
Di rumah kediaman Albara. Saat ini nyonya Lana, ibunda dari Bryan sedang sibuk memasukkan baju miliknya dan milik suaminya ke dalam koper.
"Ma, kita cuma lihat Papa Kurnia ada disana atau enggak. Ngapain Mama bawa banyak banget baju?" Tanya tuan Arya.
"Pa... Kita udah lama ngga kesana. Mama kan juga pengen kumpul-kumpul sama jeng Indira sama jeng Siska" jawab nyonya Lana dengan sinis.
"Iya Ma, Papa tau. Tapi kan kita bisa beli baju disana Ma,, ngga semua harus dibawa kayak gini" seru tuan Arya.
Nyonya Lana menghentikan aktivitasnya memasukkan baju ke dalam koper. Ia menjentikkan jarinya lalu menoleh ke arah tuan Arya yang sedang duduk di pinggiran ranjang.
"Betul juga apa yang Papa bilang" seru nyonya Lana bahagia.
Nyonya Lana pun mengeluarkan kembali baju-baju yang sudah di masukkan ke dalam koper, membuat tuan Arya mengerutkan keningnya.
"Mama ngapain?" Tanya tuan Arya heran.
"Ya mama lagi ngeluarin baju lah Pa" jawab nyonya Lana santai.
"Ya tapi ngga gitu dong Ma, baju yang sudah ada di dalam koper ya udah jangan di keluarin lagi" seru tuan Arya gemas.
"Papa ini gimana sih,? Tadi katanya jangan bawa banyak-banyak. Giliran di keluarin salah!!" Seru nyonya Lana marah, nyonya Lana pun berdiri dan meninggalkan tuan Arya sendiri.
"Salah ku dimana????" Tanya tuan Arya menyugar rambutnya.
***
Pagi harinya....
Seperti yang sudah di janjikan semalam, pagi ini Gita dan Karin akan joging di taman. Jam baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Namun Gita dan Karin sudah bersiap untuk joging.
"Karin, nanti sesudah joging ke sini dulu ya kita sarapan bareng" ucap nyonya Indira yang melihat Karin sedang mengenakan sepatu milik Gita.
"Iya Tante, Karin juga udah rindu banget sama masakan di rumah ini" jawab Karin tersenyum bahagia.
"Yaudah kalau gitu Karin mau nyamperin Gita ya Tan" ucap Karin lalu menuju halaman rumah.
Saat Karin baru saja keluar dari pintu, Karin melihat Eka sedang melakukan gerakan senam pemanasan. Sepertinya supir pribadi sahabatnya itu akan ikut serta dalam joging pagi ini. Karin tersenyum sendiri saat melihat Eka. Entah apa yang membuat Karin begitu bahagia. Karin pun segera tersadar dan melihat ke samping kanan dan kirinya, Karin menghembuskan nafas lega saat ternyata tidak ada yang melihat kejadian barusan.
Karin pun segera menghampiri Gita yang sedang mengobrol dengan tukang kebun di rumah itu.
"Ayok Git" ajak Karin saat sudah ada di samping Gita.
__ADS_1
"Lo udah siap?" Tanya Gita.
"Udah dong" seru Karin membuat Gita heran.
"Semangat banget!" Ucap Gita menyenggol lengan Karin.
"Iya dong, untuk sehat kita harus semangat." jawab Karin penuh energi.
"Yaudah pak, kita mau joging dulu ya." Pamit Gita kepada bapak yang bertugas membersihkan taman dan menata bunga di rumah Wijaya.
"Iya non, hati-hati ya non" ucap sang tukang kebun.
"Iya pak" Jawab Gita. Gita pun menoleh ke belakang "Eka! Ayo!" Seru Gita mengajak supir pribadinya.
Eka yang mendengar suara Gita pun segera menghampiri Gita. Di samping Gita, Karin merasakan jantungnya berdebar-debar. Karin memegang dadanya untuk mengatur pernafasan. Gita yang melihat itu langsung saja khawatir.
"Karin lo nggak papa?" Tanya Gita.
"Ahh,,, e... Gue.. nggak papa, hhee..." Jawab Karin tersenyum canggung.
"Beneran?"
