
jangan lupa berikan like kalian dan juga vote ya. selamat membaca.....
**
"Gita....!" Seru nyonya Indira saat melihat putrinya di papah oleh Eka dan terlihat bahwa lutut putrinya berdarah.
"Papaaaa!!!!" Teriak nyonya Indira memanggil sang suami lalu segera menghampiri putrinya.
"Eka, ayo bawa nona duduk di sofa" perintah nyonya Indira.
Tanpa menjawab Eka pun memapah nona nya untuk duduk di sofa ruang tamu. Tak lama tuan Abdi yang mendengar teriakan istrinya pun datang tergopoh-gopoh.
"Mama, kenapa?" Tanya tuan Abdi.
"Lihat Gita pa!" Seru nyonya Indira.
Tuan Abdi pun langsung menoleh ke arah putrinya yang sudah duduk di sofa dengan lemas. Gita bahkan menyandarkan tubuhnya ke sofa karena dirinya cukup lelah. Terlebih Gita memiliki pobia saat melihat darah.
Nyonya Indira pun langsung mengambil kotak p3k lalu duduk berjongkok di hadapan Gita.
"Karin tolong ambilkan Gita air minum ya" suruh nyonya Indira pada Karin. Karin pun langsung berlari ke arah dapur dan mengambil air untuk Gita.
"Non, kenapa non?" Tanya mbok Na.
"Gita jatuh mbok" jawab Karin lalu segera kembali ke ruang depan.
Mendengar jawaban Karin mbok Na pun langsung menyusul Karin dan melihat bagaimana keadaan nona mudanya.
"Auu,,,sakit mam" seru Gita saat sang mama terlalu menekan lukanya.
"Siku Gita kaku banget mam. Ngga bisa di gerakin" keluh Gita saat akan meluruskan tangannya namun tidak bisa.
"Ya Ampun nak," ucap sang mama khawatir. "Eka telpon dokter Ken, suruh segera datang kesini!" Perintah nyonya Indira kepada Eka.
"Baik nyonya" jawab Eka dan langsung merogoh ponselnya lalu menghubungi dokter Ken.
"Iya dokter, tolong dokter segera ke rumah tuan Abdi" ucap Eka kepada dokter Ken melalui sambungan telepon.
"Gita, kamu ngga apa-apa sayang" tanya tuan Abdi.
"Gita cuma ngerasa lemes Pa" ucap Karin dengan nada suara lemah.
__ADS_1
"Sebentar lagi dokter Ken pasti datang" ucap sang Papa merasa khawatir dengan sang putri yang terlihat pucat.
"Sayang, luka kamu udah mama bersihkan. Sekarang mama akan membersihkan siku kamu yang berdarah" ucap nyonya Indira.
Hening.... Tidak ada jawaban dari Gita. Saat nyonya Indira mendongak.
"Gita!" Seru nyonya Indira membuat semua yang disitu melihat ke arah Gita.
Bersamaan dengan itu dokter Ken masuk ke dalam rumah.
"Ada apa tuan?" Tanya dokter Ken.
"Gita.." ucap tuan Abdi.
Dokter Ken langsung melihat ke arah Gita yang pucat dan terlihat lemas.
"Biar saya tangani tuan" ucap dokter Ken.
Dokter Ken pun langsung memeriksa nadi Gita. Lalu melakukan pemeriksaan untuk memeriksa detak jantung Gita.
"Tuan, karena pobia nona terhadap darah jadi nona Gita kehilangan kesadaran" jelas dokter Ken.
"Tolong ambilkan saya air es!" Seru dokter Ken.
Mendengar itu mbok Na yang ada disitu pun langsung menuju dapur dan mengambil air es. Tak lama mbok Na pun kembali dengan membawa wadah berisi air es.
***
Ditempat lain, di sebuah gedung yang terbengkalai dan tidak pernah di pakai untuk apapun. Seorang pria duduk dengan angkuh di bangku usang didalam gedung itu. Ia menatap marah pria yang saat ini duduk di lantai di depannya.
