CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 83


__ADS_3

"Iya Pa" jawab Bryan. "Awalnya Bryan pikir Bryan yang akan terkena tembakan itu. Tapi ngga tau gimana kok jadi Gita yang kena" lanjut Bryan menjelaskan.


"Papa lihat, dua kali Gita sudah menyelamatkan Papa. Tapi apa yang Papa lakukan??!" Tanya tuan Arya menatap tuan Kurnia geram.


Bryan menghela nafasnya pelan, "Pa... Kakek sudah merestui hubungan Bryan dengan Gita. Kakek juga sudah meminta maaf." Jelas Bryan. "Tapi,,, kakek juga harus tetap meminta maaf kepada Gita" lanjut Bryan menatap sang kakek.


Tuan Kurnia pun tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana keadaan Gita Pa?" Tanya Bryan ketika ia menyadari bahwa orang tua Gita dan tidak ada di sana.


"Gita sudah sadar. Wijaya dan Indira sedang di dalam" ucap tuan Arya membuat Bryan merasa lega.


"Mari kita makan dulu, kita sudah melewatkan makan siang" seru nyonya Lana yang baru datang. Nyonya Lana datang bersama Karin. Di tangan nyonya Lana membawa satu kresek besar yang berisi kotak nasi. Sedangkan Karin membawa botol minuman.


"Hai kak Bryan" sapa Karin ceria membuat Bryan menyipitkan matanya.


"Makan dulu kak, pasti belum makan kan?" Tanya Karin yang meletakkan botol minuman di bangku kemudian ikut duduk.


"Kau datang bersama siapa?" Tanya Bryan yang kemudian duduk di sebrang di samping sang kakek. Bryan menyerahkan kotak nasi kepada kakek nya dan menatap Karin.


"Sama kak Aldo" jawab Karin sambil meringis.


"Kau sudah berbaikan?" Tanya Bryan penasaran.


"Yaa..." Ucap Karin mengendikkan bahunya.


"Karin kau tidak ikut makan nak?" Tanya nyonya Lana ketika ia baru saja memulai makannya.


"Enggak Tante, sebelum kesini tadi Karin udah makan sama kak Aldo" jawab Karin.


Mereka pun kemudian makan dengan nyaman tanpa sebuah percakapan. Karena mereka pasti lapar sudah melewatkan jam makan siang.


Tak lama nyonya Indira dan tuan Wijaya keluar dari ruangan Gita. Bersamaan dengan itu mereka semua sudah selesai makan.


"Jeng, makan dulu. Kami sudah membelikan makanan untuk kalian" ucap nyonya Lana yang melihat nyonya Indira keluar.


Nyonya Indira pun menghampiri nyonya Lana dan mengambil dua kotak nasi. Ia pun berjalan menghampiri sang suami yang duduk tepat di samping Bryan. Dan menyerahkan satu kotak nasi.


"Wijaya, boleh kah jika paman bertemu Gita?" Tanya tuan Kurnia ketika tuan Wijaya baru menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. "Hanya sebentar saja" lanjut tuan Kurnia.


Tuan Wijaya melihat ke arah istrinya, nyonya Indira pun tersenyum dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ya paman. Silahkan" ucap tuan Wijaya tersenyum.


Tuan Kurnia pun beranjak kemudian masuk ke dalam ruang rawat Gita. Sementara semua yang sedang duduk di ruang tunggu hanya menatap pintu yang telah tertutup.


***


"Apa maksud yang ada di kertas ini Angga?" Tanya tuan Adnan.


Angga tersenyum tipis kemudian sedikit membungkuk menatap sang mertua. Kedua tangannya berada di atas paha.


"Tina bukan anak ku Pa.." ucap Angga membuat tuan Adnan dan nyonya Indri terperangah. Sementara Santi semakin terisak.


"Angga pun ngga tau Tina anak siapa," lanjut Angga dengan mata berkaca-kaca.


"Dulu, sebelum Angga menikahi Santi. Angga memang pernah melakukan sebuah kesalahan hingga merenggut kesucian Santi.. tapi,," ucapan Angga terhenti karena ia ingin menghirup udara sebanyak-banyaknya agar dadanya tidak sesak.


"Waktu itu Aku masih berpacaran dengan Gita. Kemudian Santi datang dengan pesonanya. Aku sudah pernah menolak Santi, tapi entah kenapa malam itu Aku dan Santi bisa melakukan hal yang berdosa tanpa sadar." Lanjut Angga penuh sesal.


