
Braakk ....
Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh seketika saat pintu di buka dengan paksa.
"Selamat pagi tuan," ucap pria berkemeja menunduk sopan ke arah Bryan. Bryan menganggukkan kepalanya.
"Ini adalah orang yang menulis berita miring tentang nona Gita" jelas pria itu.
Bryan menatap tajam pria yang tengah menunduk ketakutan. Tatapan matanya yang setajam mata elang itu seperti siap menggores kulit lawan. Sementara di sebrang tempat Bryan duduk, Gita menatap heran ke arah pria berkemeja yang baru saja datang. Pria itu mengenal Gita? Bagaimana bisa. Selama ini Gita merasa tidak pernah kenal dengan pria itu.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Bryan dingin.
"Aa....a...ku..uuu..."
"Katakan dengan jelas!" Seru Bryan dengan suara agak keras dan tegas. Bahkan pria itu semakin gemetar karena ketakutan.
"Kau katakan dengan tenang siapa yang menyuruhmu, maka bos ku akan dengan baik hati mengampuni mu" kata Romy memegang erat bahu pria itu sembari tersenyum dingin. Pria itu meneguk ludahnya saat tanpa sengaja bertatapan dengan Romy yang tak kalah tegas dari Bryan.
"Berjanjilah untuk melindungi ku dari orang itu jika aku mengatakan yang sebenarnya" ucap pria itu dengan cepat. Nafasnya seolah hanya tinggal sekali itu saja.
Bryan tersenyum misterius, ia semakin menatap tajam pria itu. Sudah membuat masalah dengannya dan sekarang masih memiliki keberanian untuk meminta perlindungan darinya.
"Katakan!"
"Sebenarnya....."
***
Angga mengerjapkan matanya ketika sinar matahari menerobos jendela kamar. Ia melihat ke samping nya ada Santi yang masih tertidur pulas. Rupanya aktivitas mereka menguras banyak tenaga sehingga mereka tertidur setelah melakukannya. Angga melihat ke jam kecil yang ada di atas nakas. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Sudah cukup siang, Angga pun beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk membersihkan diri.
Ini adalah pertama kali mereka melakukan hubungan suami istri setelah menikah. Meskipun dulu saat mereka masih berpacaran di belakang Gita, mereka sering melakukan hal itu sampai Santi hamil namun entah kenapa semenjak menikah Angga justru tidak pernah menyentuh Santi. Dan baru pagi ini Angga tergoda dengan bujuk rayu Santi untuk melakukan hal itu kembali.
Angga keluar dari kamar mandi, tubuhnya hanya terbungkus handuk. Saat ia keluar ternyata Santi sudah bangun dan sedang duduk bersandar di dipan kasur. Santi sedang memainkan ponselnya jarinya dengan lincah bergerak entah apa yang dia cari.
"Mandilah, kita akan makan siang di luar" ucap Angga sembari tangannya membuka lemari untuk mencari baju ganti.
__ADS_1
"Santi!" Seru Angga lebih keras. Karena ucapannya tadi tidak ditanggapi.
"Ah iya mas" seru Santi lalu segera beranjak ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Santi bukannya mandi namun justru mondar-mandir tidak jelas. Ia menggigit jari-jari tangannya raut wajahnya menunjukkan sebuah kekhawatiran.
"Bagaimana bisa video itu hilang begitu saja" ucap Santi khawatir
"Apakah sudah ketahuan?" Lanjutnya.
Ia berhenti sejenak "tidak, tidak mungkin ketahuan. Deka adalah orang yang pintar dan teliti tidak mungkin semudah itu bisa ketahuan" Santi menggelengkan kepalanya.
Ia pun segera mandi sebelum Angga mengomeli dirinya karena terlalu lama di dalam kamar mandi.
***
Di jalan Jakarta yang ramai, kebetulan hari ini pun cuaca sedang cerah. Seorang pria sedang duduk sendiri di sebuah restoran mewah. Di hadapannya terdapat makanan yang tinggal separuh saja, pertanda bahwa makanan itu sudah di nikmati oleh sang pemesan.