"Dasar bo*oh!!!" Ucapnya keras. "Aku membayar mu mahal dan ternyata kau gagal melaksanakan tugas!" Lanjutnya.
"Ma..maafkan saya tuan" ucap orang itu dengan perasaan takut.
"Maaf katamu?" Seru tuan itu. "Kau gagal membuat orang tua itu mat*" serunya.
Seseorang yang di panggil tuan itu lalu memberi kode kepada bodyguard di belakangnya. Lalu kedua orang yang berbadan kekar itu pun membawa paksa orang yang tadi terduduk di lantai.
"Kau beruntung kali ini" ucapnya penuh amarah yang tertahan. Lalu kemudian meninggalkan tempat kotor itu.
***
__ADS_1
Di rumah Bryan, di ruang makan. Saat ini tuan Kurnia sedang melakukan sarapan pagi bersama cucunya. Namun tuan Kurnia tidak memakan satu suap pun makanan yang ada di depannya. Padahal biasanya tuan Kurnia adalah seseorang yang sayang makanan dan tidak pernah membuang-buang makanan. Hal itu terlihat oleh mata Bryan.
"Kakek" panggil Bryan. Namun tidak dijawab oleh tuan Kurnia.
"Kakek!" Seru Bryan agak keras dan membuat tuan Kurnia kaget lalu spontan melihat ke arah Bryan.
"Kenapa?" Tanya tuan Kurnia.
"Kakek yang kenapa?" Bryan balik bertanya. "Kenapa sarapan kakek tidak di makan?" Lanjut Bryan.
"Kakek hanya sedang kepikiran dengan gadis yang sudah menyelamatkan kakek tadi" ucap tuan Kurnia dan membuat Bryan teringat dengan Gita.
"Untuk apa kakek peduli?" Tanya Bryan membuat kening tuan Kurnia mengkerut.
"Nama gadis itu adalah Gita. Anggita Fara Natasya. Gadis cantik yang Bryan su..... Ah sudahlah. Itu bukan hal yang penting" ucap Bryan tidak melanjutkan ucapannya lalu bangkit dari duduk.
"Kakek silahkan lanjut sarapan. Bryan mau ke atas" ucap Bryan lalu pergi menuju ke kamarnya yang ada di lantai kedua.
Tuan Kurnia menatap punggung cucunya yang sedang menaiki tangga itu. Setelah di pastikan Bryan sudah benar-benar masuk ke kamar.
"Denan!" Panggil tuan Kurnia.
"Ya tuan, apakah ada yang yang ingin saya lakukan?" Tanya Denan mendekat ke arah tuan Kurnia.
"Bagaimana hasil penyelidikan mu tentang Sisi?" Tanya tuan Kurnia menyandarkan dagunya ke tangan.
"Dari hasil penyelidikan saya, semenjak sampai Jakarta hingga saat ini nona Sisi belum pernah menginap di hotel mana pun dan juga tidak menyewa sebuah penginapan tuan. Hanya waktu itu saat nona Sisi sedang bersama pria itu." jelas Deka.
"Baiklah. Kau kumpulkan semua bukti jangan sampai ada yang terlewat. Mungkin suatu hari itu akan berguna" ucap tuan Kurnia.
"Baik tuan" jawab Denan.
"Kau keluar lah,, tinggalkan aku sendiri!" Perintah tuan Kurnia.
Denan yang mendapat perintah itu pun langsung undur diri.
"Kalau begitu saya permisi tuan. Jika tuan butuh sesuatu tuan bisa memanggil saya" ucap Denan lalu pergi dari ruang makan.
Tuan Kurnia pun berpangku tangan. Teringat bayangan saat dia di selamatkan oleh gadis yang selama ini dia benci, bahkan sebelum tuan Kurnia bertemu dengan Gita langsung. Ada perasaan tidak nyaman saat tuan Kurnia mengingat masa lalu.
"Bryan, apakah memisahkan mu dengan gadis itu adalah sebuah kesalahan?" Tanya tuan Kurnia bermonolog.
__ADS_1