"Tunggu,,,, kau bilang. Kau pacaran dengan Gita?" Tanya nyonya Indri. "Gita Wijaya?" Lanjutnya.


"Ya Ma.... Kemudian karena kesalahan ku malam itu Gita memutuskan hubungan denganku dan meminta agar aku bertanggung jawab atas diri Santi" jelas Angga.


"Ma.... A-aku bisa jelasin Ma" ucap Santi terisak.


"Jadi kau merebut Angga dari Gita?" Tanya nyonya Indri.


Santi menelan saliva nya kasar. Ia bingung harus di jawab apa pertanyaan sang Mama.


"Jawab Santi!!!" Seru nyonya Indri lantang.


"I-iyaa Ma..." Jawab Santi takut. "itu semua karena aku cinta sama mas Angga Ma" lanjut Santi sebelum sang Mama marah.


Nyonya Indri menepis kasar tangan Santi yang menyentuh lengannya. Membuat Angga bingung, sementara tuan Adnan hanya diam saja.


***


"Terima kasih" ucap tuan Kurnia ketika ia sudah berdiri tepat di ranjang pasien milik Gita.


Gita yang tadinya sedang asyik mengunyah apel merah kesukaannya pun terkejut dan langsung menoleh ke arah tuan Kurnia.


"Kakek.." gumam Gita.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah menyelamatkan kakek" ulang tuan Kurnia.


Gita tersenyum manis. "Gita bukan menyelamatkan kakek, tapi Gita menyelamatkan kak Bryan" sanggah Gita.


"Ya.. apapun itu terima kasih untuk hal ya yang telah kau lakukan" ucap tuan Kurnia.


Tuan Kurnia pun kemudian berbalik hendak keluar, ketika ia ingin membuka pintu, tuan Kurnia menoleh kembali ke arah Gita.


"Gita, tolong jaga cucu kakek. Buat dia bahagia, biarkan kakek menebus kesalahan kakek kepada Bryan dengan membiarkan dia bersama dengan mu" ucap tuan Kurnia kemudian keluar.


Gita mengerjapkan matanya sedikit tak mengerti dengan apa yang baru saja di katakan oleh tuan Kurnia. Apakah itu artinya sekarang kakek dari kekasihnya itu telah merestui hubungannya. Gita tersenyum bahagia, namun ia kembali terdiam ketika ia merasa jika ini mungkin mimpi. Gita menampar pipinya pelan dan meringis kesakitan.


"Auuu...." Ucap Gita meringis memegang pipi yang baru saja dia tampar dengan pelan.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu.


Tangan Gita mengambang di udara tidak jadi menepuk pipinya untuk memastikan lagi apakah ia bermimpi atau tidak.


"Kau kenapa, hem?" Tanya orang itu mendekat ke arah Gita. Ia meletakkan plastik berisi nasi kotak untuk Gita.


"Apa itu?" Tanya Gita mengabaikan pertanyaan orang itu.


Seseorang yang menjadi kekasih Gita itu hanya mendengus kesal saat pertanyaannya di abaikan. Namun tak urung pun menjawab pertanyaan Gita.


"Nasi kotak. Berisi sayur kangkung dan telur dadar kesukaan mu" ucap nya kemudian duduk di kursi samping ranjang pasien.


Gita pun mengangguk-angguk kan kepala kemudian menyuapkan apel merah ke mulutnya.


"Kenapa kau bisa ada di sana?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Bryan.


"Kakak yang menyuruhku untuk datang bukan?" Tanya balik Gita.


"Ya, maksud kakak bagaimana kau bisa datang tepat di saat tembak itu di lesatkan?" Tanya Bryan menatap Gita, tangannya terulur membenarkan rambut Gita yang menutup wajahnya. Dan sukses membuat pipi Gita bersemu merah.


***


"Kau harus ingat Santi, kalau bukan karena Gita kau tidak akan memiliki butik dan ayah mu tidak akan keluar dari rumah sakit.!!" Seru nyonya Indri.


"Bagaimana kau bisa menjadi benalu untuk Gita, kau merebut milik Gita ketika Gita sudah memberikan sebagian tabungan yang dia punya untuk membantu mu??!"


"Belajar darimana kau Santi? Mama tidak pernah mengajarkan kau melakukan hal hina seperti itu?!!"

__ADS_1


__ADS_2