
Setelah perselisihan yang cukup lama antara Gita dan Romy akhirnya Romy setuju untuk membawa Gita menemui Bryan. Bagaimanapun Romy memang tetap akan menbuat Gita bertemu bos nya itu, meskipun jika Gita tidak meminta membawanya.
Mobil yang melaju dengan sedikit cepat itu sudah hampir sampai di gerbang rumah Bryan. Gita memandang rumah itu, masih sama seperti waktu itu. Gita menghela nafasnya kasar, ia harus bersiap menghadapi orang tua yang mengancamnya waktu itu. Di depan, Romy yang mendengar helaan nafas Gita yang sedikit panjang dan kasar melirik dari kaca spion dalam. Romy mungkin saja mengerti dengan apa yang ada di pikiran Gita.
Tak lama mobil pun sampai di halaman rumah Bryan. Rumah itu nampak sedikit sepi. Di halaman ada beberapa pekerja yang sedang melakukan tugasnya masing-masing. Gita turun dari mobil dan melihat sekeliling, Gita tersenyum ramah saat ada pekerja yang melihat ke arahnya.
"Mari nona...." Ucap Romy saat sudah ada di samping Gita.
Gita pun menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti langkah kaki Romy. Mereka masuk ke dalam rumah, ruang tamu terlihat kosong. Gita bisa bernafas lega, setidaknya dia tidak perlu repot menghadapi kakek dari pria yang di sukainya itu. Namun, ternyata Gita salah, orang yang di hindari nya sedang duduk di ruang keluarga, di temani oleh sang asisten.
Jantung Gita berdebar saat akan melewati orang itu. Gita takut jika langkahnya akan di hentikan dan dia akan di ancam seperti waktu itu. Lama Gita berjalan hingga melewati orang itu, namun orang itu hanya memandang Gita dengan tatapan yang sulit Gita artikan. Gita pun bisa bernafas lega, lalu menatap kedepan dan mengikuti langkah Romy yang sepertinya akan naik ke atas.
Setelah sampai di lantai atas, Romy segera membuka pintu dan menatap Gita.
"Silahkan masuk nona" ucap Romy sopan.
Gita pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Sampai di dalam Gita dibuat terkejut dengan keadaan ruangan yang sedikit berantakan. Ruangan yang menurut Gita adalah ruang olahraga namun saat ini lebih mirip ruang untuk menampung barang bekas.
Gita memperhatikan sekeliling ruangan itu, begitu banyak lembaran kertas berserakan dan juga Gita mengerutkan keningnya saat melihat sebuah benda pipih yang layarnya sudah hancur bahkan sudah tak berbentuk lagi.
Gita berjalan dan mengambil benda pipih itu, yaa rupanya itu memang ponsel Bryan. Gita lalu melihat ke arah seseorang yang sedang duduk di kursi sambil *******-***** rambutnya. Gita merasa prihatin dengan keadaan pria itu. Hanya memakai celana pendek dan juga kaos oblong.
Gita pun menghampiri pria itu dengan tatapan sendu. Sementara pria itu belum sadar dengan kehadiran seorang wanita yang akhir-akhir ini sangat ia rindukan. Gita yang hanya memakai sendal selop tentu saja tak menimbulkan suara saat ia melangkahkan kakinya.
"Kak...." Panggil Gita lembut menyentuh bahu pria itu.
Pria itu pun melepas rematan tangannya di kepala lalu menoleh. Ia ingin percaya namun bisa saja ini hanya halusinasi.
"Gita,,, lihat. Bahkan kakak bisa merasakan kehadiran mu disini. Percayalah, kakak sangat mencintai mu Git...." Ucap pria itu sedih. Tubuhnya lalu luruh di lantai.
"Kenapa kakek membuat kita berpisah. Padahal dia tahu bahwa aku hanya mencintaimu. Seandainya kamu datang...." Raung pria itu memukul-mukul lantai.
__ADS_1
Gita terenyuh melihat itu, Gita Kun berjongkok di samping Bryan lalu membawa Bryan ke dalam pelukannya.
"Ini Gita kak... Ini beneran Gita..." Ucap Gita sambil memeluk Bryan.
