CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 76


__ADS_3

"Gita pengen jalan-jalan sama Papa aja" ucap Gita manja sambil nyengir. Ia pun mendekat ke arah sang Papa kemudian memeluk Papa nya dari samping.


Tuan Wijaya yang mendapati putrinya tengah manja pun mengelus rambut harum Gita, menyalurkan rasa kasih sayangnya sebagai seorang ayah.


"Pa..." Panggil Gita setelah beberapa saat ia diam belaian lembut di kepalanya.


"Kenapa?" Tanya tuan Wijaya.


Gita melepas pelukannya kemudian menatap sang Papa. "Bagaimana tentang.... Gita dan..." Gita menggantungkan ucapannya dan menatap manik mata sang Papa.


Gita merasakan jantungnya berdegup kencang, padahal dirinya hanya ingin bertanya bagaimana tanggapan Papa nya jika ia bersama Bryan.


"Kenapa? Katakan pelan-pelan" ucap sang Papa lembut.


Gita menelan saliva nya, "bagaimana tentang Gita dan kak Bryan. Menurut Papa?" Tanya Gita pelan, namun masih bisa di dengar oleh Papa nya.


Tuan Wijaya mengerutkan keningnya, ia sedikit mendengar apa yang baru saja di katakan putrinya. Hanya saja tidak begitu jelas karena Gita berkata sambil menundukkan kepalanya. Tuan Wijaya meraih dagu Gita dan membuat Gita terpaksa menatap ke arah sang Papa.


"Maksud kamu,, jika kamu dengan Bryan?" Tanya tuan Wijaya. Gita pun menganggukkan kepalanya membenarkan, pipi putih Gita pun sudah merona karena pertanyaan sang Papa.


"Rupanya putri Papa sudah dewasa" goda tuan Wijaya kepada Gita.


"Papa ..." Seru Gita merajuk.


Tuan Wijaya pun tersenyum dan menarik Gita ke pelukannya. "Papa percaya Bryan menjaga kamu nak" ucap tuan Wijaya.


Tuan Wijaya mencium puncak rambut Gita, Gita pun memejamkan matanya menikmati kasih sayang yang di luapkan oleh sang Papa.


***


"Apa????" Seru tuan Kurnia keras. Nyonya Lana yang sedang membaca majalah pun terlonjak kaget mendengar suara mertuanya yang lantang.


Menjelang sore, nyonya Lana ingin menikmati waktunya dengan membaca majalah. Tak jauh darinya tuan Kurnia tengah menerima telpon dari seseorang, awalnya mereka berbicara biasa saja. Hingga kemudian entah apa yang di bicarakan oleh seseorang di sebrang sehingga membuat tuan Kurnia tiba-tiba berkata dengan keras.


Nyonya Lana meletakkan majalahnya di meja dan ingin mendekati sang mertua untuk bertanya ada apa. Namun belum sempat nyonya Lana berdiri, pintu sudah di buka dan masuklah Bryan dan juga Romy yang ada di belakang Bryan.

__ADS_1


Baru saja Bryan melangkah masuk beberapa langkah. Tuan Kurnia sudah melempar gelas ke arah sang cucu. Beruntung jelas itu jatuh tepat di bawah kaki Bryan dan tidak mengenai Bryan sedikit pun. Nyonya Lana yang masih duduk di sofa pun menutup mulutnya kaget.


"Bibiii...." Teriak nyonya Lana memanggil asisten rumah tangganya.


Tak lama seorang perempuan baya yang usianya sekitar 50 tahunan datang tergopoh-gopoh. Perempuan itu pun mendekat ke arah nyonya Lana.


"Ada apa nyonya?" Tanya perempuan yang menjadi pembantu di rumah itu.


"Tolong bersihkan pecahan gelas itu ya Bi" perintah nyonya Lana. Sang pembantu pun melihat ke arah bawah kaki Bryan, memang ada pecahan gelas di sana.


Meskipun bingung dengan apa yang terjadi, karena baik Bryan maupun tuan Kurnia hanya diam. Bibi yang menjadi pembantu itu pun segera membersihkan pecahan gelas dengan menyapu pecahnya gelas itu.


Bryan tidak kaget dengan apa yang baru saja di lakukan oleh sang kakek. Bryan justru tersenyum miring melihat tindakan kakek nya.


"Bos tidak apa-apa?" Tanya Romy yang ada di belakang Bryan.


"Aman" jawab Bryan.


Nyonya Lana pun langsung mendekat ke arah sang putra dan segera memegang kedua lengan Bryan. Melihat apakah gelas tadi sempat mengenai Bryan.


