
Tuan Kurnia memegang kepalanya dengan kedua tangan. Ia sungguh merasa bahwa ia sudah menjadi kakek yang bo*oh dan tidak mengerti apa yang di inginkan cucunya. Padahal Bryan adalah cucu satu-satunya yang ia miliki.
"Tuan..." Ucap Denan khawatir. Namun tuan Kurnia mengangkat tangannya pertanda bahwa ia baik-baik saja.
"Denan.. aku merasa bahwa aku sudah menjadi kakek yang kejam untuk cucuku sendiri" ucap tuan Kurnia menyenderkan punggungnya ke senderan kursi.
"Aku sudah membuat cucuku sendiri merasa terkekang." Ucap tuan Kurnia lagi dengan sedih.
"Tapi, dulu aku mendapatkan foto itu dari Sisi. Mengapa anak itu menipu ku. Bukankah dulu Sisi adalah anak yang polos. Bagaimana bisa dia memiliki niat menipu aku yang sudah tua"
Mendengar itu Denan langsung tersadar. Dan segera mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Tuan, hari ini saya mengikuti nona Sisi dan saya mendapati bahwa nona Sisi datang ke rumah sakit" ucap Denan.
"Ke rumah sakit?" Tanya tuan Kurnia.
"Ya tuan. Saya memiliki fotonya" ucap Denan lalu menunjukkan sebuah foto Sisi yang sedang duduk antri di kursi pasien.
Tidak ada yang aneh memang jika ada seseorang yang duduk di kursi pasien. Namun yang membuat heran adalah di foto itu Sisi sedang mengantri untuk pemeriksaan di ruang obgyn.
"Mengapa Sisi berada di ruang obgyn?" Tanya tuan Kurnia.
"Saya akan menyelidiki lebih lanjut tuan" jawab Denan.
"Ya.. kau keluarlah. Aku ingin sendiri" ucap tuan Kurnia.
"Baik tuan. Saya harap tuan tidak berada di luar terlalu lama. Udara malam tidak terlalu bagus" nasihat Denan pada tuannya. Lalu dia pun undur diri.
***
Di tempat lain, di sebuah warung makan yang berada di pinggir jalan. Eka sedang duduk menunggu seseorang.
"Mas, mau pesan apa?" Tanya sang penjual di warung makan tersebut.
Eka pun melihat daftar menu, yang menjadi andalan di warung makan itu adalah nasi goreng. Kebetulan sudah lama sekali Eka tidak makan nasi goreng. Kira-kira semenjak ia kabur dari rumah.
__ADS_1
"Nanti ya mang, saya nunggu temen saya dulu" jawab Eka.
"Oh, baik kalau gitu. Nanti kalau mau pesen panggil saya saja" ucap sang penjual lalu pergi.
Eka melihat jam di ponselnya. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sebenarnya janji itu di buat pukul tujuh malam lewat lima belas. Namun Eka sengaja datang lebih awal.
Beberapa saat kemudian senyum di wajah Eka terbit ketika melihat bahwa seseorang yang di tunggu nya sudah datang. Eka melambaikan tangannya saat orang itu melihatnya.
"Udah lama?" Tanya orang itu. Lalu duduk di bangku yang ada di depan Eka.
"Belum, saya baru sampe non" jawab Eka berbohong. Padahal dirinya sudah sampai sejak pukul setengah tujuh.
"Non kenapa ngajak saya ketemu?" Tanya Eka.
Perempuan di depan Eka nampak terlihat sedikit gugup. Ia memandang Eka lalu memandang ke arah dapur di warung makan itu. Dan tanpa sengaja matanya bertatapan dengan sang penjual. Penjual di rumah makan itu pun langsung menghampiri ketika tau siapa yang datang.
"Non Karin, mau pesen apa non?" Tanya penjual itu.
"Menu seperti biasa ya mang" jawab Karin.
Penjual itu pun mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang.
"Enggak mang, Gita kebetulan lagi sakit" jawab Karin.
"Sakit apa non? Sampaikan salam mamang ya ke non Gita, semoga cepat sembuh" ucap penjual itu.
"Iya mang, makasih ya" jawab Karin ramah.
"Oh iya mang, nasi goreng nya dua ya. Buat temen saya ini" ucap Karin kemudian.
Mamang itu pun melihat ke arah teman yang dikatakan Karin. Ia sedikit kaget saat tau ternyata pria yang dari tadi duduk disini sedang menunggu Karin.
"Owalah.... Pantesan mamasnya datang dari tadi ternyata mau nunggu neng cantik" kata penjual itu bercanda.
Eka pun menjadi salah tingkah, terlebih saat Karin menatapnya. Eka langsung membuang muka nya ke arah lain.
__ADS_1
"Ya udah non, kalau gitu saya buatkan dulu nasi goreng nya" ucap mamang itu lalu pergi.
Setelah mamang itu pergi, suasana menjadi hening. Baik Eka maupun Karin tidak ada yang berbicara. Mereka hanya saling mencuri pandang lalu sama-sama membuang muka jika salah satu menangkap basah.
"Non, ini pesenannya" ucap mamang itu.
Eka dan Karin pun merasa sedikit terkejut. Mereka lalu tersadar dan melihat penjual yang sedang meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja.
"Makasih mang" ucap Karin.
Karin pun mengambil piring miliknya kemudian mulai makan. Di hadapannya Eka belum makan mulai makan tapi justru memandang Karin yang sedang fokus menyuapkan sesendok demi sesendok nasi goreng ke mulutnya. Tak sengaja Karin melihat ke arah Eka. Dan Karin menangkap basah Eka sedang memperhatikan dirinya. Seketika pipi Karin menjadi merona.
"Ayo makan, nanti dingin" ucap Karin untuk mengalihkan perhatian Eka.
"Iya non" jawab Eka salah tingkah. Lalu Eka pun mulai menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya.
Eka terkejut, rupanya nasi goreng disini begitu enak. Pantas saja Karin menyukainya. Eka pun dengan lahap menyuapkan nasi itu ke mulutnya. Dan tanpa sengaja Karin melihat itu. Gadis cantik itu diam-diam tersenyum tipis.
Tak lama mereka sudah sama-sama menghabiskan nasi goreng di piring masing-masing. Mereka pun kembali diam, Eka yang diam-diam selalu mencuri pandang dan Karin yang bingung menyusun kata-kata apa yang akan di ucapkan nya.
Setelah lama terdiam akhirnya Karin berhasil menyusun kata yang tepat untuk bertanya pada Eka mengenai foto nya yang ada di saku Eka.
"Eka, gue ngajak ketemu lo, karena gue mau tanya sesuatu sama lo" ucap Karin serius menatap Eka.
"Tanya apa non?" Tanya Eka. Perasaan nya sudah mulai was-was. Ia takut perempuan di depannya tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
"Kenapa foto gue ada di saku celana lo?" Tanya Karin dengan wajah datar.
Eka menelan ludahnya. Bagaimana Karin tau? Itu yang ada di benak Eka.
"Hhee.. mungkin non salah lihat" ucap Eka sedikit gugup.
"Bagaimana bisa gue salah mengenali wajah gue sendiri" ucap Karin lalu merogoh tas kecil yang ia bawa kemudian menunjukkan foto dirinya yang berukuran kecil.
Eka membelalakkan mata kaget. Ia bingung darimana Karin mendapat foto itu.
__ADS_1
"Jelasin!" Ucap Karin meletakkan fotonya di atas meja dan menatap Eka.
"Non, sebenarnya...."