CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 38


__ADS_3

Jika Karin dan Eka sedang makan bersama di sebuah rumah makan pinggir jalan. Maka berbeda dengan Gita dan Bryan yang makan di sebuah restoran mewah. Tempat itu sengaja di pesan oleh Bryan untuk di persembahkan kepada Gita. Bryan tau wanita seperti Gita lebih menyukai pemandangan yang indah dibandingkan belanja barang mewah. Seperti saat ini Gita dan Bryan sedang berada lantai atas restoran tersebut. Di lantai atas itu mereka di suguhi dengan pemandangan yang sangat indah. Gemerlap bintang yang bertaburan di langit dan juga indahnya kota malam di Jakarta.


Gita menatap pemandangan itu, pemandangan yang dulu pernah dia impikan. Dulu Gita sangat berharap bisa melihat pemandangan seperti saat ini bersama lelaki yang di cintainya. Dan tidak disangka bahwa saat ini hal itu benar-benar terjadi, dan meskipun Gita sadar bahwa Bryan saat ini bukan lah pria yang boleh dicintainya sebab Bryan sudah memiliki tunangan.


Mata-mata Gita berkaca-kaca, bagaimana pun ia masih merasa hatinya sakit saat fakta kembali mengingatkan dirinya tentang status Bryan saat ini.


"Git...." Panggil Bryan.


Gita yang sadar bahwa saat ini dia tidak sendiri, langsung mengusap air mata yang belum sempat jatuh dan menoleh ke arah Bryan. Bibir Gita pun menyunggingkan senyum manisnya.


"Kamu mau pesen apa???" Tanya Bryan.


Gita mengambil buku menu yang ada di atas meja lalu melihat-lihat makanan apa yang cocok di lidahnya. Gita membolak-balik buku menu itu namun tidak menemukan makanan yang menarik perhatiannya. Padahal gambar makanan yang tersedia sudah sangat menggoda namun tetap tidak menarik untuk Gita.


Gita menutup buku menu itu dan mengembalikan ke meja. "Aku ngga pesen" ucap Gita.


"Kenapa?" Tanya Bryan.


"Makanan disini memakai...." Belum sempat Gita menyelesaikan ucapannya Bryan langsung menyahut.


"Kamu masih ngga suka daging???" Tanya Bryan "kamu masih tetep suka nasi goreng di tempatnya mang Rahmat?" Lanjut Bryan menatap Gita dengan tersenyum.


Gita pun menundukkan kepalanya, ia malu sekaligus haru. Gita merasa terharu karena ternyata Bryan masih ingat dengan makanan kesukaannya. Namun Gita juga malu karena sampai saat ini masih belum bisa menyukai makanan yang berasal dari daging.


"Kalau gitu kita makan di tempat mang Rahmat saja?" Ajak Bryan.


Gita langsung mendongakkan kepalanya menatap Bryan. "Engga usah kak. Kakak makan disini aja, aku nemenin kakak" ucap Gita menolak ajakan Bryan. Kedua tangannya pun ia kibaskan kedepan pertanda bahwa ia menolak.


Namun bukan Bryan jika ia bisa di tolak, Bryan langsung berdiri dan meraih tangan Gita. Bryan membawa tangan Gita agar berdiri dan mengikuti langkah kaki Bryan.


Sementara di warung makan nasi goreng mang Rahmat. Karin dan Eka baru menyelesaikan acara makannya.


"Kheemm.." Eka berdehem. "Jadi gimana jawaban nona?" Tanya Eka menatap Karin.


Karin pun meletakkan jus jeruk yang baru saja ia minum lalu menatap Eka. Saat ini Karin sudah lebih bisa menguasai dirinya. Meskipun masih sedikit grogi namun ia sudah bisa mengendalikan kegugupan nya.


"Jawaban apa yang kamu inginkan?" Tanya Karin.


"Saya harap nona ka...." Eka ingin berkata namun sudah di potong oleh Karin.

__ADS_1


"Aku menerima mu menjadi kekasihku..." Ucap Karin cepat bahkan nyaris tak terdengar dengan jelas di telinga Eka.


Eka mengerutkan keningnya, ia masih ragu dengan apa yang baru saja ia dengar "apa nona? Apakah nona bisa mengulanginya"


"Apa telinga mu sudah tidak berfungsi??" Tanya Karin.


