CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 42


__ADS_3

Setelah melihat dan mendengarkan dengan jelas laporan yang telah di sampaikan oleh Andre, Bryan pulang dengan tergesa-gesa. Di jalan ia sudah berusaha menetralisir amarahnya karena ingat dia sedang berkendara. Di belakang Bryan adalah mobil hitam yang di kendarai oleh Romy dan Andre. Dua orang kepercayaan Bryan itu khawatir jika bos nya akan bertindak yang diluar batas.


Bryan sampai di pelataran rumah mewah miliknya. Bryan keluar dari mobil dan menutup pintu dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang keras. Dan itu membuat para pekerja di rumahnya langsung menoleh ke arah Bryan. Namun para pekerja itu langsung bersikap seolah tidak tahu setelah melihat wajah Bryan yang terlihat sangat marah.


Sementara Romy dan Andre berhenti di luar pagar agar tidak terlihat oleh Bryan. Setelah memastikan Bryan masuk ke dalam rumah, Romy dan Andre pun menyusul. Romy dan Andre masuk dengan pelan, bagaimanapun rumah itu sudah seperti basecamp mereka dan para pekerja pun sudah sangat mengenali mereka.


Baru saja mereka masuk dan masih berdiri di belakang pintu sudah terdengar suara kegaduhan dari dalam.


Braaaaakkk...... Suara keras dari sebuah pintu yang di buka secara paksa.


"Bryan...!!!" Teriak seorang perempuan yang suaranya sangat di kenal oleh Romy dan Andre.


Andre dan Romy saling pandang lalu langsung menghampiri ruangan itu. Suara keras tadi ternyata berasal dari pintu kamar milik tuan Kurnia yang di buka paksa oleh Bryan. Sementara teriakan perempuan tadi adalah nyonya Lana.


"Kenapa kakek melakukan itu kepada Gita...???!!" Teriak Bryan, matanya terlihat berkaca-kaca dan mukanya memerah karena menahan marah.


"Kenapa keeeekkkk!!!!" Teriak Bryan lagi, Bryan meninju tembok yang ada di depannya. Sementara tuan Kurnia hanya diam saja.


"Selama ini Bryan sudah melakukan apapun yang kakek minta, bahkan Bryan selalu mengabaikan Papa dan Mama demi menjadi cucu yang bisa kakek banggakan!" Seru Bryan lantang menatap kakeknya.


"Kurang apa Bryan sebagai cucu, apa yang salah dengan Bryan. Kenapa kakek melakukan ini????" Ucap Bryan dengan suara lantang.


Jika pria baya di depannya ini bukan kakeknya mungkin Bryan sudah menghajar habis-habisan. Bagaimana bisa orang tua yang selama ini menjadi panutannya bertindak konyol dengan mengancam gadis yang di sukainya.


"Seharusnya,, jika kakek tidak suka dengan Gita, maka kakek juga tidak akan suka dengan Bryan!!" Ucap Bryan, kedua tangannya memegang bahu sang kakek.

__ADS_1


"Bryan..." Ucap Bryan menunjuk dirinya sendiri. "Bryan yang mencintai Gita kek...!!" Lanjutnya menunjukkan ke arah asal, namun disana Bryan seperti melihat Gita.


"Bryan kecewa dengan kakek..." Ucap Bryan lalu berlalu dari hadapan sang kakek dan menuju kamarnya.


Sementara tuan Kurnia hanya diam mematung di depan pintu kamar. Tuan Kurnia sungguh tidak menyangka akan datang hari ini. Ternyata benar, serapat apapun menyembunyikan bangkai bau busuknya akan tetap tercium.


"Pa...." Panggil nyonya Lana memegang lengan pria yang menjadi mertuanya itu.


"Apa yang sudah terjadi?" Tanya nyonya Lana.


Tuan Kurnia terlihat menghembuskan nafas dengan pelan. Dadanya terasa sesak. Selama ini baru kali ini cucu kesayangannya begitu marah dengannya, karena kesalahannya sendiri. Tuan Kurnia berjalan ke sofa yang ada di ruangan itu. Tuan Kurnia memandang kedua orang yang selama ini menjadi orang kepercayaan Bryan.


