
Malam ini keluarga Bryan sedang makan malam. Suasana di meja makan sangat menegangkan karena tidak ada pembicaraan apapun. Nyonya Lana melirik ke arah suaminya yang sedang menyuapkan makanan ke mulut dan kemudian melirik Bryan yang hanya mengaduk-aduk makanan di piring.
"Bryan..." Panggil sang Mama. Bryan pun menoleh ke arah sang Mama. Begitu pula dengan ayah dan kakeknya.
"Apakah makanannya tidak sesuai selera mu? Kenapa kau hanya mengaduk-aduk makanannya?" Tanya nyonya Lana lembut.
"Bryan sudah kenyang Ma.. Bryan mau istirahat dulu.." jawab Bryan lalu beranjak dan naik ke atas menuju kamarnya.
Nyonya Lana hanya menghembuskan nafasnya, bagaimana bisa Bryan berkata kenyang padahal makanannya masih utuh. Wanita cantik itu sungguh tidak terbiasa dengan keadaan makan malam yang tidak biasa seperti ini.
"Papa kenyang Ma, Papa mau ke ruang kerja dulu" ucap sang suami. Nyonya Lana melirik ke arah piring yang ternyata masih menyisakan begitu banyak makanan. Nyonya Lana ingin mencegah sang suami namun ternyata suaminya itu sudah berjalan menjauh.
Nyonya Lana pun memandang piring di depannya dengan malas. Sebenarnya menu malam ini adalah menu kesukaan putranya. Namun, ternyata putranya sama sekali tidak mencicipi sedikit pun makanan itu. Nyonya Lana pun menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya dan mengunyah dengan pelan. Namun baru sesuap wanita itu sudah merasa kenyang. Ia pun menoleh ke arah Papa mertuanya. Dan tak lama pria baya itu pun bangkit dari duduknya dan menuju kamar.
Lagi-lagi nyonya Lana hanya menghela nafas panjang.
***
Sementara di rumah Karin, saat ini gadis cantik itu sedang tengkurap di atas ranjang empuknya. Di tangannya memegang handphone yang menampilkan wajah tampan kekasih hatinya. Ya saat ini mereka sedang melakukan panggilan video. Setelah selesai makan malam Karin pamit tidur lebih awal, padahal faktanya gadis itu ingin melepaskan rindu dengan sang kekasih.
"Kau sudah makan?" Tanya Eka dari seberang. Terlihat Eka saat ini pun sedang ada di kamarnya.
"Sudah, kamu?" Tanya Karin balik.
"Aku sudah makan, meskipun kami para pekerja namun tuan Abdi begitu baik sehingga memberi kami jatah makan sehari tiga kali" ucap Eka.
"Ya .. keluarga om Abdi memang baik"
"Kamu udah mau tidur?" Tanya Eka saat melihat Karin menguap.
__ADS_1
"Iya nih, kok aku udah ngantuk ya.." ucap Karin.
"Ya sudah, istirahat lah lebih awal sayang..." Ucap Eka menatap Karin dengan senyum hangat.
"I..iyaa.." jawab Karin salah tingkah.
"Coba hp nya agak di deketin ke telinga kamu" ucap Eka. Sementara Karin mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Udah, lakuin aja" ucap Eka lagi mengerti dengan ekspresi tak mengerti Karin.
Meskipun bingung dan tak mengerti, namun Karin tetap mengikuti ucapan kekasihnya itu. Karin mendekatkan hp nya ke telinganya. Dan ternyata ...
"Selamat tidur cantik,,, jangan lupa mimpiin aku ya.. i love you" ucap Eka pelan dan penuh perasaan.
Deg ... Deg ...
Blush,,,, pipi Karin seketika memerah. Dengan cepat Karin pun langsung mematikan panggilan itu. Karin memegang dadanya yang berdegup kencang. Bagaimana bisa eka berkata seperti itu. Karin memegang pipinya yang memerah, namun tak lama kemudian senyum manis terbit di bibirnya.
