
Tiga bulan kemudian....
"Terima kasih. Selamat datang kembali" ucap Angga kepada seorang pelanggan yang baru saja berkunjung ke toko nya.
Semenjak insiden ia mabuk waktu itu, akhirnya ia di pecat dari perusahaan. Karena Angga tidak memiliki apapun, akhirnya ia pun memberanikan diri untuk membuka sebuah usaha. Dengan modal uang pesangon dari perusahaan dan uang tabungan yang ia miliki akhirnya ia menyewa sebuah kios yang lumayan besar dan membuka toko pecah belah.
Karena keramahan yang di miliki Angga, akhirnya toko itu pun sudah di kenal oleh banyak orang dan ia menjadi pemasok untuk toko-toko kecil yang ada di daerah tersebut.
Setelah beberapa waktu berlalu, Angga juga sudah bisa menerima keadaan dirinya dan merelakan Gita bersama Bryan. Karena Angga tahu jika Bryan tidak akan pernah menyakiti Gita, seperti yang ia lakukan dulu.
Angga menghembuskan nafas berkali-kali untuk menetralkan keadaan hatinya ketika mengingat masa lalu. Ada sesal yang besar karena telah menyakiti wanita sebaik Gita.
"Sayang..." Ucap seorang wanita melambaikan tangannya ke depan wajah Angga membuat Angga tersadar dari lamunan masa lalunya.
"Eh, Fitri. Kamu disini? Kapan datang?" Tanya Angga terkejut.
Fitri adalah seorang wanita yang berhasil membuat Angga sedikit demi sedikit berhasil melupakan Gita dan mengganti nama Gita menjadi nama seorang Fitri di hati Angga.
"Iya. Aku baru aja sampe. Eh kamu udah ngelamun aja. Kenapa?" Tanya Fitri penasaran.
Gadis yang memakai celana jeans dan kaos panjang itu duduk di kursi yang ada di samping Angga.
"Engga kok, aku cuma mikirin kamu aja" jawab Angga tersenyum hangat. Tangan Angga terulur merapikan anak rambut yang menutupi wajah Fitri.
"Mikirin aku?" Tanya Fitri dengan kening mengkerut.
"Iya" Angga membenarkan duduknya agar bisa menghadap ke arah sang kekasih.
"Aku cuma ngerasa ngga enak sama kamu. Kamu adalah gadis baik, sementara aku adalah duda. Masa laluku begitu buruk. Aku ngerasa ngga pantes buat kamu. Terlebih aku hanya pemilik toko, aku takut kelak jika kita menikah aku tidak bisa menghidupi mu dengan layak" jelas Angga mengutarakan keresahan dalam hatinya.
Fitri memandang Angga dengan haru, Fitri meraih tangan Angga dan di genggam nya.
"Aku akan terima apapun masa lalu kamu Ngga, dan perihal pekerjaan kamu ini aku bisa terima kok. Aku juga kerja, kita akan sama-sama bekerja untuk membangun keluarga kita." Jawab Fitri menggenggam erat tangan Angga untuk meyakinkan Angga bahwa ia memang tulus mencintai Angga.
"Kau tidak akan menyesal jika kelak menikah dengan ku?" Tanya Angga ragu. Ia menatap lekat ke arah Fitri.
__ADS_1
Fitri mencium tangan Angga yang di genggam nya kemudian ikut menatap manik mata Angga.
"Aku akan menyesal jika melepas seorang pria seperti mu. Kau sebenarnya baik, hanya saja dulu kau membuat kesalahan yang membuat dirimu merasa menjadi orang yang tidak baik" ucap Fitri lembut, dan ucapan itu mampu menggetarkan hati Angga.
Angga pun membawa Fitri ke dalam pelukannya. Angga bersyukur bertemu wanita sebaik Fitri. Dan Angga berjanji dalam hati jika ia tidak akan menyia-nyiakan Fitri seperti ia menyia-nyiakan Gita dulu. Ia akan menjaga Fitri dan membahagiakan nya dengan sepenuh hati.
***
"Ciiieee pengantin" seru Gita saat melihat Karin tengah di make up oleh MUA.
Karin pun hanya diam saja karena ia takut hasilnya tidak maksimal jika ia banyak bicara.
"Ya ampun, cantik banget sahabat gue" seru Gita lagi.
