
"Gita, tolong siapkan surat kerjasama ya. Karena nanti akan ada klien yang datang ke perusahaan kita untuk kerja sama" ucap tuan Bram kepada Gita.
Gita pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baik pak" jawab Gita formal. Setelah itu Gita pamit undur diri.
Gita langsung mengerjakan apa yang telah di perintahkan kepadanya. Disaat ia tengah sibuk tiba-tiba Karin menyelonong masuk ke ruangannya, seperti biasa tanpa permisi langsung duduk di sofa ruangan Gita.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop, Gita bertanya kepada Karin. "Kenapa?"
"Ngga tau kenapa tiba-tiba Papa nyuruh gue nemuin klien nanti, padahal kan gue belum pernah, biasanya juga kan lo Git" sungut Karin dengan wajah cemberutnya.
Gita tak langsung menjawab namun ia menyelesaikan ketikannya dulu kemudian berdiri dan beranjak duduk di sebelah Karin.
"Rin, lo itu calon penerus perusahaan ini,, mungkin aja Om Bram sengaja biar lo belajar gimana cara menghadapi klien" nasihat Gita kepada Karin.
Karin menatap Gita, "Lo bisa kan temenin gue?" Tanya Karin karena dia tidak bisa menolak permintaan Papa nya.
***
Sementara di sebuah apartemen, seorang pria dengan identitas baru tangan bercermin. Ia membenarkan letak dasinya kemudian merapikan kembali rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Setelah di rasa rapi dan merasa tampan tak lupa pria itu menyemprotkan parfum ke tubuhnya, dan pria itu menghirup udara yang telah berubah wangi.
"Wangi banget!" Serunya bahagia.
Door.... Dooorrr....
Di saat ia tengah sibuk berkaca kembali tiba-tiba pintu kamarnya di gedor dengan keras dari luar. Ia pun berdecak sebal dan langsung mendekati pintu dan membukanya. Dan terlihat lah wajah pria dengan raut kesal.
"Lama banget elaahh" rutuk pria yang sedang berdiri di ambang pintu itu.
"Sabar kenapa. Gue mau tampil beda ini" jawab pria itu kemudian masuk kembali ke kamar dan di ikuti oleh pria yang menunggu nya di luar tadi.
"Gue masih ngga percaya kalo seorang Aldo mau kerja jadi supir di kediaman Om Wijaya" ucap pria yang telah duduk di pinggiran ranjang.
Pria yang sedang merapikan rambutnya itu menoleh. "Gimana gue klepek-klepek sama Karin" jawabnya tanpa menoleh.
"Sekarang juga Karin marah sama lo" ejek pria itu lagi.
__ADS_1
"Bryan.. Lo diem napa sih!" Ucap nya kesal.
Sementara Bryan hanya mencebikkan bibirnya.
"Yok berangkat" ajak Aldo yang telah merasa siap dengan penampilannya.
"Padahal lo mau gimana pun tetep ngga bisa ngalahin pesona gue" ejek Bryan kemudian keluar kamar lebih dulu.
"Sialan!!" Seru Aldo kemudian menyusul langkah Bryan.
**
"Jadi lo pria yang udah nodai gue malam itu??!" Tanya Sisi kepada pria yang beberapa hari ini telah resmi menjadi suaminya.
Pernikahan mereka di adakan secara siri, karena permintaan Sisi yang malu dengan kehamilannya yang sudah sedikit terlihat. Pria itu tentu tidak keberatan sebab ia tidak memiliki persiapan apapun.
"Lo nyesel?" Tanya pria yang kini duduk bersandar pada dipan kasur. Pria itu menatap tak suka ke arah Sisi yang sedang mempercantik diri di depan meja rias.
"Gara-gara lo impian gue buat nikah sama Bryan jadi kandas tau nggak!!" Seru Sisi marah. Ia menatap nyalang ke arah pria yang masih dengan tatapan santainya.
Pria itu tersenyum miring seperti mengejek ke arah Sisi. Pria itu kemudian berdiri dan menghampiri Sisi. Pria itu memegang bahu Sisi sedikit kuat hingga Sisi sedikit meringis kesakitan.
"Siaalll" teriak Sisi menggebrak meja riasnya dengan marah.
