
"Bryan!!!"
Gita mengerutkan kening saat melihat seorang wanita memanggil nama Bryan. Gita menelisik wanita itu dari atas sampai bawah. Cantik. Tapi siapa?
Namun Gita tidak mau berfikir negatif, karena bisa saja itu adalah salah satu kolega atau klien Bryan.
Wanita itu terlihat menghampiri Bryan dan langsung duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Bryan. Wanita itu menatap Bryan seperti hendak mengatakan sesuatu, kemudian menatap ke arah Gita. Bryan yang menyadari tingkah laku wanita yang baru datang itu pun berniat mengusirnya.
Malam ini Bryan ingin menikmati makan malam bersama Gita. Namun mood baiknya sedikit rusak karena kehadiran wanita di sampingnya ini.
"Katakan. Ada perlu apa?" Tanya Bryan datar. Namun tatapan Bryan tak lepas dari Gita.
Wanita itu terlihat menelan ludahnya, seperti ragu dengan apa yang akan di ucapkan.
"Jika tidak ada yang penting, silahkan pergi" seru Bryan tegas dan dingin.
Dengan terpaksa wanita tadi pergi dengan perasaan kesal padahal belum mengatakan sepatah kata pun. Sebenarnya dia ingin mengatakan mengenai pertunangan antara dirinya dan Bryan. Namun karena ada Gita wanita itu jadi mengurungkan niatnya. Tapi, bisa saja dia mengatakan tentang pertunangan antara dirinya dan juga Bryan agar Gita sadar diri dan tidak mengganggu Bryan lagi. Namun entah kenapa melihat Bryan yang begitu lembut menatap Gita, dan begitu dingin terhadapnya dia menjadi ragu dan akhirnya memilih pergi. Padahal ini waktu yang tepat karena dia secara tidak sengaja bertemu dengan Bryan.
Setelah kepergian wanita tadi, Gita menatap Bryan yang masih menatapnya dengan lembut. Jemari Bryan bahkan terus menggenggam tangan Gita.
"Siapa wanita tadi?" Tanya Gita penasaran. Gita melihat ke arah tangan yang digenggam oleh Bryan, bisa saja Gita melepaskannya tapi entah kenapa perasaan hangat saat tangan itu di genggam oleh Bryan mampu membuat Gita merasa nyaman.
Bryan tersenyum hangat, ia menguap jari tangan Gita dengan lembut.
"Dia bukan orang yang penting" jawab Bryan lalu membawa tangan Gita untuk di cium nya.
__ADS_1
Hal itu sontak membuat pipi Gita bersemu merah. Bisa di pastikan bahwa jantung Gita sudah berolahraga dan ingin pergi dari tempatnya. Dag dig dug perasaan Gita saat ini.
"Permisi... Pesanan anda sudah siap" ucap seorang pelayan pria dan wanita yang masing-masing membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman.
Bryan menatap kesal ke arah dua pelayan yang sedang meletakkan makanan dan minuman di meja. Sungguh mengganggu adegan romantis yang telah di ciptakan oleh Bryan. Gita tersenyum diam-diam saat melihat ekspresi Bryan yang kesal. Bahkan sampai kedua pelayan itu pergi Bryan masih memberikan tatapan tajamnya.
"Kak..." Panggil Gita membuat Bryan menoleh ke arah Gita. "Yuk di makan" ajak Gita.
Gita pun mulai mengaduk dan menyeruput cappucino latte yang tak tersedia di dalam gelas, warnanya yang coklat membuat Gita tergoda untuk langsung meminumnya. Gita tersenyum saat minuman itu masuk ke dalam tenggorokannya dan ia merasakan rasa yang sangat di sukainya. Manis dan dingin. Lumayan, bisa sedikit mengobati kegugupannya saat ini. Gita lalu melihat ke arah menu makanan yang telah di sajikan.
