
"Kamu kenapa?" Tanya seseorang yang menggendong putri kecilnya. Di belakang orang itu ada kedua orang tua Santi.
"Bangun, kamu malu-maluin aja" ucap sang Mama.
Putri kecil Santi pun di serahkan kepada neneknya dan seseorang itu membantu Santi berdiri kemudian membawa Santi duduk di kursi.
"Kamu habis ketemu siapa?" Tanya sang Papa ketika melihat terdapat tiga gelas jus jeruk di atas meja.
"Gita" jawab Santi pelan.
Nyonya Indri langsung menoleh dan menatap tajam Santi.
"Kau masih berani menemui Gita?!" Tanya nyonya Indri.
Santi menatap sang Mama. "Santi cuma mau minta maaf Ma..." Ucap Santi.
"Semua sudah terlambat Santi. Waktu kamu mau ngrebut Angga dari Gita apa kamu memikirkan perasaan Gita. Dan sekarang setelah Gita baru memulai kisah barunya kamu justru membuat Gita mengingat masa lalu nya yang menyakitkan itu?" Tanya nyonya Indri.
"Apa maksud Mama?" Tanya Santi tak mengerti.
"Gita akan bertunangan tiga hari lagi. Mama sama Papa juga diundang oleh Wijaya" ucap nyonya Indri.
"Udah lah, Mama mau nyari hadiah buat Gita dulu" lanjut nyonya Indri.
"Tina biar sama Mama. Ayok Pa" seru nyonya Indri mengajak sang suami. Nyonya Indri pun berjalan lebih dulu keluar dari cafe itu.
"Santi" panggil seseorang dengan lembut.
Santi menatap pria itu. Deka. Pria yang ternyata sangat mencintai nya. Seminggu setelah Angga menceraikannya tanpa sengaja Santi bertemu dengan Deka kembali. Santi menceritakan apa yang telah terjadi dengan kisah rumah tangga nya. Dan Deka menjadi tempat bersandar Santi. Hingga beberapa hari kemudian Deka mengatakan bahwa dia mencintai Santi. Bahkan Deka menerima ejekan juga pukulan dari orang tua Santi. Namun ternyata Deka tidak mundur. Karena Deka sangat mencintai Santi.
***
__ADS_1
"Kak.. Ini serius kakak yang nyiapin ini semua buat aku?" Tanya Gita ketika ia melihat sebuah gaun yang elegan namun tampak mewah.
"Iya, karena kamu pecinta warna hitam. Kenapa kita ngga nyoba buat bikin gaun couple warna hitam kan?" Tanya Bryan.
Gita tersenyum, tangannya terulur memegang gaun yang memiliki lengan panjang berwarna hitam namun di hiasi oleh pernak-pernik mutiara putih. Kerah leher gaun itu berwarna putih dengan pinggiran hitam. Begitu juga dengan rok bawahnya perpaduan antara hitam putih. Kain yang di pilih pun lembut. Gita menatap Bryan.
"Terima kasih kak" ucap Gita. "Gita sukaa banget" lanjutnya.
"Tuan Bryan dan nona Gita sudah siap untuk mencoba gaunnya?" Tanya seseorang membuat Bryan dan Gita menoleh ke arah orang itu.
"Ah iya Bu" jawab Bryan kaku.
Wanita yang mungkin hanya berselisih beberapa tahun dari Bryan itu pun tersenyum ramah.
"Mari, biar kami bawa nona Gita untuk di make over sekalian mencoba gaun yang telah di siapkan" ucap orang itu kemudian menarik pelan tangan Gita menuju ruang ganti. Sementara dua orang yang tadi belakang nya membawa gaun Gita.
Setelah memastikan Gita masuk ruang ganti Bryan pun mengambil pakaiannya dan masuk ke ruang ganti pria.
Bryan membuka ponselnya untuk mengatasi kejenuhan dan ia melihat sebuah video yang beberapa saat lalu di kirimkan oleh Aldo. Bryan tersenyum melihat kiriman video itu. Namun ada yang membuat kening Bryan mengkerut. Ketika ia melihat seorang wanita asing sedang membantu Andre menata dekorasi dinding. Saat Bryan ingin menelpon Aldo suara pintu dari arah ruang ganti Gita berbunyi.
