
"Mengapa kau mengajak ku bertemu?" Tanya tuan Kurnia kepada tuan Wijaya yang kini ada di depannya.
Tuan Wijaya tersenyum tipis. Beberapa hari yang lalu Gita telah menceritakan bahwa hubungan antara Gita dan Bryan mungkin belum bisa berlanjut secara terang-terangan karena ada sang kakek yang masih menentang hubungan mereka dengan alasan Bryan akan menikah dengan gadis pilihan kakeknya, walaupun sebenarnya gadis itu sudah hamil dan menikah dengan pria lain.
Awalnya tuan Wijaya mengira anaknya mengada-ada tapi setelah ia menemui Bryan dan Bryan mengatakan hal yang sama tuan Wijaya jadi ingin bertemu dengan kakek dari Bryan untuk mengetahui kejelasan yang lebih jelas.
"Paman tau Gita dan Bryan saling mencintai?" Tanya balik tuan Wijaya mengabaikan pertanyaan tuan Kurnia.
"Aku tau" jawab tuan Kurnia.
"Lalu kenapa paman menentangnya?"
"Heh, karena Bryan sudah aku jodohkan dengan perempuan lain"
"Maksud paman perempuan yang telah menjajakan dirinya kepada banyak pria hingga dirinya hamil?"
Rahang tuan Kurnia mengeras mendengar pertanyaan tuan Wijaya. Rupanya berita itu sudah sampai di telinga Wijaya. Sebenarnya tuan Kurnia merasa malu mengetahui Sisi hamil anak orang lain, namun rasa malu itu terkalahkan dengan rasa bersalah yang ia miliki atas nyawa yang telah di korbankan mendiang kakek Sisi.
"Paman bukan orang bo*doh. Aku hanya tidak menyangka jika ternyata keluarga Kurnia yang berpendidikan akan memiliki calon menantu yang sama sekali tidak etis dan tidak memiliki attitude." Ucap tuan Wijaya, tatapan yang semula bersahabat kini menjadi tajam menatap ke arah tuan Kurnia.
"Seharusnya paman sadar. Bagaimana jika paman yang berada di posisi Bryan. Apakah paman akan memilih menikahi Sisi atau tetap memperjuangkan cintanya kepada Gita. Jangan memperbesar egois karena rasa bersalah paman. Karena paman akan kehilangan semuanya jika paman tetap mempertahankan keegoisan itu. Termasuk kehilangan Arya dan juga Bryan dalam hidup paman" lanjut tuan Kurnia kemudian berdiri.
"Pikirkan lagi dengan baik-baik paman. Bryan bukan robot yang bisa kau atur sesuka hatimu. Bryan memiliki hati dan perasaannya sendiri. Bukankah sudah sejak kecil kau menuntut nya untuk menjadi anak yang kau inginkan. Jadi bisakah paman membiarkan kali ini saja Bryan memilih jalan hidupnya sendiri" ucap tuan Wijaya lagi kemudian beranjak pergi meninggalkan tuan Kurnia dengan pemikirannya.
__ADS_1
***
"Santi, kamu kenapa?" Tanya nyonya Indri, ibunda Santi.
Santi yang sedang menimang baby Tina dalam ayunan dan sedikit melamun pun tersentak mendengar suara sang Mama, Santi segera menoleh ke arah sang Mama yang sudah di dekatnya.
Santi menghela nafasnya, "Santi ngerasa kalau mas Angga sedikit berubah akhir-akhir ini Ma" ucap Santi menatap sang Mama sendu.
Pagi ini setelah Angga pergi untuk bekerja Santi langsung meluncur ke rumah sang Mama. Santi begitu sedih dengan sikap Angga yang akhir-akhir ini berubah padanya. Angga kembali menjadi dingin padahal sebelumnya sudah berubah hangat dan lembut.
Nyonya Indri mengelus lembut rambut Santi, "sayang,,,, dalam rumah tangga pasti ada ujian. Sikap Angga yang kembali dingin anggap saja sebagai sebuah ujian. Bukan kan sebelumnya Angga bersikap dingin. Tapi lambat laun dia sudah menjadi hangat. Coba ingat-ingat apakah kau melakukan kesalahan atau mungkin Angga hanya lelah karena terus bekerja" nasihat sang Mama.
