
Setelah lama menyalurkan rasa rindu, Bryan dan Gita sama-sama melerai pelukan mereka. Gita menunduk malu saat Bryan menatapnya. Mereka pun berdiri karena merasakan kram pada kaki mereka. Bryan sudah berdiri namun Gita masih tetap jongkok karena Gita merasa kakinya kebas tidak bisa di gerakkan.
"Kenapa?" Tanya Bryan.
Gita pun mendongak menatap Bryan. "Kaki aku kram" jawab Gita.
Bryan pun tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Ayo kakak bantu berdiri" ucap Bryan.
Gita pun menerima uluran tangan Bryan dan mencoba berdiri. "Aduuhh..." Keluh Gita.
"Duduk dulu sini.." ucap Bryan membawa Gita duduk ke bangku yang ada di belakang mereka.
Mereka hening cukup lama, Gita yang sedang memijat ringan kakinya dan Bryan yang dengan bahagia memandang wajah cantik Gita. Sadar dirinya sedang di perhatikan Gita pun menoleh ke arah Bryan.
"Kenapa?" Tanya Gita menatap Bryan, tangannya pun masih memijat-mijat kakinya.
"Kamu cantik..." Jawab Bryan tersenyum manis. Pria itu menopang wajahnya dengan satu tangan sambil memperhatikan setiap sudut wajah Gita yang menurutnya sempurna.
Blush.. Mendengar jawaban Bryan membuat Gita merasa malu dan langsung menolehkan pandangannya ke arah samping. Sementara Bryan hanya menikmati ekspresi Gita yang malu-malu.
"Udah mendingan.." seru Gita menggoyangkan kakinya. Gita pun mencoba berdiri dan ternyata sudah tidak terasa kram.
"Kalau gitu, Gita pulang dulu" ucap Gita berpamitan kepada Bryan.
Bryan pun lalu berdiri, meraih pundak Gita agar gadis itu menatap kearahnya.
"Gita,,, kamu mau kan sama-sama memperjuangkan rasa kita..?" Tanya Bryan meraih kedua tangan Gita. Sementara Gita hanya menatapnya.
"Kakak sangat mencintaimu..." Ucap Bryan mencium kedua tangan Gita. "Sebisa mungkin kakak akan membuat kakek membatalkan pertunangan itu" lanjut Bryan.
Gita tersenyum mendengar itu, sungguh ia sangat bahagia saat tahu ternyata rasa Bryan masih utuh untuknya. Namun, membatalkan pertunangan? Apakah bisa?
__ADS_1
"Kalau gitu Gita pulang dulu ya" pamit Gita melepas tangan yang masih di genggam Bryan.
"Baiklah,, kau harus berhati-hati.." pesan Bryan kepada Gita.
Gita pun tersenyum dan berlalu meninggalkan Bryan. Selepas kepergian Gita, Bryan melihat ke sekeliling ruangan yang seperti kapal pecah. Bryan berkacak pinggang dan menghembuskan nafasnya kasar. Bagaimana ia bisa bertindak bodoh dan bahkan dirinya yang seperti tadi di lihat langsung oleh Gita. Bryan menepuk jidatnya lalu langsung membereskan ruangan yang berantakan itu.
Saat ini Gita sudah berada di jalanan yang lumayan padat karena kebetulan saat ini pukul empat sore. Dan jam tersebut ramai-ramainya masyarakat Jakarta pulang dari bekerja. Gita menoleh ke arah luar untuk melihat apakah jalanan begitu padatnya. Padahal jarak rumah Bryan dan rumah Wijaya tidak terlalu jauh.
Gita menoleh ke arah jendela dan menajamkan penglihatannya saat ia melihat dua insan berbeda jenis kelamin sedang bercanda di pinggiran jalan. Gita sangat mengenali pria dan wanita yang saat ini sedang duduk di bangku kayu, mereka sedang menikmati ramainya sore hari sambil menikmati sepiring batagor di tangan masing-masing.
Gita ingin berkata pada Romy jika ingin turun sebentar namun belum sempat Gita berbicara Rony sudah melajukan kembali mobilnya karena ternyata jalanan di depan sudah sedikit lenggang. Gita pun hanya bisa menatap ke arah dua orang yang sedang tertawa lepas seperti sangat bahagia.
