CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 11


__ADS_3

"Sayang,. Maaf kan aku ya" bujuk Deka pada Santi.


"Aku sungguh sedang sibuk tadi, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan" lanjut Deka


"Kau pembohong" kata Santi menatap tajam ke arah Deka.


"Sayang, dengarkan aku. Aku bekerja untuk mencarikan mu uang, dan juga anak yang sedang kau kandung. Aku mohon mengertilah."


Santi membuang mukanya ke arah lain, ia tidak bisa menatap Deka saat ini atau kalau tidak ia akan luluh dengan ucapan manis Deka.


"Bagaimana jika berbelanja" bujuk Deka menggenggam tangan Santi. Santi menatap Deka, ia sungguh ingin berkata iya. Namun ia juga masih kesal dengan Deka karena pria itu telah mengabaikan dirinya sejak kemarin.


"Aku sedang tidak mood" jawab Santi ketus


"Ayolah sayang," bujuk Deka. Pria itu mencium lembut kening Santi lalu menatap manik mata perempuan yang sedang mengandung buah hatinya itu. Deka menatap bibir merah Santi, Santi yang melihat kemana arah mata Deka langsung berdiri dan mendorong pelan bahu Deka.


"Mari kita berbelanja saja" ucap Santi lalu meninggalkan Deka. Deka pun menyusul langkah kaki Santi.


Beberapa saat yang lalu Deka sampai di butik Santi, setelah di beritahu oleh karyawan bahwa Santi ada di kamar atas Deka pun langsung menuju kamar yang biasa dia gunakan untuk berbagi peluh dengan Santi. Awalnya Santi menolak membuka pintu namun setelah beberapa kali Deka membujuknya akhirnya Santi mau membukakan pintu.


***


Gita sudah sampai rumah, karena mood Karin sedang tidak baik hari ini maka setelah dari kantor mereka tidak mampir kemana pun. Begitu juga Gita, jika harus nongkrong atau makan sendiri Gita cukup malas, lebih baik ia pulang saja ke rumah. Saat baru sampai di halaman rumah ia heran saat melihat mobil yang terlihat asing untuk Gita. Karena orang tuanya tidak memiliki mobil seperti itu.


"Di rumah ada tamu ya Ka?" Tanya Gita pada supirnya.

__ADS_1


Eka pun melihat ke arah mana yang di maksud oleh Gita. Matanya melotot saat melihat mobil Bryan terparkir di halaman rumah Gita.


'ngapain tu anak kesini' batin Eka.


"Eka?" Panggil Gita lagi


"Ehh, iya non. Saya kurang tau. Pas tadi saya mau berangkat jemput nona mobil ini belum ada" jawab Eka. Gita pun mengangguk mengerti.


Mobil berhenti tepat di samping mobil itu, Eka pun turun dan membukakan pintu untuk Gita. Gita kemudian turun dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Gita pulang" ucap Gita membuka pintu.


Langkah kaki Gita terhenti saat melihat ada Bryan yang sedang mengobrol dengan orang tuanya.


"Sayang, kenapa berdiri disitu" tanya sang mama yang melihat putrinya berdiri mematung di depan pintu. Gita pun segera tersadar dan tersenyum canggung lalu berjalan menghampiri kedua orang tuanya.


"Bryan nanti sekalian makan malam disini saja ya" kata Bu Indira, mama Gita.


"Iya, sudah lama sekali sejak kamu pindah ke Bandung. Kamu sudah jarang berkunjung kesini" sahut pak Abdi, papa Gita.


"Boleh om, kebetulan Bryan juga rindu dengan masakan Tante Dira" jawab Bryan terkekeh


"Kamu ini"


"Oh iya Om kenapa Gita ngga masuk ke perusahaan milik Om?" Tanya Bryan.

__ADS_1


"Kamu tau"


"Ya tadi Bryan mampir ke perusahaan om Bram, dan tidak sengaja bertemu Gita disana" jelas Bryan.


"Om juga tidak tau pasti apa alasan Gita masuk ke perusahaan Bram. Mungkin karena Karin. Kau tau sifat Gita anak itu tidak bisa di larang" jelas pak Abdi menyandarkan punggungnya di sofa.


"Ya itulah sifat seorang anak om, tidak jauh beda dengan sifat orang tuanya, hahaha..." Kata Bryan di akhiri dengan tawanya


"Hahaha.... Kau bisa saja" jawab pak Bram ikut tertawa.


"Ya sudah Tante mau masak dulu, sebentar lagi sudah waktunya makan malam"


Bu Indira pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Meskipun di rumah besar itu ada beberapa pembantu namun untuk urusan menyiapkan makanan Bu Indira selalu turun tangan langsung. Entah untuk membuat masakan sendiri atau sekedar menyiapkan bumbu saja.


Di tempat lain, di rumah pak Bram. Saat ini Karin sedang menatap sebuah selembaran foto dirinya dan juga seorang pria. Foto masa kecil yang selalu membuat Karin rindu dengan pria yang ada di foto itu. Setiap kali rindu menyapa Karin hanya bisa meluapkan dengan menangis dan memandang foto kenangan itu.


"Kak Aldo, dimana pun kakak berada sekarang semoga kakak baik-baik saja. Dulu aku sangat berharap kakak akan kembali menemui ku. Namun setelah sekian lama kakak pergi sampai sekarang kakak belum kembali. Hingga perlahan perasaan yang aku punya untuk kakak di geser oleh seseorang yang dengan perlahan masuk ke dalam hatiku" ucap Karin bermonolog. Rasa untuk cinta masa kecilnya itu sudah hilang. Karena kini sudah ada seseorang yang menggeser kedudukan Aldo di hatinya.


"Dia, pria ini yang sekarang sudah menguasai hatiku. Meskipun aku tidak tau apakah pria ini juga menyukaiku namun aku tidak bisa jika harus mengorbankan rasaku padanya untuk kakak" mata Karin berkaca-kaca. Ia meraih foto seseorang yang selalu membuat hatinya jengkel namun sebenarnya juga membuat hatinya bahagia.


***


"Kita minum sampai pagi" teriak Angga kepada teman-temannya. Ia mengangkat gelas yang berisi minuman berwarna merah itu.


Teman-teman Angga pun bersorak mendengar ucapan Angga. Sudah menjadi kebiasaan jika setelah menerima uang gaji Angga akan mentraktir teman-temannya untuk sekedar minum kopi atau makan. Namun entah kenapa kali ini Angga mengajak beberapa temannya untuk minum di bar. Karena di traktir oleh Angga maka teman-temannya itu pun berangkat saja. Toh tidak akan mengurangi uang dalam dompet mereka.

__ADS_1


Angga minum dengan sangat bahagia bahkan tak ia hiraukan handphone nya yang sejak tadi bergetar pertanda ada yang sedang menghubungi dirinya.


Disisi lain, saat ini Santi sedang menunggu kepulangan sang suami. Sudah hampir larut dan Angga belum juga pulang. Santi melihat jam dinding sudah hampir jam sebelas malam. Jika lembur Angga pasti akan mengabari dirinya. Tapi sekarang jangan kan mengabari, telpon Santi pun tidak di angkatnya. Entah apa yang di lakukan oleh Angga saat ini. Karena lelah menunggu akhirnya Santi pun tertidur di sofa ruang tamu di rumah mereka. Lebih tepatnya rumah Santi, karena saat menikah Angga tidak memiliki apapun. Dan entah kenapa Santi sang putri tunggal itu mau menikah dengan Angga. Bahkan sampai merusak persahabatan antara dirinya dan juga Gita.


__ADS_2