Sisi menatap dirinya di depan cermin. Ia menyadari bahwa dirinya tidak secantik Gita, namun dia juga tidak terlihat jelek. Seharusnya ia pantas bersanding dengan Bryan bukan malah Gita.
Sisi mengingat peristiwa Minggu lalu dimana ia menikah. Orang tua nya marah besar karena tau Sisi tengah hamil. Bahkan ayahnya tak segan menampar pipinya disaat ayahnya tahu bahwa ia telah mengecewakan dirinya.
Bagaimana pun keluarga mereka terpandang. Orang tua Sisi mempercayai Sisi datang ke Jakarta untuk menemui Bryan, namun Sisi justru membuat aib untuk keluarganya. Sisi menangis tergugu saat ibu nya menolak untuk di peluk, padahal kondisi Sisi sangat membutuhkan sebuah support.
Sisi tahu dirinya salah, bahkan pria yang menikahinya pun ia tidak kenal. Kenapa hanya dengan sekali melakukan hubungan intim dirinya harus hamil???
Sisi meremas rambutnya kasar, ia ingin menggugurkan kandungannya namun ia tidak tega. Bukan kan anak dalam perutnya tidak memiliki kesalahan apapun? Yang salah adalah dirinya.
***
__ADS_1
"Silahkan masuk tuan, anda sudah di tunggu oleh nona Karin" ucap resepsionis yang mengantar Bryan dan Aldo.
Mereka pun masuk ke ruangan meeting. Begitu pintu terbuka Karin langsung menoleh ke arah pintu dan matanya langsung bersitatap dengan mata Aldo. Dada Karin berdegup kencang ketika melihat penampilan Aldo yang berubah drastis, dengan setelan kemeja berwarna biru muda Aldo terlihat sangat tampan.
Bryan menyenggol lengan Aldo dan membuat Aldo tersadar. Begitu pun dengan Karin, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aldo dan Bryan duduk di kursi yang tak jauh dari Karin.
Asisten Karin langsung membuka pembicaraan. "Selamat datang tuan" ucapnya ramah.
"Ya.." jawab Aldo, sementara Bryan hanya diam saja.
Bryan melihat ke sekeliling namun yang di lihatnya hanya Karin dan dua orang yang tidak di kenalnya. Karena Gita tidak bisa menemani Karin, jadi Karin meminta bantuan asisten nya dan juga sekretaris sang Papa untuk menemaninya selama rapat.
"Bisa kita mulai tuan?" Tanya seorang wanita yang ada di sebelah Karin.
"Ya, bisa" jawab Bryan.
Bryan menjadi tidak bersemangat karena tidak bisa bertemu dengan Gita. Padahal kedatangannya kesini selain karena kerja sama juga karena ingin menemui Gita.
***
Karena rapat telah di ambil oleh Karin, setelah jam makan siang Gita meluncur ke perusahaan sang Papa. Di perusahaan ini Gita di sambut dengan ramah karena selain anak dari pemilik perusahaan Gita juga gadis yang supel dan tidak sombong. Bahkan gadis itu tidak segan menyapa siapa saja yang di temuinya ketika ia berjalan.
"Papa ada?" Tanya Gita kepada sekretaris Papa nya yang sedang mengerjakan sesuatu.
Pria itu menoleh dan langsung berdiri ketika melihat Gita di depan pintu ruangannya yang sengaja di buka.
"Ada non, tuan ada di dalam" jawab pria itu tersenyum ramah.
"Biar saya saja, bapak silahkan melanjutkan pekerjaan" ucap Gita ketika melihat pria yang mungkin umurnya tidak jauh dari sang Papa itu hendak berdiri.
Pria itu pun duduk kembali ketika melihat Gita langsung menuju ruangan sang Papa.
"Papa...!" Seru Gita ketika sudah masuk ke ruangan sang Papa.
Tuan Wijaya yang sedang fokus pada laptopnya pun menoleh ke arah pintu dan seketika tersenyum hangat melihat putri semata wayangnya sudah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Duduk lah sayang..." Ucap tuan Wijaya kemudian beranjak menghampiri putrinya yang sedang menuju ke sofa yang ada di ruangan itu.
"Kenapa hem? Tumben kesini?" Tanya tuan Wijaya saat ia dan Gita sudah duduk di sofa.