat iris mata hitam milik Bryan.


"Tentu saja tidak ada yang aneh, tapi.. yang kamu makan bakso sapi yank, selama ini kamu ngga suka bakso sapi. Kemarin itu untuk yang pertama kalinya" jelas Bryan.


Gita pun meraih jemari Bryan yang masih ada di pipinya. Gita terdiam sembari menggenggam tangan hangat milik sang suami itu. Gita baru sadar jika memang itu adalah hal yang aneh. Biasanya jika menghirup kuah bakso sapi ia akan mual bahkan sampai muntah. Namun kemarin ia dengan lahap makan bakso sapi dan tidak berefek apapun pada tubuhnya.


"Kakak beliin aku alat buat tes kehamilan dong" perintah Gita.


"Tapi sayang, kakak ngga tau beli nya dimana" alibi Bryan. Bagaimanapun ia akan merasa malu jika pegawai apotek melihat seorang bos muda seperti Bryan membeli sebuah alat tes kehamilan.


"Bilang aja kalo ngga mau. Udah lah aku juga bisa kok beli sendiri" ucap Gita kesal kemudian meraih tas jinjing nya dan beranjak.


"Iya.. iya sayang. Kakak akan beli kan. Tapi kamu tetap disini ya, tunggu sampai kakak kembali" ucap Bryan mengalah.

__ADS_1


"Okey... Belikan aku juga buah dan donat ya kak" ucap Gita tersenyum sangat manis dan mengecup singkat bibir Bryan.


Mendapat perlakuan manis dari Gita akhirnya Bryan pun luluh dan menganggukkan kepalanya.


***


"Ciiee pengantin baru, siang-siang gini rambutnya basah" goda nyonya Indri kepada Santi.


Dari pagi sampai sekarang menjelang siang baru sekarang putrinya itu keluar kamar, dan dengan keadaan rambut basah pula.


"Apa sih Ma" sungut Santi merasa malu. Santi pun duduk di meja makan dan menuangkan air putih dalam gelas lalu meminumnya hingga tersisa setengah.


"Emang ngga laper apa, baru keluar kamar jam segini?" Tanya sang Mama nya lagi sembari meletakkan mangkuk berisi sup.


"Laper banget lah Ma... Tapi mau gimana lagi Deka aja..." Belum sempat Santi menyelesaikan kalimatnya sudah ada suara yang membuatnya merasa lebih malu.


"Sayang, kok kamu udah mandi sih. Aku kan masih pengen" ucap seseorang yang tak lain adalah Deka.


"Ekheem...." Dehem nyonya Indri membuat Deka menoleh ke arah sang mertua.


Mata Deka membola lebar ketika ia baru menyadari bahwa di ruangan itu tidak hanya sang istri, namun juga sang mertua.


"Hheee.... Maaf Ma" ucap Deka menggaruk keningnya yang mungkin tidak terasa gatal. Setelah itu Deka pun langsung naik kembali ke lantai atas.


"Makanlah dulu, kau pasti lelah" ucap nyonya Indri memberikan piring kosong kepada Santi.


"Makasih Ma.." ucap Santi menerima piring itu dan mengisi nya dengan secentong nasi.


"Papa kerja Ma" tanya Santi menyuapkan satu sendok makanan.


"Iya." Jawab sang Mama ikut duduk di bangku yang bersebrangan dengan Santi.

__ADS_1


"Tina?"


"Tina sama sus nya" jawab sang Mama.


Santi pun menganggukkan kepalanya dan kembali makan dengan lahap. Bagaimana pun tenaga nya habis terkuras karena di gempur habis-habisan oleh sang suami. Bukan hanya semalam setelah mandi sholat subuh pun Deka masih meminta kembali.


Melihat putrinya makan dengan lahap membuat nyonya Indri menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Bagaimana pun ia juga pernah muda dan merasakan sebagai pengantin jadi ia hanya maklum melihat kelakuan anak dan mantu nya itu. Yang terpenting adalah mereka akan selalu bahagia.


***


"Aku beneran... Hamil?" Gumam Gita dengan mata berkaca-kaca.


Di tangan nya terdapat benda pipih yang biasanya di gunakan untuk mengetes kehamilan. Jika garis yang tertera hanya satu maka itu berarti belum hamil dan sekarang jelas terlihat dua garis dalam alat itu.


Gita membungkam mulutnya yang mulai terisak. Ia hamil? Ini adalah berita yang sangat membahagiakan. Bagaimana bisa ia tidak merasakan kehadiran buah hati dalam perutnya ini. Dan justru sang suami yang menyadari itu pun di ingat kan oleh Aldo.


"Sayang...." Panggil Bryan dari luar. Lama sekali Bryan menunggu di depan pintu dan Gita tak kunjung keluar. Dengan mengetuk pintu Bryan kembali memanggil nama sang istri hingga pintu terbuka dan menampilkan wajah sang istri yang membuat Bryan heran.


"Sayang, bagaimana hasilnya?" Tanya Bryan memegang kedua pundak Gita membuat Gita menatapnya.


"Kak...." Tanpa mengatakan apapun Gita langsung menghambur ke pelukan sang suami dan menumpahkan air mata dalam dada bidang Bryan.


"Kenapa hem?" Tanya Bryan lembut mengusap rambut sang istri.


"Jika hasilnya masih negatif tidak apa. Kita masih memiliki waktu yang panjang. Lagipula baru lima bulan kita menikah" ucap Bryan mencoba menghibur sang istri.


Gita melepas pelukannya dan menyerahkan hasil tes nya kepada Bryan. Meskipun heran Bryan tetap menerima alat itu dan melihatnya dengan seksama. Tak lama ia menyadari sebuah hal yang mungkin membuat sang istri menangis.


"I...ini.. Kamu, sayang kamu beneran.." Bryan langsung memeluk Gita erat ketik Gita menganggukkan kepalanya pertanda bahwa apa yang ia lihat adalah hal yang baik.


"Selamat sayang" ucap Bryan menghujani Gita dengan ciuman lembut di seluruh wajah dan di puncak kepala. Setalah puas Bryan memeluk Gita dengan penuh cinta. Ia bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.

__ADS_1


__ADS_2