"Lo udah makan?" Tanya Gita dan di balas gelengan oleh Karin.
"Hish, gimana sih! Lo tuh harus makan biar nanti pas gugup ngga sampai pingsan" ucap Gita bercanda.
Karin pun menendang pelan betis Gita.
"Eits, pengantin harus kalem. Kakinya ngga boleh kemana-mana" goda Gita lagi.
"Bryan. Nih istri lo ada di sini!!!" Seru seseorang itu kemudian.
Dia yang tak lain adalah Santi pun kemudian menghampiri Karin dan Gita. Tak lama Bryan pun datang dengan tergesa-gesa.
"Ya ampun sayang, kamu tuh bisa ngga sih jangan ilang-ilangan. Kalau mau pergi pamit dulu" ucap Bryan memeluk Gita singkat.
"Hhee... Maaf kak. Kan tadi pengen cepet-cepet lihat Karin" jawab Gita dengan tanpa merasa bersalah. Bahkan ia tetap mengunyah stroberi dengan lahap.
Bryan pun duduk di samping Gita, sementara Santi duduk di sofa dan memperhatikan Karin yang sedang di make up oleh MUA.
"Yah, habis!" Seru Gita ketika stroberi yang tadi sengaja ia bawa telah habis.
"Mau lagi" rengek Gita menggoyangkan lengan Bryan.
__ADS_1
"Kita ambil di depan. Tadi kan beli banyak" ucap Bryan.
Gita menganggukkan kepalanya dan berjalan mendahului Bryan. Bryan hanya menghela nafasnya kemudian menyusul langkah Gita yang berjalan cepat.
"Sabar ya kak Bryan." Ucap Karin yang sudah selesai.
Bryan pun menghentikan langkahnya dan menoleh kemudian menganggukkan kepalanya.
"Beruntung banget Gita dapat lelaki kayak Bryan" ucap Santi setelah Bryan keluar dari ruangan itu.
"Iya. Gita yang manja dan bersikap sesuka hatinya beruntung dapat kak Bryan yang super sabar ngadepin sikap Gita" jawab Karin terkekeh.
"Gue jadi nyesel sekaligus ngerasa ngga enak dulu pernah ngrebut mas Angga dari Gita" ucap Santi sedih.
Karin pun menghela nafasnya kemudian tersenyum dan menghampiri Santi.
"Itu udah berlalu San, gue yakin Gita ngga menaruh dendam sama lo. Yang terpenting sekarang lo udah jadi lebih baik dari waktu itu" ucap Karin mengelus bahu Santi.
"Makasih ya. Gue beruntung lo sama Gita ngga dendam sama gue" ucap Santi. Ia mengusap ujung matanya yang berair.
Mereka pun kemudian berpelukan. Yang berlalu biarlah berlalu. Jangan menyimpan dendam dalam hati karena itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Jika Tuhan saja maha pemaaf maka apa salahnya jika kita sebagai hamba juga harus belajar memaafkan kesalahan orang lain. Terlebih jika orang itu sungguh-sungguh ingin meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Gue ikutan!!!" Seru Gita yang baru masuk, di tangannya membawa satu mika berisi buah stroberi.
Gita pun berjalan cepat, karena untuk berlari ia sudah kesusahan. Kehamilan nya sudah hampir tujuh bulan. Gita memeluk Karin dan Santi dari samping. Santi merasa sangat terharu, orang-orang yang telah ia sakiti bisa menerima dirinya kembali dengan baik.
Mereka melepas pelukan, Santi mengusap pipinya yang sudah basah oleh air mata.
"Udah jangan nangis" ucap Karin.
"Iya, nih makan buah biar pun rasanya asem tapi seger banget" sahut Gita menyodorkan mika berisi stroberi.
Santi mengambil satu buah stroberi kemudian memakannya. Santi memakan stroberi itu dengan sedikit isakan kecil, Karin pun memeluk Santi kemudian menggelengkan kepalanya memberi kode agar Santi tidak lagi menangis.
...Sebesar apapun kesalahannya, jika kau benar-benar berniat meminta maaf dan merubah sikap mu. Maka kau pasti akan menerima permintaan maaf dari orang yang udah kau sakiti....
__ADS_1
___
ngga nyangka udah sampe bab 111 ya gengs. makasih buat temen-temen yang udah standby baca novel receh ini