CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 98


__ADS_3

"Jadi anak Santi ini sebenarnya adalah anak kandung mu?" Tanya Romy kepada Deka, Romy tampak menciumi pipi gembul Tina.


"Ya, sebenarnya sebelum menikah dengan Angga aku sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan Santi" jawab Deka. Romy pun hanya mengangguk mengerti.


"Kau ingin menggendongnya?" Tanya Deka pada Romy yang terlihat seperti menyukai Tina.


"Apakah boleh?" Tanya Romy.


"Tentu saja"


Deka pun menyerahkan baby Tina kepada Romy. Tina pun langsung tersenyum dan menepuk-nepuk pipi Romy. Romy yang gemas pun menciumi pipi Tina dan membuat Tina tertawa.


"Lihatlah, Tina bahkan juga menyukai mu" seru Andre.


"Tapi tidak ada gadis yang menyukai nya" sahut Bryan dengan tatapan mengejek ke arah Romy.


Romy pun hanya menatap sinis ke arah bos nya itu kemudian mengajak Tina bercanda..


***


"Jadi kemarin Santi nelpon gue kan, ngajak ketemu. Awalnya gue nolak, gue marah lah. Gue inget gimana dia bikin lo sedih waktu itu, gue benci banget." Ucap Karin menatap Santi, Santi pun tersenyum getir mendengar ucapan Karin.


"Tapi pas dia ngotot buat ketemu dan jelasin kalo dia mau minta maaf sepenuhnya sama lo, akhirnya gue setuju buat ketemu sama dia." Lanjut Karin menatap Santi dan Gita bergantian.


"Jadi kalian ketemu kemarin?" Tanya Gita.


"Iya, walaupun pas ketemu ngga bahas apapun. Cuma Santi nanya alamat rumah lo" jawab Karin kemudian meminum jus alpukat.

__ADS_1


Gita pun menganggukmengerti.


"Dimakan San, kamu kan lagi menyusui jadi butuh banyak asupan" ucap Gita memberikan piring berisi aneka kue kepada Santi.


Santi menerima piring itu dan mengambil satu macam kue keju kesukaannya.


"Ini buat lo" ucap Santi memberikan satu potong roti coklat kepada Gita.


"Makasih" jawab Gita.


Mereka bertiga pun memakan makanan yang ada di atas meja bersama-sama. Tidak ada ekspresi kebencian yang di tunjukkan oleh Gita maupun Karin. Mereka adalah wanita-wanita bijaksana. Bukankah memaafkan lebih baik daripada memendam kebencian. Karena sekalipun membenci masa lalu akan tetap jadi masa lalu.


"Dimana putrimu?" Tanya Gita.


Santi pun melihat sekeliling dan seketika tersenyum ketika melihat Bryan sedang menggendong putrinya.


Tak jauh dari mereka Bryan sedang bercanda dengan baby Tina. Dan baby Tina pun terlihat tertawa-tawa gembira. Bibir Gita langsung tersenyum melihat pemandangan itu. Bryan yang dingin ternyata bisa bercanda dengan seorang bayi.


***


"Berikan satu gelas lagi" ucap Angga di meja sebuah bar yang cukup terkenal di kota ini.


Kepalanya sudah ambruk di meja bar namun ia tetap masih ingin minum sesuatu yang memabukkan itu.


"Tidak tuan, anda sudah mabuk" ucap seorang pelayan yang bertugas menuangkan minuman yang membuat seseorang mabuk itu.


Merasa keinginan nya tidak di penuhi. Angga pun beranjak dan dengan sempoyongan mencoba keluar dari ruangan yang di penuhi dengan suara musik yang memekakkan telinga itu.

__ADS_1


Angga berhasil keluar dari tempat itu namun karena kondisi tubuhnya yang sudah mabuk ia pun terduduk lemas di pintu keluar ruangan itu. Angga menunduk, tak lama ia mendongak tersirat sebuah kesedihan bercampur penyesalan dari matanya. Tak lama buliran bening menetes di pipinya.