***
Malam berganti pagi, sudah beberapa Minggu berlalu namun Deka sama sekali tidak ada kabar. Bahkan sekarang nomornya tidak bisa di hubungi. Sisi mondar-mandir kesana-kemari sambil menggigit jari. Bagaimana ia harus mengambil langkah.
Waktu itu kekasih ranjangnya itu sudah berjanji untuk menikahi nya. Namun setelah itu juga pria itu seperti hilang di telan bumi. Ketika Sisi mendatangi apartemen milik pria itu, ternyata apartemen itu sudah berpindah tangan ke orang lain.
Sisi terduduk di pinggiran ranjang, gadis berpakaian se*si meremas rambutnya. Tak lama terdengar isakan kecil dari bibirnya. Sisi sungguh berada di jalan buntu saat ini. Perlahan tapi pasti perutnya akan semakin membesar seiring berjalannya waktu. Dan jika Deka tidak mau menikahi nya bagaimana ia bisa melahirkan anak dalam perutnya ini. Jika ingin di gugurkan, Sisi takut dan tidak tega. Karena anak dalam perutnya tidak salah.
Sisi bangkit, ia tidak boleh seperti ini. Ia harus menemukan jalan keluar.
"Bryan...." Seru Sisi. "Ya Bryan pasti mau bertanggung jawab jika aku mengatakan bahwa anak ini adalah anak nya" ucap Sisi memegangi perutnya yang masih datar.
__ADS_1
Sisi meraih sweater dan langsung keluar dari kamar hotel untuk mencari keberadaan calon tunangannya itu.
Sementara di sisi lain, saat ini Angga sedang duduk di kursi tunggu yang ada di rumah sakit. Beberapa jam yang lalu Santi mengeluh perutnya mulas dan segera di larikan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, air ketubannya sudah pecah dan Santi segera di bawa ke ruang persalinan.
Santi ingin melahirkan secara normal, dan saat ini ia sedang berjuang di dalam di temani oleh sang Mama yang sudah datang sejak kemarin. Angga menautkan jarinya dan memandang ke ruang persalinan dengan khawatir. Sudah lama sekali kenapa belum selesai.
"Ngga..." Seru seseorang menepuk pindah Angga dan membuat Angga terkejut. Angga pun menoleh ternyata itu adalah ayah mertuanya.
"Pa..." Ucap Angga.
"Kau tidak perlu khawatir, Santi dan anak kalian pasti akan baik-baik saja.." ucap sang ayah mertua duduk di samping Angga.
"Angga harap begitu Pa,,, tapi ini sudah lama sekali.." ucap Angga dengan suara serak. Mata pria itu berkaca-kaca.
Akhir-akhir ini hubungan Angga dan Santi sudah jauh lebih baik. Angga pun sudah bisa bersikap lebih lembut kepada Santi. Dan perlahan Angga sudah mulai merelakan Gita dan mencoba sepenuh hati untuk menerima Santi.
Tak lama pintu ruangan terbuka, Angga langsung menoleh dan berdiri menghampiri seorang wanita yang mengenakan seragam putih itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Angga tergesa-gesa.
Dokter wanita itu tersenyum menatap ke arah Angga "Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat pak. Sebentar lagi ibu Santi akan di bawa ke ruang rawat. Sementara bayi nya sedang di bersihkan oleh suster" ucap dokter itu.
"Alhamdulillah...." Ucap ayah mertua Angga.
"Selamat, kau sudah menjadi seorang ayah sekarang..". Ucap pria baruh baya itu memeluk Angga.
"Terima kasih Pa..." Jawab Angga dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau begitu saya permisi" ucap dokter wanita itu dan berlaku meninggalkan dua orang yang sedang bahagia karena sudah menjadi seorang ayah dan kakek.
__ADS_1
Sementara tak jauh dari mereka, seorang pria sedang bersembunyi di balik tembok. Pria itu tersenyum tipis.
"Selamat datang di dunia anak ku...." Ucapnya lalu pergi meninggalkan rumah sakit.