Romy dan Andre menatap datar ke arah tuan Kurnia. Walaupun tuan Kurnia adalah tetua di keluarga Albara, namun mereka berdua adalah orang-orang Bryan. Dan Bryan pernah menegaskan bahwa selain kepada Bryan mereka berdua tidak boleh takut.


Andre dan Romy saling pandang, terlihat Andre tersenyum miring kepada tuan Kurnia.


"Maaf tuan besar, saya adalah orang yang telah melaporkan kepada tuan Bryan" jawab Andre santai, bahkan ia tidak merasa takut sedikitpun kepada lelaki tua yang sedang menatapnya nyalang.


"Lancang....!!!!!" Ucap tuan Kurnia keras.


"Heh lancang? Apa maksud tuan besar? Apakah menyembunyikan hal ini akan terus membuat anda tenang?" Ucap Romy membela Andre.


"Bukankah selama ini tuan besar tidak pernah merasa tenang, dan bahkan di hantui oleh rasa bersalah" lanjut Andre.


"Saya tau tuan adalah orang kaya, memiliki segalanya. Bahkan bisa mengendalikan hal yang membuat anda tidak suka. Namun tuan harus sadar, bahwa tidak semua hal bisa di kendalikan oleh tuan. Termasuk kehidupan tuan muda Bryan.." ucap Andre membuat tuan Kurnia terdiam.

__ADS_1


"Sudah cukup selama ini tuan besar sekali menyiksa tuan muda. Apakah tuan besar tidak tau bahwa selama ini tuan muda tersiksa karena selalu anda paksa menjadi cucu yang anda suka???" Lanjut Andre.


"Tuan besar tolong jangan egois, selama ini tuan muda cukup tersiksa dengan sikap anda. Dan kami adalah pendukung tuan muda. Kami akan membuat tuan muda bersatu dengan nona Gita. Tidak peduli apapun yang akan tuan besar lakukan. Karena kami tau kebahagiaan tuan Bryan ada pada nona Gita.." jelas Romy lalu menundukkan badannya dan pergi. Andre pun kemudian menyusul langkah Romy.


"Pa,,,, apa yang terjadi???" Tanya nyonya Lana yang tadi diam saja. Perempuan yang menjadi ibu dari Bryan itu sungguh tidak mengerti dengan alur percakapan yang di dengarnya tadi.


"Apa yang telah Papa lakukan sehingga membuat Bryan marah seperti tadi??" Tanya nyonya Lana, namun tuan Kurnia seperti enggan menjawab.


Hening. Tidak ada jawaban dari tuan Kurnia. Lelaki itu hanya menatap ke depan. Fikirannya melayang entah kemana.


"Bagaimana Pa???" Tanya seseorang yang membuat tuan Kurnia dan nyonya Lana menoleh.


"Papa..." Seru nyonya Lana menghampiri sang suami. Perempuan itu pun mengambil alih tas kerja yang tadi di bawa oleh sang suami.


Tuan Arya dan nyonya Lana pun lalu kembali duduk di sofa yang tak jauh dari tuan Kurnia.


"Bukankah sudah ku bilang, Bryan sudah besar. Biarkan dia memilih sendiri jalan hidup yang akan dia jalani. Kita sebagai orang tua hanya perlu mendukung apa yang akan menjadi pilihannya nanti.." ucap tuan Arya yang membuat nyonya Lana semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Tapi aku sungguh tidak menyangka bahwa Papa lah yang menyebabkan Gita menolak Bryan. Bagaimana bisa orang tua seperti Papa mengancam Gita yang saat itu baru lulus sekolah SMA?." Tanya tuan Arya.


"Orang tua macam apa yang bertindak tidak masuk akan seperti itu?" Lanjut tuan Arya.


Di sebelah tuan Arya, nyonya Lana memandang sang suami dan kemudian memandang papa mertuanya. Mendengar ucapan sang suami nyonya Lana jadi sedikit mengerti dengan apa yang membuat Bryan bisa semarah tadi.


"Selain mengecewakan Bryan, Papa juga telah mengecewakan aku.."

__ADS_1


__ADS_2