CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 108


__ADS_3

Tak terasa waktu dua bulan berlalu begitu saja, hari ini di rumah Bryan di sibukkan dengan kegiatan persiapan tiga bulanan anak mereka.


Para calon Oma dan Opa sedang berbincang di ruang tamu. Sementara yang menyiapkan makanan adalah orang-orang yang di bayar oleh Bryan. Bagaimana pun menurut Bryan lebih baik menyuruh mereka yang pandai memasak daripada pesan menu katering. Sebab itu akan membantu keuangan dari orang-orang yang membutuhkan seperti para ibu-ibu yang saat ini sedang menyiapkan menu-menu khas desa untuk acara tiga bulanan.


Selain itu juga karena ini adalah permintaan Gita. Gita suka sekali jika memakan 'among-among' yang ia peroleh dari tetangga sang kakek saat dirinya tengah liburan di desa tuan Enggar. Jadi Gita pun ingin memberikan makanan itu juga kepada para tamu undangan yang akan mereka undang. Jadi, para ibu-ibu yang saat ini memasak di belakang pun adalah para ibu-ibu yang di datangkan dari desa tuan Enggar.


Awalnya Bryan sempat menolak, sebab itu akan memberatkan pihak keluarga yang akan di tinggal oleh para ibu-ibu. Meskipun sementara tapi tetap saja Bryan seperti tidak tega. Namun, Gita justru merajuk dan melakukan aksi mogok makan serta mogok bicara. Akhirnya Bryan merasa kalah dan menyetujui permintaan Gita. Gita pun meminta maaf dan menyarankan agar pada bapak yang menjadi suami dari ibu yang akan memasak itu di ajak kemari juga. Itung-itung agar bisa membantu pekerjaan ibu-ibu yang mungkin terasa berat.


"Selamat pagi neng" sapa seorang wanita bertubuh lumayan berisi menyapa Gita yang sedang duduk memperhatikan para ibu-ibu yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Pagi Bu" balas Gita ramah. Ia pun tersenyum.


Gita kembali memperhatikan aktivitas para ibu-ibu, ada yang sedang menghaluskan bumbu masakan menggunakan ulekan dari batu, katanya biar rasanya khas dan lebih enak daripada di haluskan dengan blender. Ada yang sedang memasak urap, yaitu beberapa jenis sayuran seperti daun singkong, daun bayam, daun pepaya yang di masak hingga masak kemudian akan di campurkan dengan bumbu urap yang terbuat dari kelapa muda yang telah di beri bumbu khas.


Mata Gita terpaku pada beberapa ibu-ibu yang sedang membuat aneka jajanan untuk jamuan para tamu undangan nanti. Gita pun beranjak dari duduknya dan menghampiri para ibu-ibu itu.


"Permisi Bu" ucap Gita ketika sudah dekat dengan ibu-ibu itu.


Mereka yang di sapa pun menoleh dan menatap wajah ayu Gita.


"Jangan jongkok neng, duduk di kursi itu saja" ucap salah seorang ibu yang melihat Gita ingin jongkok.


Gita pun melihat kursi plastik yang ada tak jauh di samping nya. Kemudian Gita pun duduk di kursi itu.


"Gita boleh minta jajanan ini ngga ya Bu?" Tanya Gita pelan.


"Risol sama kue lapis ini?" Tanya ibu itu memastikan.


Gita pun mengangguk dengan wajah sumringah.


"Boleh atuh neng, ibu ambilin dulu" ucap ibu itu kemudian menatap beberapa risol dan kue lapis yang sudah di potong-potong ke dalam piring.


"Banyak banget Bu" ucap Gita ketika melihat piring itu penuh oleh risol dan kue lapis.


"Ngga apa-apa neng, biasanya kalo lagi hamil muda suka ngga doyan makan. Tapi suka ngemil, jadi ini ibu kasih banyak. Risol nya ini ngga berminyak kok, kue lapis nya juga ngga terlalu manis" jelas ibu itu.

__ADS_1


"Ya udah , makasih ya buk, Gita permisi dulu" pamit Gita kemudian pergi dengan membawa sepiring penuh risol dan kue lapis.


"Neng nya teh baik pisan ya cek," ucap ibu itu selepas Gita pergi.


"Iya, kalo ngga baik mah mana mungkin kita di suruh masak disini. Saya mah seumur-umur baru kali ini masuk ke rumah orang kaya, rumahnya mewah banget lagi" timpal salah satu ibu-ibu yang sedang memotong kue lapis.