Ternyata menu spesial di restoran ini adalah aneka seafood, terlihat jelas di hadapan Gita saat ini ada sepiring lobster berukuran jumbo yang di masak menggunakan saus tiram di sajikan dalam piring dengan di taburi oleh seledri yang di iris tipis sekali. Ada juga sepiring menu kerang mix jagung, dari tampilannya sangat menggoda untuk di nikmati. Dan yang terakhir adalah kepiting saus tomat yang berwarna merah menggoda.
Gita menelan saliva nya saat meneliti satu per satu menu makanan di hadapannya itu, sementara Bryan hanya menatap Gita sambil sesekali menyesal cappucino latte miliknya. Niatnya Bryan akan membiarkan Gita makan terlebih dahulu, namun melihat Gita hanya menatap makanan itu membuat Bryan mengerutkan keningnya.
"Emang disini ada.... Menu sayuran..??" Tanya Gita pelan di sertai cengiran khas nya. Sedangkan Bryan hanya tersenyum.
Bryan kemudian memanggil seorang waiters kembali.
"Saya ingin makanan di meja ini di ganti dengan menu sayuran dan daging ayam saja" ucap Bryan membuat pelayan wanita itu bingung.
"Apakah tuan dan nona tidak menyukai makanan ini?" Tanya pelayan wanita itu.
"Ohh, engga mba.." ucap Gita melambaikan kedua tangannya untuk meyakinkan pelayan wanita itu.
"Saya tidak terlalu suka dengan makanan laut, apakah bisa di ganti dengan menu sayuran dan daging ayam saja" jelas Gita.
__ADS_1
Pelayan wanita itu pun tersenyum kemudian menatap Bryan dan Gita bergantian.
"Bisa, tolong tunggu. Tapi bagaimana dengan makanan ini tuan" tanya pelayan wanita itu. Dia takut di pecat jika sampai makanan itu tidak jadi di bayar.
"Kau bisa membawanya kembali dan membagikannya kepada temanmu, kau tenang saja. Makanan ini tetap aka di bayar" ucap Bryan tanpa menoleh. Tatapannya justru mengarah ke wajah Gita yang malam ini terlihat begitu cantik dan manis. Membuatnya tak bosan untuk terus memandang.
Pelayan wanita itu menatap Bryan kemudian mengedarkan pandangannya ke arah restoran dan saat ada salah satu teman yang melihatnya, pelayan wanita itu langsung melambaikan tangannya memberi isyarat agar temannya itu menghampirinya.
"Bawa aku membawa kembali makanan ini" ucap pelayan itu kepada temannya.
"Kenapa??" Tanya temannya bingung.
"Sudah bawa saja. Nanti aku jelaskan" ucap pelayan tadi dan membawa dua piring makanan seafood di tangannya. Mereka pun kemudian berlalu setelah menundukkan kepalanya kepada Bryan dan Gita.
Di dapur restoran itu, kedua pelayan tadi kembali membawa beberapa piring yang berisi menu seafood. Mereka berdua meletakkan makanan itu di meja dapur. Seorang chef yang biasa memasak di restoran itu menghampiri mereka berdua dan menatapnya heran.
"Kenapa?" Tanya chef itu menatap ke arah mereka.
Pelayan yang tadi melayani Bryan pun menjelaskan alasan kenapa makanan itu di bawa kembali. Dan setelah mendengar penjelasan itu chef pun langsung memasak kembali menu yang di inginkan oleh pelanggannya itu. Bisa di pastikan bahwa pelanggannya ini adalah orang kaya karena semudah itu meminta menu baru dan tetap membayar menu yang telah di pesannya.
"Kakak ngga keberatan? Itu mahal loh" ucap Gita memandang Bryan.
Orang kaya mah bebas, begitu fikir Gita saat melihat Bryan begitu mudah meminta ganti menu padahal makanan tadi belum di sentuh sama sekali.
"Aku orang kaya, tenang saja" jawab Bryan mengangkat kedua alisnya dan tersenyum jahil ke arah Gita, sedangkan Gita hanya mendengus kesal.
__ADS_1