Bryan memasukkan ponselnya dan menatap ke arah dimana Gita sedang berdiri menatapnya. Gita memakai pakaian yang serasi dengannya. Rambutnya di sanggul membuat lehernya yang jenjang terlihat menggoda. Bibirnya yang tipis di poles dengan lipstik warna pink dan di sisi kanan dan kiri rambut Gita di buat keriting. Anting-anting mutiara yang tadi di beli Bryan pun di pakai oleh Gita.
Bryan beranjak dan langsung menghampiri Gita. Gita yang melihat Bryan tidak berkedip ketika melihatnya pun tersenyum malu. Bryan sudah berdiri di depan Gita, namun Bryan tidak sanggup mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Gita dengan penuh cinta. Senyum menawan Gita, pipi yang bersemu merah.
"Maaf tuan, kita akan segera mengambil potret" ucap seorang pelayan yang menyadarkan Bryan dari pandangannya. Ia beralih menatap ke arah pelayan pria itu kemudian menganggukkan kepalanya.
Mereka pun berjalan ke ruangan yang telah di persiapkan untuk mengambil potret mereka.
Pose pertama, Bryan dan Gita saling berhadapan dan saling tersenyum. Pose kedua, tangan Gita berada di bahu Bryan sedangkan tangan Bryan memeluk pinggang Gita dengan posesif. Dan banyak pose mereka yang membuat sang kameraman dan juga beberapa pelayan yang membantu proses pemotretan itu baper dan berdecak kagum karena Bryan dan Gita adalah couple goals.
***
__ADS_1
"Ekheem" dehem seseorang membuat Andre menoleh dan langsung menatap ke arah orang itu datar.
"Aku kesana dulu ya kak" ucap seorang perempuan yang tadi ada di samping Andre dan membantu Andre memasang bunga-bunga di dinding.
"Apa?" Tanya Andre dengan raut wajah kesal.
"Seneng banget lo bercanda bareng tuh cewek" ucap orang itu yang tak lain adalah Romy.
"Kalo suka tembak, ajak nikah. Inget anak orang jangan di bikin sakit hati" ledek Romy kemudian pergi meninggalkan Andre yang sedang kesal.
Di sisi lain, Karin sedang mengatur beberapa orang untuk memasang hiasan di langit-langit rumah itu. Gita merupakan anak tunggal dan Bryan adalah anak tunggal juga jadi acara mereka harus di adakan dengan mewah.
"Iya disitu, waahh... Bagus banget." Ucap Karin ketika mendapati hiasan di langit-langit rumah itu sudah terpasang dengan rapi dan bagus.
Karin pun berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya ke sofa. Karin mengipasi dirinya dengan kertas yang sejak tadi dipegangnya.
"Capek?" Tanya seseorang sembari memberikan segelas air dingin kepada Karin.
Karin menerima air dingin itu dan menyedotnya hingga separuh. "Lumayan" jawab Karin sambil meletakkan air dingin itu di atas meja.
"Udah selesai?" Tanya Karin.
"30 persen lagi selesai. Tinggal nunggu dekorasi yang lain aja. Kalau dekorasi balon dan bunga-bunga sih udah selesai" ucap orang itu yang tak lain adalah Aldo.
"Capek banget aku" ucap Karin manja kemudian memeluk Aldo dari samping.
Aldo tersenyum samar kemudian mengelus rambut Karin yang tetap wangi meskipun sudah keringat an.
"Gita sama kak Bryan lama banget deh" seru Karin masih dalam pelukan Aldo.
Belum sempat Aldo menjawab handphone Karin bergetar. Karin pun mengambil benda pipih miliknya yang terletak di atas meja dan membuka satu pesan yang baru masuk.
__ADS_1
Mata Karin melotot, ia menutup mulutnya yang sedikit menganga. Sementara Aldo mengerutkan keningnya heran.