Mereka sampai di taman kota. Karin duduk di pinggiran jalan dengan nafas ngos-ngosan.
"Berhenti.. dulu deh. Capek banget gue" seru Karin mengibaskan tangan ke badannya. Terlihat begitu banyak bulir peluh di dahi nya.
"Kayak ngga pernah olahraga aja" ejek Gita lalu ikut duduk di dekat Karin.
"Iya emang.." jawab Karin "gue kalau hari Minggu banyak bangun siang nya" lanjutnya sambil meringis.
Di waktu yang sama, di tempat lain. Pagi ini tuan Kurnia begitu heboh ingin joging pagi bersama cucunya, Bryan.
"Romy, suruh anak kurang ajar itu cepat turun. Aku ingin joging bersamanya" seru tuan Kurnia kepada Romy yang sedang berdiri di samping Denan.
"Baik tuan" ucap Romy
"Tidak perlu, aku sudah turun" ucap Bryan dari arah tangga.
"Kamu itu ya suka sekali membuat orang tua menunggu." Seru tuan Kurnia.
"Mari joging kek, nanti keburu siang" ajak Bryan. Bahkan dirinya berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"Mari tuan" ajak Denan.
Romy dan Bryan sudah beberapa langkah lebih jauh dari Denan dan tuan Kurnia.
"Kau sudah yakin bahwa gadis itu ada di taman saat ini?" Tanya tuan Kurnia kepada Denan dengan suara pelan.
"Sudah tuan. Saya sudah melihat sendiri bahwa nona Gita dan sahabatnya sedang joging tadi pagi" jawab Denan dengan pelan.
"Baiklah, mari kita susul saja"
Sementara di depan, Bryan dengan santai berlari-lari kecil dan Romy mengikuti tuannya.
"Bos, kenapa tuan besar mengajak joging?" Tanya Romy penasaran dan menatap bos nya.
"Mana aku tau. Mungkin saja orang tua itu ingin melihat pemandangan pagi disini" jawab Bryan sekenanya.
Romy pun hanya menganggukkan kepalanya lalu menoleh ke belakang dimana tuan Kurnia dan asistennya sedang berjalan santai.
***
Di apartemen milik Deka. Saat ini seorang wanita sedang tidur dengan nyenyak. Tubuhnya terbungkus dengan selimut tebal. Di sebelahnya Deka sudah terbangun dan bersandar di dipan ranjang. Sudah beberapa hari ini, pria tampan itu mengabaikan Santi. Bahkan pria itu sengaja memblokir sementara nomor Santi setelah malam itu.
"Eemmmhh....." Lenguh perempuan di samping Deka. Perlahan perempuan itu membuka matanya dan langsung melihat ke arah sampingnya.
"Kau sudah bangun?" Tanya perempuan itu kepada Deka dengan suara serak.
"Ya..." Jawab Deka. "Katakan apakah semalam aku terlalu kuat sehingga membuat mu terlalu lelah?" Goda Deka kepada wanita itu.
Wanita itu pun seketika mengingat adegan tadi malam dan membuat pipinya bersemu merah.
"Dasar!!!" Seru perempuan itu memukul pelan lengan Deka lalu bergegas turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Setelah memastikan perempuan itu masuk kamar mandi, Deka mencari ponselnya dan segera membuka blokir kontak Santi. Deka tidak mau Santi menjadi marah dan pemuas na*su nya akan hilang.
'sayang, maaf ya beberapa hari ini sinyal di hp ku hilang. Aku tidak bisa menghubungi mu. Tapi kau jangan marah, karena hari ini aku milikmu. Aku akan menjemputmu di butik" terkirim.
Begitulah pesan Deka untuk Santi. Para perempuan yang mendekatinya tentu saja karena mencintai keperkasaannya dan juga uangnya. Dengan memberikan mereka beberapa lembar uang mereka akan dengan mudah terbuai oleh kata-kata Deka.
Deka tersenyum miring kala mengingat bahwa perempuan disekitarnya bahkan seperti tidak memiliki sebuah harga diri. Sudah banyak Deka menemui perempuan yang menyerahkan diri padanya dengan diganti uang.
"Deka! Kamu kenapa senyum-senyum sendiri???"
__ADS_1