Santi tak menjawab perkataan sang Mama. Santi menyenderkan kepalanya di bahu sang Mama sambil tangannya terus mengayun baby Tina yang tertidur. Nyonya Indira mengelus rambut Santi, menyalurkan rasa sayang nya sebagai seorang ibu.
***
Siang ini Angga sengaja makan siang di luar kantor untuk menghindari keramaian yang ada di kantin perusahaan. Sebab pikirannya sedikit agak kacau, terlebih saat ia melihat surat hasil tes DNA antara dirinya dan anaknya sendiri. Pikirannya terbagi dua, antara harus percaya atau tidak.
Pria yang di tanyai oleh Angga justru duduk dan memanggil pelayan restoran.
"Kopi hitam tanpa gula ya mbak" ucap orang itu dan di angguki oleh pelayan.
Merasa pertanyaan nya di abaikan, Angga memilih melanjutkan makannya. Sementara orang di depannya mengalihkan pandangannya ke arah jalan yang memang terlihat dari restoran yang berjendela kaca bening itu.
__ADS_1
Hingga pesanan nya datang dan kopi sudah di minum sedikit. Orang itu tetap diam, membuat Angga sedikit risih. Namun Angga tak berniat mengusirnya ia tetap melanjutkan makannya hingga tersisa beberapa sendok saja sampai pria di depannya berdehem dan membuat Angga melihat ke arah orang itu.
"Kau masih ingat dengan ku?" Tanya orang itu melepas topi yang sejak tadi di pakainya.
Angga meletakkan sendok nya di atas piring kemudian menatap ke arah orang yang ada di depannya. Kening Angga sedikit mengkerut mencoba mengingat siapa pria yang ada di depannya. Sebab dalam ingatannya pria ini sedikit tidak asing.
Mata Angga sedikit melebar saat ia mengingat siapa pria yang kini duduk di hadapannya.
"Kau??" Ucap Angga kaget. "Kau yang pernah menggendong putriku waktu itu" lanjutnya masih dengan ekspresi bingung. Kenapa pria asing waktu itu menemuinya.
"Kau yakin itu anak mu??" Tanya orang di depannya dengan menatap datar ke arahnya membuat Angga bingung dan kemudian ia mengingat hasil tes DNA yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Angga kemudian menatap nyalang ke arah pria yang sudah mengenakan topi nya kembali. Mungkin pria di depannya ini adalah ayah kandung dari anaknya?
***
Malam ini adalah malam kebahagiaan untuk Aldo karena bisa mengajak Karin ke sebuah pasar malam. Sudah lama sekali Aldo ingin mengajak Karin jalan-jalan ke pasar malam. Dan akhirnya setelah meminta izin kepada tuan Bram dan nyonya Siska, akhirnya Aldo bisa membawa Karin jalan-jalan.
Di lokasi yang sama namun di tempat yang berbeda saat ini Gita dan Bryan sedang menikmati es krim sambil melihat-lihat komedi putar. Tangan mereka saling bertautan erat. Bibir mereka sebentar-sebentar tersenyum saat melihat atau mendengar suara orang-orang yang ketakutan. Gita sendiri tidak bisa naik karena ia akan mabuk jika menaiki komedi putar.
Tak jauh dari mereka ada dua orang yang sedang mengawasi gerak-gerik dari Bryan dan Gita. Sebenarnya sudah sejak awal Bryan sadar dengan kehadiran orang itu namun Bryan tetap santai karena tak jauh dari sebrang Bryan dua orang kepercayaannya ikut serta mengawasi Bryan.
"Kakak kenapa?" Tanya Gita heran melihat Bryan yang bergerak gelisah. Bahkan matanya terus melihat ke arah sana yang sedikit gelap.
"Nggak papa kok" jawab Bryan kemudian menghabiskan es krim di tangannya.
__ADS_1
"Ada yang ngawasin kita ya?" Tanya Gita ikut melihat ke arah yang gelap. Namun Gita tidak melihat siapapun.
"Gitaaa!!!!" Panggil seseorang membuat Gita yang sedikit parno terkejut.