"Bryan tidak apa-apa Ma" ucap Bryan melihat raut wajah Mama nya yang khawatir.


Sementara tuan Kurnia sudah menatap tajam ke arah Bryan dan Romy. Sementara kedua pria yang masih muda itu hanya menanggapi santai tatapan tajam tuan Kurnia. Bryan duduk di sofa dan Romy berdiri di samping Bryan.


"Apa yang telah kau lakukan Bryan?!" Tanya tuan Kurnia keras. Dada pria tua itu naik turun karena emosi.


Baru saja ia mendapat telpon dari orang tua Sisi bahwa Sisi telah di nikahkan oleh Bryan, bukan di nikahi, tapi di nikah kan.


"Lan*cang!!!" Teriak tuan Kurnia.


"Kakek... Jangan teriak-teriak. Nanti kakek terkena serangan jantung" ucap Bryan santai.


Tak lama nyonya Lana datang membawa dua gelas jus jeruk yang di letakkan di atas nampan. Nyonya Lana meletakkan jus ke atas meja. Dan ingin mendengar apa yang akan di bicarakan oleh putra dan mertuanya itu.


"Ma.... Bryan ingin makan malam dengan sayur sop, ayam kecap, dan juga tumis ati ampela buatan Mama" ucap Bryan menatap hangat sang Mama.

__ADS_1


Nyonya Lana pun tersenyum simpul kemudian berdiri kembali. "Baiklah, Mama akan memasakkan itu semua" ucap nyonya Lana mengelus rambut Bryan kemudian berlalu ke dapur.


Bryan menatap punggung sang Mama hingga tidak terlihat kemudian menatap kembali ke arah kakeknya.


"Aku...."


"Bukankah yang di lakukan oleh Bryan sudah benar?" Tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah. Spontan Bryan, Romy dan juga tuan Kurnia pun menatap ke arah pintu.


Bryan tersenyum melihat siapa yang baru saja mengucapkan kalimat yang menyenangkan itu.


***


Jakarta sudah menjelang sore. Kendaraan pun sudah berlalu lalang karena memang sudah jam pulang kantor. Namun berbeda dengan para pedagang yang ada di pinggiran jalan ini. Mereka akan tutup jika jualan mereka sudah habis terjual. Termasuk pedagang kebab yang saat ini sedang membuatkan pesanan kebab untuk dua orang yang baru saja tiba.


"Karin, maafin kakak" ucap Aldo. "Kakak bener-bener nyesel Rin" lanjutnya memelas.


Ya, pelanggan kebab yang baru saja tiba adalah Karin dan Aldo. Mendengar ucapan Aldo, Karin hanya mengalihkan pandangannya ke arah jalan yang macet karena banyaknya kendaraan yang berlintas.


"Karin..." Panggil Aldo lembut, tangan nya meraih jemari Karin yang ada di atas meja. Namun baru saja tersentuh, Karin langsung menarik kembali tangannya. Aldo hanya menatap nanar ke arah Karin.


Tak lama pesanan kebab mereka pun sampai. Mereka makan dalam hening, Karin yang terlihat menikmati kebab nya sedangkan Aldo yang sibuk mencuri-curi pandang ke arah Karin.


Mereka makan dalam diam hingga kebab yang mereka pesan sama-sama habis tak tersisa. Setelahnya Karin pun menyesap jus alpukat yang di pesannya. Jujur saja, dalam hati Karin ia sudah memaafkan Aldo. Namun entah kenapa begitu sulit mengatakan itu.


"Aku sudah selesai" ucap Karin kemudian berdiri dan meninggalkan Aldo.


Aldo pun segera berdiri dan menghampiri penjual kebab, Aldo menyerahkan selembaran uang merah dan bergegas menyusul Karin yang sudah berjalan lebih dulu.


"Mas... Kembalian nya!" Seru penjual kebab itu memanggil Aldo.


"Buat bapak saja" teriak Aldo yang sudah sedikit jauh.


"Alhamdulillah,,," ucap penjual kebab itu kemudian membereskan meja yang baru saja di pakai oleh Karin dan Aldo.


"Karin tunggu!" Seru Aldo.

__ADS_1


Karin berhenti dan menatap datar ke arah Aldo. "Aku sudah memaafkan kak Aldo" ucap Karin pelan namun masih bisa di dengar oleh Aldo.


Aldo terpaku di tempat, ia memandang Karin yang ternyata sudah masuk ke dalam mobil.


__ADS_2