Bryan segera melepas pelukan Gita dan menatap Gita. Mata mereka bertemu. Terlihat dengan jelas bahwa keduanya sedang memendam perasaan rindu yang dalam. Memiliki cinta yang sama. Dan tentu saja sama-sama tersakiti dengan keputusan yang bukan mereka ambil sendiri.
"Gita...." Seru Bryan lalu membawa Gita kedalam pelukannya.
"Maafin kakak," ucap Bryan mengelus rambut Gita. "Seandainya dulu kakak lebih tegas terhadap keputusan kakek pasti kamu tidak akan terluka" lanjut Bryan.
Dalam pelukan Bryan, Gita menggelengkan kepalanya. Disini, saat ini yang merasa terluka bukan hanya Gita namun juga Bryan. Gita tau pasti Bryan terpukul dengan apa yang telah di lakukan oleh sang kakek.
Pemandangan Bryan sedang memeluk Gita di saksikan oleh seseorang yang selama ini membuat mereka tak bisa bersama.
Orang itu menatap ke arah dua insan yang saling berpelukan dengan kasih sayang. Ada rasa lega, dan juga rasa sesal di hatinya. Tak lama orang itu pergi dari sana di ikuti oleh orang kepercayaannya.
"Kak Bryan...." Panggil Gita melerai pelukan.
"Kenapa kakak menyiksa diri kakak sendiri?" Tanya Gita menatap Bryan.
"Kakak mencintaimu Git...." Ucap Bryan begitu saja. Sungguh hanya kalimat itu yang bisa di lontarkan oleh Bryan.
Hati Bryan begitu bahagia saat melihat Gita ada di depannya.
"Gita..." Panggil Bryan saat Gita diam tak menanggapi ucapan Bryan.
Gita menatap Bryan dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya Gita juga ingin berkata bahwa dia juga sangat mencintai Bryan.. Namun lagi-lagi Gita harus membohongi perasaannya. Gita lantas berdiri tanpa menjawab Bryan. Namun saat hendak melangkah tangan Gita di tahan oleh Bryan.
"Katakan... Apakah kau juga mencintai kakak?" Tanya Bryan menatap Gita.
Gita segera memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Bryan. Jantungnya berdegup kencang saat ini.
__ADS_1
"Jawab kakak Gita!" Seru Bryan sedikit memaksa.
Gita mendorong pelan tubuh Bryan, lalu menatap Bryan.
"Maaf kak, Gita harus pulang" ucap Gita enggan menjawab pertanyaan Bryan. Gita lalu melangkahkan kakinya menjauhi Bryan.
Bryan yang tidak puas dengan ucapan Gita, langsung mengejar Gita dan memeluk Gita dari arah belakang.
"Jangan tinggalin kakak lagi Git...." Ucap Bryan.
Gita menghela nafas berat, "diantara kita ngga akan bisa sama-sama lagi kak" ucap Gita mencoba melepas pelukan Bryan.
Sadar dengan gerakan Gita, Bryan langsung mempererat pelukannya. "Kakak ngga akan biarin kamu pergi" ucap Bryan.
"Jika Gita bilang kalau Gita juga cinta sama kakak, apa kakak akan melepaskan Gita?" Tanya Gita putus asa. Sudah lama sekali pelukan itu namun tak di lepas oleh Bryan, sehingga Gita tak memiliki pilihan lain.
Bryan yang mendengar perkataan Gita langsung melepas pelukan dan membuat Gita menghadap dirinya.
"Katakan sekali lagi..."
Gita menghembuskan nafas kasar dan memandang ke arah lain.
"Gita juga cinta sama kakak" ucap Gita cepat. Bryan pun langsung membawa Gita ke dalam pelukannya lagi. Memeluk Gita penuh kasih sayang.
Sementara Gita tersenyum simpul dalam pelukan Bryan. Merasakan nyaman nya dalam pelukan dada bidang Bryan.
Tanpa mereka sadari, dua orang sedang mengamati mereka dengan senyum yang merekah di bibir mereka. Setelah puas melihatnya, dua orang itu pun menutup pintu dan pergi dari ruangan itu.
___
berikan like dan komentar kalian ya guys ... dukung author selalu.
__ADS_1
dan maaf juga kalau jarang update karena author sedang sibuk mengerjakan tugas.
terima kasih 🤗