CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 57


__ADS_3

Andre dan Romy berdiri di depan pagar sebuah panti asuhan. PANTI ASUHAN KASIH BUNDA. Begitu nama panti asuhan itu. Dengan menggendong tas ransel, Andre dan Romy berjalan masuk ke halaman panti asuhan itu.


Di halaman ada banyak anak yang sedang beraktivitas, ada yang sedang bermain, bercanda dan ada juga yang sedang membaca buku. Andre dan Romy berhenti saat menatap dua orang anak yang sedang duduk di bawah pohon rindang dengan memakai pakaian yang sedikit lusuh. Terlihat anak itu sedang bertepuk-tepuk tangan bukan karena sedang memperhatikan temannya, namun dua anak itu terlihat seolah sedang bernyanyi dengan iringan tepuk tangan.


Mata Romy dan Andre berkaca-kaca, melihat dua anak itu mereka jadi ingat dengan masa lalu mereka. Sepulang sekolah pasti akan berdiri di bawah lampu merah. Mereka mengamen dengan modal suara dan juga tepuk tangan.


"Permisi..." Ucap seorang gadis membuyarkan lamunan Rony dan Andre.


Romy dan Andre sama-sama berpaling untuk mengusap mata mereka yang berair. Kemudian menatap ke arah wanita yang tadi menyapa mereka.


"Maaf..." Ucap Andre. "Apakah panti asuhan ini masih di pegang oleh bunda Ria?" Tanya Andre menatap gadis cantik yang mengenakan jilbab berwarna pink itu.


Gadis itu mengernyitkan dahinya meskipun bingung darimana pria di depannya ini tahu nama bunda Ria, namun ia tetap menganggukkan kepalanya.


"Bisakah kami bertemu dengan beliau?" Tanya Andre lagi.


Gadis itu tersenyum manis, "tentu saja boleh. Mari ikut saya" ajak gadis itu sopan. Kemudian berjalan terlebih dahulu.


Andre dan Romy pun saling pandang kemudian mengikuti jejak gadis tadi. Sepanjang melangkahkan kaki, Romy dan Andre menatap bangunan yang telah banyak berubah. Jika dulu panti asuhan ini masih banyak yang berdinding kayu sekarang sudah berdinding tembok bahkan ada yang sudah berlantai keramik.


Andre dan Romy menghentikan langkah ketika mereka sampai di ruangan yang tidak berubah sama sekali. Mata Romy kembali berkaca-kaca. Mereka mengingat sebuah kenangan.


"Bunda.... Ini adalah lukisan ku dan Romy, jangan di hapus ya. Biar nanti kalau aku dan Romy sudah besar kami masih bisa melihatnya" ucap Andre kecil kepada seorang wanita cantik yang mengenakan jilbab besar. Wanita itu hanya tersenyum sambil mengelus kepala Andre dengan lembut.


Namun, setelah mengatakan itu rupanya Andre dan Romy telah di adopsi oleh keluarga Albara. Dan sekarang lukisan pada dinding yang sudah usang itu telah di lihat kembali oleh mereka. Romy melihat ke arah Andre, ia pun menepuk bahu Andre untuk menyadarkan nya.


Romy memberi isyarat mata kepada Andre bahwa mereka sudah tertinggal jauh dari gadis yang tadi.


Mereka pun berjalan dengan sedikit cepat agar bisa mengejar gadis yang sudah berada jauh di depan mereka.


***

__ADS_1


"Mas,, aku pengen keluar jalan-jalan" ucap Santi kepada Angga.


Hari ini adalah weekend. Setelah melahirkan Santi belum pernah keluar sama sekali. Ia selalu di larang oleh ibu dan suaminya.


"Lihatlah, Tina sudah tumbuh menjadi lebih gemuk. Tapi aku belum menghirup udara segar sama sekali" keluhnya lagi.


Angga yang sedang menimang Tina pun menoleh ke arah Santi. Ia memaklumi keluhan istrinya itu. Angga pun mendekat ke arah Santi yang sedang duduk di pinggiran ranjang.


"Baiklah. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di taman dekat komplek" ajak Angga.


"Boleh. Ayuk" ucap Santi bersemangat. Ia kemudian menyiapkan hampers untuk putri kecilnya dan juga baju ganti.