"Iya, semoga teh rumah tangga mereka langgeng sampai maut memisahkan" ucap ibu itu kembali.


"Aamiin" jawab ibu-ibu yang lain kompak. Mereka pun melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.


**


"Nanti malam acara tiga bulanan istri Bryan," ucap ayah Sisi saat makan siang bersama.


"Lalu?" Tanya sang istri.


"Papa ingin kesana. Papa ingin meminta maaf kepada paman Kurnia dan juga keluarga nya" jawab ayah Sisi dengan nada menyesal.


Sang istri pun mengelus bahu sang suami,dan tersenyum kemudian mengangguk.


"Mama akan ikut Papa... Memang sudah seharusnya kita mengikhlaskan apa yang sudah terjadi di masa lalu Pa." Ucap sang istri.


"Kita ajak Sisi dan suaminya juga. Bagaimana pun Sisi juga pernah membuat kesalahan dengan istri Bryan, Sisi juga harus meminta maaf" saran sang istri.


"Papa setuju"


"Kalau gitu, sekarang kita langsung ke rumah Sisi pa, biar sekalian kita cari hadiah untuk Bryan dan istrinya. Masa kesana dengan tangan kosong" ucap sang istri.


"Iya Pa, Mari kita siap-siap dulu"


Mereka pun kemudian siap-siap dan setelah selesai mereka langsung mengunci rumah dan menuju rumah putrinya, Sisi.


***


"Sayang, kapan kita punya anak kayak Gita dan Bryan" ucap Aldo manja kepada Karin.

__ADS_1


Pria muda itu bahkan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Karin sehingga Karin merasa geli.


"Apaan sih! Nikah juga belum" sergah Karin sinis.


"Makanya ayok nikah" ucap Aldo merengek seperti anak kecil. Aldo bahkan memeluk erat tubuh Karin dari samping.


"Kak.... Khuuk... Aku ngga bisa nafas" ucap Karin mencoba melepas pelukan Aldo yang terlalu mencekik dirinya.


"Sayang aku mau nikah!!!!" Teriak Aldo ketika melihat Karin berjalan cepat menjauh darinya setelah berhasil melepaskan diri dari pelukannya.


Teriakan Aldo pun membuat para bapak-bapak yang sedang menyiapkan tenda untuk acara nanti malam menoleh ke arah Aldo. Mereka hanya tersenyum geli melihat kelakuan Aldo.


Dalam hati mereka berkata "orang kaya mah bebas ngomong nikah di mana aja"


Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan mereka ketika melihat Aldo menyusul Karin yang sudah masuk rumah.


Karin mencari keberadaan sang sahabat, sudah bertanya kepada orang-orang yang ia temui bahkan kepada keluarga yang sedang mengobrol dan membantu menyiapkan 'berkat' untuk malam nanti namun tidak ada yang tau keberadaan Gita.


"Gita mana sih" gumam Karin sedikit kesal karena tidak berhasil menemukan keberadaan Gita.


Karin pun berjalan menaiki tangga menuju kamar yang biasa ia gunakan untuk quality time bersama Gita saat Bryan sedang tidak di rumah. Namun, langkah kaki Karin terhenti ketika ia sayup-sayup mendengar suara tangisan. Karin semakin menajamkan telinganya dan sampai di ruangan yang pintunya sedikit terbuka.


"Gita!!" Panggil Karin membuka pintu dengan kasar sehingga menimbulkan suara keras.


Karin terpaku ketika melihat Gita menangis sampai terisak. Gita bahkan langsung memeluk tubuh Karin yang masih berdiri di ambang pintu.


"Karin, hiks hiks.. kak Bryan jahat." Ucap Gita dengan terisak.


Sementara Bryan langsung menggelengkan kepalanya ketika Karin menatapnya dengan sadis.


"Sayang...."


"Jangan sentuh-sentuh aku!!!" Teriak Gita lantang kemudian berjalan cepat keluar dari ruangan itu meninggalkan Karin yang masih bingung. Sedangkan Bryan langsung menyusul Gita yang sedang berlari.


"Sayang jangan lari" seru Bryan.

__ADS_1


Gita pun turun tangga dengan sedikit pelan karena ia ingat bahwa dirinya tengah mengandung. Gita melihat sang Mama yang sedang mengobrol dengan sang mertua lantas memanggil nya.


"Mama!!!!" Teriak Gita kemudian berhambur ke pelukan nyonya Indira membuat Indira kebingungan.


__ADS_2