Angga mengingat rona bahagia Gita tadi siang, tepatnya disaat Gita menyematkan cincin di jari manis Bryan, pria sempurna yang memang sangat cocok dengan Gita. Angga meremas rambutnya kasar, air mata mengalir deras. Ia menyesali sebuah kebodohan yang dulu pernah di lakukan nya.


Jika saja dulu dia tidak tergoda dengan Santi dan berpaling dari Gita, pasti hari ini yang berdiri di samping Gita adalah dirinya dan bukannya ornah lain. Angga meratapi nasib baik yang tidak pernah berpihak kepadanya.


Sementara malam ini, adalah tepat dimana masa tunggu atau masa iddah Santi telah habis. Malam ini Deka memberanikan diri untuk menanyakan tentang perasaan Santi, akhirnya setelah sekian lama Deka bisa menyematkan cincin di jari manis wanita yang sejak dulu di cintainya. Deka dan Santi saling tatap dan menatap dengan penuh cinta.


Meskipun dulu Deka hanya di anggapnya sebagai pria yang bisa memenuhi has*rat nya namun sejak ia berpisah dengan Angga dia melihat sebuah ketulusan dimana Deka, terlihat cara Deka menyayangi putrinya. Dan sejak itu membuat jantung Santi berdetak lebih cepat ketika ia dekat dengan Deka.


Santi menatap haru ke arah Deka yang sedang memasangkan cincin di jari manisnya. Perlahan air mata jatuh di pipinya yang terpoles sedikit bedak. Deka yang melihat itu langsung mengusap pelan pipi Santi yang telah basah oleh air mata. Santi mendongak menatap Deka, Deka menggelengkan kepalanya pelan. Namun, bukannya berhenti tangis Santi semakin menjadi. Deka pun langsung membawa Santi ke dalam pelukannya.


Tak jauh dari mereka orang tua Santi pun mengusap sudut mata mereka yang juga berair. Sungguh, dulu disaat bersama Angga mereka tidak setersentuh ini. Dulu mereka melihat sebuah keterpaksaan dimata Angga ketika menikahi Santi. Namun kali ini, mereka melihat sebuah ketulusan di mata Deka. Cinta yang mempersatukan mereka.


Bahkan Gita dan Bryan pun ikut hadir dalam acara pertunangan Santi dan Deka.


***


Sementara jauh dari mereka, kini Sisi sudah memulai kehidupan barunya sebagai calon ibu. Usia kandungannya sudah mendekati sembilan bulan. Sisi lebih memilih hidup mandiri bersama sang suami yang ternyata adalah seorang pemilik restoran yang cukup terkenal di kota tersebut.


Meskipun awalnya mereka terlihat saling tidak menyukai karena mereka menikah karena di paksa oleh Bryan. Namun, setelah mereka sama-sama saling menerima dan terbuka akhirnya mereka memutuskan untuk saling mencoba membuka hati dan saling menerima.


Walaupun tidak mudah karena baik Sisi maupun suami nya bukan orang yang saling kenal pada awalnya. Namun karena ikatan pernikahan yang mereka jalani akhirnya benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Sisi.


Sisi pun juga sudah menerima nasibnya, Sisi tidak menyalahkan keadaan karena ia sudah menyadari kesalahan nya salam ini. Dan semua yang terjadi pada nya ia sepenuhnya menyadari bahwa mungkin ini adalah hukuman baginya.


Kini di rumah yang tidak cukup besar namun masih tergolong mewah Sisi tampak bahagia. Ia tersenyum tipis ketika melihat wajah seseorang yang dulu sangat di cintainya terlihat di layar televisi.

__ADS_1


Bryan dan Gita. Sisi tak lagi merasakan sakit ketika melihat Gita dan Bryan saling bertukar cincin. Ya, kini Sisi sudah ikhlas dan menyadari bahwa dirinya dan Bryan bukan lah dua orang yang di takdir kan untuk berjodoh.


__ADS_2