
Pagi hari menjelang, Karin sudah terbangun dari tidurnya dan duduk di dipan kasur. Gadis cantik itu tersenyum sendiri kala mengingat bahwa kini dia sudah memiliki kekasih. Dan yang lebih membahagiakan adalah bahwa orang yang di sukainya ternyata juga memiliki perasaan yang sama.
Karin meraih ponselnya di atas meja kecil di samping kasur. Ia menghidupkan layar ponselnya dan ada sebuah pesan yang membuat pipinya bersemu merah. Karin segera membuka pesan itu yang ternyata pesan dari Eka. Karin pun dengan cepat membalas pesan Eka. Meskipun sudah lewat sejam yang lalu dan hanya sebuah ucapan selamat pagi namun itu sudah cukup membahagiakan untuk Karin.
Setelah membalas pesan Eka, Karin pun meletakkan kembali ponselnya dan segera turun dari ranjang. Gadis yang masih menggunakan kimono tidur itu tak langsung ke kamar mandi melainkan berhenti dan duduk di depan meja rias. Ia menatap wajahnya, kedua tangannya pun berpangku pada dagu nya. Lagi-lagi Karin tersenyum sendiri, sungguh pagi ini adalah pagi yang istimewa untuk Karin.
Karin melihat jam, ternyata baru menunjukkan pukul lima lewat lima belas. Dan ini adalah yang pertama Karin bangun sepagi ini, biasanya dia akan bangun pada jam lima lewat tiga puluh. Karin pun segera beranjak ke kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan diri.
Tak lama Karin pun keluar dari kamar mandi, ia kembali duduk di meja rias. Entah kenapa terbesit keinginan Karin untuk memakai make up yang selama ini jarang ia pakai. Karin pun segera bangkit dan menuju lemari baju. Setalah menemukan pakaian yang pas Karin pun segera berganti baju dan duduk di meja rias kembali. Dan Karin pun memulai ritual mempercantik diri, bagaimanapun ia akan bertemu dengan sang kekasih nantinya.
Berbeda dengan Karin yang sudah bangun pagi-pagi sekali. Gita masih asyik bergelung dibawah selimut. Bukan karena hawa dingin di pagi ini, namun karena mood nya yang tidak bagus. Mata Gita sudah tidak terpejam lagi, namun ia masih enggan beranjak dari kasurnya yang empuk.
Gita menutup tubuhnya dengan selimut sampai menutup kepala. Ia membuka matanya dan menerawang kepada ingatan tadi malam. Terlebih saat Bryan mengatakan perasaannya masih utuh. Gita merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, entah kenapa setiap kali ia mengingat Bryan selalu saja keadaan jantungnya tidak begitu normal.
Gita membuka selimutnya yang menutupi kepalanya lalu melihat ke arah jam yang masih setia bertengger di dinding. Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, Gita pun beranjak dan menuju kamar mandi.
Berbeda lagi dengan Eka, supir pribadi Gita itu tengah berkaca dan menyisir rambutnya sambil bersiul ria. Perasaannya sangat bahagia saat ini, sampai ia lupa kepada statusnya yang mungkin bisa membuat Karin kecewa jika suatu saat tau Karin tahu yang sebenarnya. Pria dengan seragam khas supir itu pun kembali berkaca dan setelah rambutnya terlihat rapi ia berputar di depan cermin dan setelah memastikan penampilannya oke, ia pun segera keluar untuk menunggu nona mudanya.
"Pagi Mam, pagi Pa" sapa Gita kepada kedua orang tuanya. "Pagi Kakek.." lanjut Gita menyapa kakeknya yang ternyata baru datang ke meja makan.
Mereka pun tersenyum saat melihat keadaan Gita yang mungkin sudah lebih baik daripada tadi malam. Bagaimanapun mereka para orang tua juga pernah merasakan muda, jadi ketika Gita diam maka mereka tidak akan memaksa Gita untuk berbicara.