Di luar restoran tersebut seorang perempuan baru saja turun dari mobilnya. Ia berhenti untuk menikmati makan siang. Ini adalah pertama kali ia mampir di restoran Jakarta. Gadis itu sering ke Jakarta namun ia akan makan di sebuah cafe atau restoran mall bukan restoran yang berbeda seperti ini. Dengan sepatu hak tinggi perempuan itu berjalan menuju restoran. Saat sudah masuk perempuan itu mengedarkan pandangannya untuk memilih tempat yang pas untuk dirinya yang hanya sendiri. Matanya terus mencari tempat yang sesuai hingga matanya menangkap wajah seseorang yang sangat di kenalnya.
***
"Deka?"
"I...iya tuan.. orang yang menyuruh saya bernama Deka" jelas pria yang masih terduduk di lantai. Bahkan dirinya sudah merasakan kram pada lututnya namun karena ketakutan yang besar pria itu lebih memilih untuk diam.
"Deka? Aku tidak mengenal nama itu" kata Gita heran. Bryan menatap Gita.
"Kau yakin? Apakah kau pernah menyinggung seseorang akhir-akhir ini?" Tanya Bryan.
"Tidak?" Jawab Gita. "Kemanapun aku pergi, aku selalu bersama Karin" jelas Gita menatap Karin
"Ya,,, dan kemarin-kemarin aku dan Gita tidak pernah bertemu ataupun berselisih dengan orang lain" jelas Karin menatap Bryan.
"Sayang... Kau yakin tidak bertemu dengan siapapun akhir-akhir ini?" Tanya tuan Abdi menatap khawatir putrinya.
__ADS_1
"Benar pa," jawab Gita. "Tapi tunggu...!" Seru Karin tiba-tiba membuat semua orang di ruangan itu menatap ke arahnya.
"Kemarin lusa Santi mendatangi aku di perusahaan ini, dia mengatakan aku mengganggu Angga" kata Gita.
"Dan tidak sengaja pada sore harinya setelah aku mengantar Karin, di jalan aku tidak sengaja bertemu dengan Angga. Wajah Angga terlihat seperti habis di pukul oleh seseorang" kata Gita.
Mendengar itu Bryan menatap ke arah Andre yang sedang berpura-pura tidak Bryan. Bryan pun menghembuskan nafasnya dan kembali menatap Gita.
"Apa mungkin ini ada kaitannya, tapi siapa yang bernama Deka itu?" Tanya Gita bingung.
"Gue rasa ini ada hubungannya deh Ta" ucap Karin.
"Maksud lo?" Tanya Gita menatap Karin.
"Ya mungkin aja kan Deka itu orang suruhan Santi."
Gita mengerutkan keningnya mendengar penuturan Karin. Ia memandang ke depan dan mencoba merenungkan apa yang dikatakan oleh Karin. Masuk akal juga.
"Tapi Rin, gue ngga tau apa-apa soal kenapa Angga di hajar orang dan siapa pelakunya?" Ucap Gita menoleh ke arah Karin.
Bryan melirik tajam Andre. Dan kemudian bersikap seolah ia tidak tau apa-apa.
"Kapan kira-kira Angga di pukul oleh orang?" Tanya Bryan.
Gita menatap Bryan "mungkin kira-kira empat hari yang lalu"
Di belakang Bryan, Andre dan Romy saling pandang. Dalam fikiran mereka betapa hebat bos nya ini dalam hal bersandiwara.
"Baiklah, aku akan mencari tau apa kaitan orang bernama Deka dan juga dengan kejadian yang di alami oleh Angga" kata Bryan.
"Kalian bawa orang ini ke tempat biasa, jangan lukai sedikit pun" kata Bryan kepada dua orang kepercayaannya.
Mendengar perintah dari sang bos, Andre dan Romy pun membawa pria itu ke tempat dimana mereka biasa melakukan hal yang menyenangkan.
___
__ADS_1
hai gaes, jangan lupa berikan like dan vote kalian ya