
Mata Gita berkaca-kaca mendengar ucapan kakek tadi. Air matanya hampir menetes namun Gita langsung menghapusnya saat ada suara yang sangat di kenalnya memanggil dirinya.
"Gita...." Seru orang itu.
Gita pun menoleh ke arah pria yang baru datang, terlihat pria itu berlari mendekat ke arah Gita.
"Gita, kau sudah menunggu lama?" Tanya pria itu langsung duduk di samping Gita.
Gita hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya lemah. Pria itu yang melihat Gita seperti itu mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau sakit?" Tanya pria itu memegang dahi Gita. Namun tidak terasa panas.
"Kakak kenapa ngajak aku ketemu?" Tanya Gita menatap pria di sampingnya.
"Git, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu" ucap pria itu serius dan menatap Gita.
Pria itu meraih kedua tangan Gita, di tatapnya Gita dengan tatapan yang teduh membuat Gita sedikit gugup.
"Gita, aku suka sama kamu......" Ucap pria itu membuat Gita menatapnya dengan jantung berdebar.
"Aku sudah memendam perasaan ini lama sekali,,, dan baru sekarang aku memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Aku harap kamu memiliki perasaan yang sama seperti diriku. Kamu mau kan jadi pacar aku?" Tanya pria itu menatap Gita penuh harap.
Bahagia??? Gita tentu saja merasa sangat bahagia. Namun kemudian Gita seperti mendengar sebuah bisikan.
'Bryan sudah di jodohkan, jangan terlalu berharap.'
Gita langsung melepas tangannya yang di genggam oleh Bryan. Ia menatap pria itu.
"Maaf kak, aku ngga bisa. Aku ngga suka sama kakak. Dan aku sudah punya pacar" jawab Gita cepat. Tanpa menatap pria itu.
"Gita....." Panggil Gita ingin mengatakan sesuatu hingga....
"Tuan muda....!" Seru beberapa pria yang memakai pakaian serba hitam. Mereka langsung memegang paksa tangan Bryan dan membuat Bryan menjauh dari Gita.
"Lepaskan aku...!" Seru Bryan memberontak.
"Tuan muda, mohon jangan membuat kami susah. Tuan besar sudah memarahi kami habis-habisan karena tuan muda kabur." Ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Tuan muda mohon ikut kami" serunya lagi lalu membawa paksa Bryan.
"Gita, dengerin aku. Aku serius suka sama kamu,! Gita, Gita aku mohon.... Aku beneran suka sama kamu Git....!!" Ucap Bryan berteriak.
Bryan berteriak bahkan sampai suaranya tidak lagi terdengar di telinga Gita. Gita meraup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis sejadi-jadinya. Cintanya usai bahkan sebelum di mulai..
Gita menangis hingga matanya sembab. Lama ia menangis, menangisi sebuah perasaan yang harus ia kubur dalam diam.
Flashback off.
"Gita...!" Seru seseorang dari arah pintu. Dan membuyarkan lamunan Gita tentang masa lalu yang rupanya belum bisa Gita lupakan hingga sekarang.
Gita segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah pintu. Ternyata yang datang adalah Karin. Gita melihat jam, baru pukul sepuluh pagi. Kita pun hendak berdiri untuk menghampiri Karin.
"Udah lo diem disitu aja." Ucap Karin lalu berjalan menghampiri Gita. Kedua tangan Karin pun membawa kresek yang entah apa isinya.
"Gimana keadaan lo?" Tanya Karin saat sudah dekat dengan Gita.
"Gue udah mendingan." Jawab Gita dengan suara serak. Membuat Karin mengerutkan keningnya.
"Ini gue bawain donat sama kue-kue kesukaan lo. Dan ini dari nyokap sama bokap gue." Ucap Karin meletakkan buah tangan yang tadi di bawanya ke atas meja. Karin pun lalu duduk di sebelah Gita.
"Apa??" Tanya Gita menatap Karin.
Karin mengamati wajah Gita. Mata Gita terlihat sembab dan memerah karena menangis terlalu lama.
"Lo kenapa...?" Tanya Karin lembut.