Gita kembali menghadapkan pandangannya ke depan lalu menoleh ke arah dua orang itu kembali. Meskipun jaraknya sudah jauh.
"Ada apa nona?" Tanya Romy dari bangku depan. Saat melihat dari spion dalam Gita sering melihat ke arah luar.
"Ah, tidak ada apa-apa" jawab Gita lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
"Baik nona" jawab Romy. Romy pun segera menepikan mobilnya ke sebelah kiri dan berhenti tepat di depan toko buah yang tadi di tunjuk oleh Gita.
"Aku akan membeli buah terlebih dahulu, kau tunggu sebentar" ucap Gita lalu turun dari mobil. Romy pun menganggukkan kepalanya dan menunggu Gita di dalam mobil.
Tak lama Gita sudah keluar dari toko buat itu. Di kedua tangannya memegang dua kantong plastik yang sepertinya berisi buah.
"Oke. Antar aku pulang ya" ucap Gita setelah masuk ke dalam mobil dan duduk. Di tangannya memegang sebuah apel yang ternyata sudah ia gigit sebelumnya.
Romy pun segera menjalankan kembali mobil dan menuju kediaman Wijaya.
Sementara di tempat lain, di pinggiran jalan. Dua insan yang sedang jatuh hati kini sedang menikmati batagor yang di pesan sekitar 15 menit yang lalu.
"Aku pikir kamu ngga bisa makan ditempat seperti ini?" Tanya sang pria yang sudah menghabiskan batagor di piringnya.
__ADS_1
Wanita di depannya pun tersenyum belum menjawab pertanyaan pria itu, karena di dalam mulutnya masih penuh makanan.
"Kenapa?" Tanya wanita itu kemudian setelah ia menelan makanannya.
"Kamu anak orang kaya. Dan ini adalah makanan pinggiran jalan." Ucap pria itu.
Wanita itu meletakkan piring yang sudah kosong di meja lalu menatap ke arah pria yang akhir-akhir ini mewarnai hidupnya.
"Aku sama Gita sering makan di tempat kayak gini. Selain karena makanan yang mereka buat cocok di lidah. Jika kita membeli makanan mereka sama seperti kita membantu mereka" jawab wanita itu memandang ke arah sang pria sambil tersenyum.
Mereka kemudian hening, sang wanita yang sedang minum air dan sang pria yang sedang menatap ke arah wanita yang sangat di cintainya.
***
Romy berjalan dengan santai menuju ke ruangan kerja bos nya. Di tangan pria itu membawa sebuah kresek.
"Woy Rom.!" Seru Andre saat melihat Romy. Terlihat Andre sedang membawa kresek hitam yang entah apa isinya namun terlihat sangat berat.
"Yoi.." jawab Romy. "Apa yang lo bawa?" Tanya Romy heran.
"Bantuin gue kek" seru Andre kesal melihat Romy yang masih saja diam berdiri tidak segera menghampiri Andre.
"Yaelah.... Lagian apa sih.?" Tanya Romy langsung menghampiri Andre.
Romy membuka kresek hitam yang di bawa oleh Andre. Romy membuang nafasnya kasar lalu segera membantu Andre mengangkat kresek hitam itu.
"Lo yang bersihin ruang gym bos?" Tanya Romy. "Sendirian?" Lanjutnya. Padahal pertanyaan pertama belum di jawab oleh Andre. "Banyak banget sampahnya." Gerutu Andre.
"Berisik. Cuma bantu bawa sampe depan doang." Ucap Andre menatap Romy sinis. Sementara Romy hanya mendengus kesal.
Mereka sudah sampai di depan dan meletakkan kresek hitam besar berisi sampah itu ke depan gerbang. Yang mana nanti akan ada petugasnya sendiri yang mengambil. Saat mereka berbalik dan sedang menepuk-nepuk tangan karena membersihkan debu dari kresek itu, mereka melihat seseorang yang sedang menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Jangan mencoba merusak kembali apa yang sudah di perbaiki. Kami tidak akan tinggal diam..!"