"Kau ingin sarapan dengan apa sayang?" Tanya sang Mama yang sedang memegang piring dan sudah di beri nasi.
"Sama telur ceplok aja Ma" jawab Gita. "Sama sayur juga," lanjut Gita.
__ADS_1
Sang Mama pun menuruti permintaan putrinya, lalu mengambil telur ceplok dan sayur kangkung yang memang di sediakan.
"Makasih Ma..." ucap Gita menerima piring yang sudah berisi nasi, sayur dan juga telur.
"Gita, kau masih tidak suka daging?" Tanya sang kakek yang memperhatikan sang cucu tidak pernah memakan daging ataupun ikan selama ia di rumah itu.
"Heee.... Enggak Kek" jawab Gita meringis. Gita pun berdoa dan kemudian menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Keluarga Wijaya kemudian makan dengan tenang. Kebiasaan mereka adalah tidak boleh ngobrol di meja makan. Ketika ada sesuatu yang memang harus di bicarakan maka harus menunggu selesai makan dan berbicara di ruang keluarga. Meskipun keluarga ini selalu sibuk, namun tetap meluangkan waktu untuk quality time bersama keluarga saling melepas rindu karena seharian bekerja.
"Ma, Gita berangkat dulu ya." Pamit Gita kepada orang tuanya. Gita pun beranjak lalu menyalami orang tua dan juga kakeknya.
"Hati-hati sayang..." Ucap sang Mama.
"Kau berhati-hatilah nak" ucap sang Papa mencium kening Gita.
Di halaman rumah, Gita sudah melihat Eka yang ternyata sudah siap dan sedang menunggu Gita di samping mobil.
"Selamat pagi non..." Sapa Eka sambil tersenyum.
Gita mengerutkan keningnya heran, tidak biasa pria yang menjadi supirnya ini begitu rapi. Sedikit terlihat tampan di mata Gita.
"Ya selamat pagi juga." Balas Gita. "Kau terlihat sangat bahagia??" Tanya Gita.
"Ya, saya hanya sedang bersemangat saja non" alibi Eka. Bagaimanapun Karin masih belum mau jika Gita mengetahui hubungan mereka.
__ADS_1
"Mari non, silahkan masuk.." ucap Eka sembari membukakan pintu mobil untuk Gita. Setelah Gita masuk, Eka pun berganti membuka pintu kemudi. Tak lama mobil pun berjalan dengan pelan.
***
Saat ini di perusahaan milik Bryan, pria muda itu duduk di kursi kebesarannya. Sementara di belakangnya, Romy sang asisten sedang menguap karena ngantuk. Bagaimanapun tadi malam pria itu baru saja berkencan dengan pacarnya dan pulang larut malam. Namun pagi-pagi sekali ia sudah harus bangun karena sang bos sudah menelpon nya.
"Kau mengantuk?" Tanya Bryan saat mendengar Romy menguap.
"Tidak bos!" Seru Romy tegas. Namun tak lama pria itu pun menguap kembali.
"Jika kau ngantuk, maka kau boleh tidur terlebih dahulu." Ucap Bryan.
"Benarkah bos?" Tanya Romy gembira. Bos nya yang dingin kini sedikit perhatian dengan nya.
"Ya, tentu saja" jawab Bryan.
Romy pun lalu berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Bryan. Dia mengambil posisi nyaman lalu memejamkan matanya. Dan disaat Romy baru saja menutup mata.
"Kau boleh tidur asal bonus mu bulan ini di potong sembilan puluh persen" ucap Bryan. Romy pun seketika bangkit dari tidurnya dan berdiri dengan tegap.
Pria muda itu sudah bekerja sangat lelah bulan ini, jadi jangan sampai bonusnya hilang begitu saja.
Tok ... Tok ....
"Masuk.." ucap Bryan saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.
__ADS_1
Tak lama masuklah pria yang seumuran dengan Romy. Di tangannya membawa sebuah map.
"Saya akan melaporkan sesuatu bos"