"Ten..tentu saja masih normal" ucap Eka gugup.


"Jadi kau sudah mendengarnya kan" ucap Karin santai. Eka di buat sangat terkejut hingga langsung berdiri.


"Nona, menerima saya??"


"Nona mau jadi pacar saya???"


"Nona serius kan???? Nona ngga bercanda kan.???" Ucap Eka berturut-turut dengan suara yang keras sehingga membuat semua pengunjung di rumah makan itu menatap ke arah Eka dan Karin.


"Iyaa.... Udah jangan gitu. Malu di liat banyak orang" ucap Karin sedikit memalingkan wajahnya.


Eka pun langsung melihat ke sekeliling mereka dan benar saja, rupanya banyak pasang mata yang sedang melihat kehebohan dirinya. Eka pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan langsung duduk kembali.


"Maaf..." Ucap Eka.


Eka pun langsung berdiri dengan tersenyum. Mereka berdua pun langsung pergi dari sana setelah membayar makanan mereka. Setelah mereka keluar dari warung itu Eka mencoba meraih tangan Karin untuk di genggamnya. Eka menatap ke arah Karin.


"Boleh kan?" Tanya Eka lalu mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Karin.


Karin pun menatap Eka lalu mengangguk. Karin buru-buru memalingkan wajahnya ke arah jalan untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah. Sementara Eka yang melihat itu hanya terus tersenyum. Sungguh malam ini malam yang sangat membahagiakan untuk Eka.


"Kita langsung pulang?" Tanya Eka.


"Iya." Jawab Karin.


"Non tadi.."


"Panggil Karin aja" potong Karin.


"Oh, oke.. non eh Karin tadi kamu kesini naik apa?" Tanya Eka yang belum terbiasa memanggil nama Karin tanpa embel-embel nona.


"Aku jalan kaki," jawab Karin.

__ADS_1


"Kenapa ngga di anter Andi?"


"Males aja," jawab Karin. karena sejujurnya ia ingin jalan berdua bersama Eka.


Mereka pun terus berjalan menyusuri malam yang belum larut. Tangan mereka pun masih saling bertautan.


Di warung makan mang Rahmat, Gita dan Bryan baru saja masuk ke rumah makan itu. Mereka pun mencari tempat duduk yang kosong. Gita menatap Bryan, Gita pikir Bryan tidak akan mau jika makan di tempat seperti ini. Namun ternyata justru Bryan yang mengajaknya makan di warung makan sederhana seperti ini.


Saat mereka baru saja duduk, mereka pun menjadi pusat perhatian. Bagaimanapun seorang wanita cantik dan juga pria tampan makan di rumah makan yang sangat sederhana. Bisikan-bisikan pun mulai terdengar, entah itu memuji ketampanan Bryan atau memuji kecantikan Gita.


Tak lama sang penjual yang bernama mang Rahmat pun menghampiri mereka.


"Non Gita.." sapa mang Rahmat.


"Iya mang," jawab Gita ramah.


"Non Gita sudah sembuh? Kata non Karin beberapa hari yang lalu non Gita lagi sakit" ucap mang Rahmat.


"Iya mang, saya udah sembuh kok. Karin kapan kesini mang?" Tanya Gita.


"Beberapa hari yang lalu non Karin kesini" jawab mang Rahmat.


Di depan Gita, Bryan yang melihat interaksi Gita dan penjual itu pun tersenyum tipis, ternyata Gita-nya masih sama seperti dulu, tidak sombong.


"Tapi non Karin juga tadi kesini non, baru aja pergi" ucap mang Rahmat lagi.


"Beneran mang? Kok ngga ketemu ya?" Jawab Gita.


"Mungkin beda jalan non" ucap mang Rahmat


"Iya kali ya mang. Karin kesini sendiri mang?" Tanya Gita.


"Enggak non. Non Karin kesini bareng temennya terus" jawab mang Rahmat.


"Temen???" Ucap Gita kaget, teman mana yang di maksud mang Rahmat.


"Iya non, ganteng,baik lagi" jelas mang Rahmat.


"Karin kesini bareng cowok mang?" Tanya Gita kaget.

__ADS_1


__ADS_2