"Gue nggak papa" jawab Gita.
"Git..." Karin menyentuh pundak Gita. "Gue sahabat lo, cerita dong kalau lo lagi ada sesuatu yang lo rasain!"
"Tadi kak Bryan datang kesini" ucap Gita menatap Karin. " Kak Bryan bilang kita perlu bicara" lanjut Gita memeluk Karin dari samping.
Karin pun mengelus punggung Gita, ia tau apa yang dirasakan oleh sahabatnya ini. Karin pun dulu pernah mendengar bahwa Gita dan Bryan adalah dua remaja yang saling memiliki rasa, namun entah apa yang membuat mereka tidak bersama. Karin belum tau tentang itu.
"Gue sedih...." Ucap Gita dengan mata berkaca-kaca. "Lo tau, kak Bryan cinta pertama gue. Tapi gue harus lupain kak Bryan karena kak Bryan udah tunangan Rin.." lanjut Gita mulai menangis.
__ADS_1
Karin ikut merasa sedih, jiwa baper nya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Gita.
"Tapi asal lo tau, gue ngga bisa lupa sama kak Bryan sekalipun gue dulu pernah pacaran sama Angga. Sampai saat ini pun perasaan gue buat kak Bryan masih utuh Rin, masih sama kayak dulu... Hiikss.." cerita Gita sambil menangis.
Sementara diluar rumah. Tuan Anggar yang sedang mengobrol santai dengan Eka dan juga supirnya mendengar seperti orang menangis.
"Kalian dengar???" Tanya tuan Anggar kepada Eka dan supirnya. Tuan Anggar pun menajamkan pendengarannya.
"Suaranya dari dalam rumah tuan" ucap Eka.
"Benar tuan"
Tuan Anggar pun berdiri dan berjalan hendak masuk rumah. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat bahwa cucunya yang sedang menangis. Tuan Anggar diam terpaku di depan pintu. Mendengar cucunya menangis membuat hatinya sakit. Tangannya mengepal memegang erat tongkat yang menjadi teman berjalannya.
'kau harus membayar sakit hari cucuku Kurnia' ucap tuan Anggar dalam hati.
Tuan Anggar pun berjalan kembali ke arah dimana Eka dan supirnya sedang mengobrol ria.
"Dodi, kau antar aku ke rumah Bryan" perintah tuan Anggar.
Dodi, sang supir pun langsung membukakan pintu untuk tuan besarnya dan segera melaksanakan perintah untuk mengantar sang tuan besar ke rumah Bryan. Dodi tentu tahu siapa itu Bryan, sebab beberapa tahun yang lalu Dodi lah yang memergoki tuan Kurnia yang sedang menemui Gita. Dan dari Dodi pula lah tuan Anggar tahu segalanya.
***
Sementara di sebuah apartemen, Deka dan Sisi baru saja selesai melakukan hubungan terlarang yang sudah membuat mereka merasa candu. Kini mereka berada di bawah selimut yang sama. Sisi memeluk tubuh Deka dari samping dan menatap intens teman ranjang nya itu.
"Sayang aku hamil..." Ucap Sisi sambil menyadarkan kepalanya di dada bidang milik Deka.
"Apa???" Pekik Deka kaget. Deka pun spontan langsung duduk bersandar di dipan kasur.
"Kamu kenapa? Kok kaget gitu?" Tanya Sisi heran melihat reaksi Deka.
"Em...em.. engga gitu Si, tapi bukannya setiap kita main selalu pakai pengamanan ya?" Tanya Deka menatap Sisi.
"Kamu lupa, waktu itu kamu pernah ngga pake pengamanan. Aku udah ingetin kamu, tapi kamu malah ngga peduli dan terus nyerang aku.." jawab Sisi.
Deka mende*ah frustasi, kenapa bibit yang ia keluarkan dengan tanpa sengaja bisa tumbuh begitu cepat. Sudah dua wanita yang mengandung anaknya. Deka menarik nafasnya lalu menatap Sisi.
__ADS_1
"Terus bagaimana?" Tanya Deka memegang kedua bahu Sisi.