Setelah setelah mereka pun keluar kamar. Di ruang tamu mereka bertemu dengan sang Mama yang sedang mengobrol dengan Papanya.


"Mau kemana?" Tanya nyonya Nana, ibunda dari Santi. Saat melihat anak dan menantunya membawa tas kecil sambil menggendong cucunya.


"Mau ke taman depan Ma. Aku suntuk, sudah sebulan di rumah terus" ucap Santi dengan nada manja.


"Baiklah, ingat jangan pulang terlalu siang. Kasian Tina nanti terkena panas matahari" ucap sang Mama.


Santi pun menganggukkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya. Kemudian di ikuti oleh Angga. Pria yang baru saja menjadi ayah itu terlihat begitu menyayangi putrinya.


***


"Selamat datang bos!" Seru seorang pria bertubuh besar kepada Bryan.


Hari ini adalah hari libur. Setelah mengerjakan pekerjaan yang melelahkan Bryan memilih ke basecamp untuk mengunjungi para anak buahnya. Awalnya Bryan ingin membawa Gita berjalan-jalan namun Gita menolak sebab gadis itu ingin jalan berdua bersama sahabatnya, Karin.


Bryan menganggukkan kepalanya kepada anak buah yang menyambutnya, kemudian dia pun menuju ke ruangan yang biasa di gunakan oleh Andre dan Romy. Dengan di ikuti oleh anak buahnya tadi Romy membuka ruangan itu.


Kosong. Bryan menutup kembali ruangan itu dan menatap anak buah di belakangnya.

__ADS_1


"Dimana mereka?" Tanya Bryan.


"Lapor bos, ketua Andre dan Romy sedang berkunjung ke panti asuhan" jawab anak buah itu.


Bryan sedikit termenung kemudian tersadar kembali saat ia ingat bahwa kedua orang kepercayaan itu berasal dari panti asuhan.


"Bawa aku ke ruangan mu" ucap Bryan.


"Baik bos. Mari..." Ucap anak buah itu mempersilahkan Bryan.


Bryan pun mengikuti anak buahnya menuju ke sebuah ruangan yang sedikit gelap dan sempit.


Pintu ruangan terbuka, di ruangan itu ada dua orang yang sedang berbicara. Melihat kedatangan Bryan mereka langsung berdiri dan menundukkan kepala.


Bryan duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Bryan menatap dua orang tersebut, Bryan menyipitkan matanya saat sadar bahwa salah satu antara mereka adalah pelaku yang hampir merusak nama baik Gita.


Sadar dengan tatapan Bryan yang kurang bersahabat, pria yang memiliki nama Indra itu pun sedikit kikuk. Dirinya tentu tahu kenapa Bryan menatapnya seperti itu.


"Kalian keluar. Tinggalkan dia disini" ucap Bryan kepada kedua anak buahnya. Dua orang yang di perintah pun keluar ruangan.


Kini di dalam ruangan tinggal Bryan dan juga Indra yang sedang menundukkan kepalanya. Bryan menyilangkan kakinya dan menatap datar ke arah Indra, membuat Indra semakin grogi.


***


Di sebuah taman yang ada di pinggiran jalan. Sisi dan Deka sedang duduk berdua. Semenjak hari itu, Sisi dan Deka memutuskan untuk menjalin hubungan pertemanan. Bukan lagi teman mesra di ranjang.


Sisi menyedot jus alpukat yang dipesannya. Sedangkan Deka meminum kopi hitam kesukaannya. Mereka sengaja keluar berdua untuk mencari pria yang telah meniduri Sisi. Bagaimana pun Deka tidak akan bertanggung jawab karena anak dalam perut Sisi bukan anak nya.


Deka meletakkan gelas berisi kopi hitam kemudian mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitar. Mata Deka terpaku saat ia melihat wanita yang begitu ia rindukan sedang berada di meja yang tak jauh darinya.


Mata Deka tak bisa beralih saat melihat wanita itu tengah tersenyum dan menimang seorang bayi perempuan.

__ADS_1


"Putriku" bibir Deka berucap namun tidak mengeluarkan suara.


__ADS_2