
"Gita,,, Tante maafin Bryan" ucap Bryan duduk bersimpuh di lantai dan menghadap nyonya Indira.
Tuan Wijaya yang melihat itu langsung meraih bahu Bryan dan membawa Bryan duduk di sampingnya. Sementara di bangku sebrang nyonya Lana menutup mulutnya menahan tangis ketika melihat Bryan dengan penampilan acak-acakan dan ada sedikit noda darah di bajunya.
"Ada... Apa Bryan?" Tanya nyonya Indira dengan mata memanas.
"Gita tertembak" ucap Bryan pelan, kepalanya menunduk ke bawah.
Tubuh nyonya Wijaya terasa lemas mendengar perkataan Bryan. Tuan Wijaya langsung memeluk sang istri. Begitu pula dengan tuan Arya langsung memeluk tubuh nyonya Lana yang mulai terisak juga.
"Ba-bagaimana bisa itu terjadi Bryan?" Tanya nyonya Indira terisak.
Bryan meremas rambutnya kasar, air matanya jatuh. Ia merasa bo*doh karena tidak bisa melindungi Gita. Dan Bryan juga yang meminta Gita menemuinya. Seharusnya Bryan menjemput Gita di rumah dan mereka berangkat bersama.
"Ini salah Bryan Tan, seharusnya tadi pagi Bryan menjemput Gita dan berangkat bersama." Jawab Bryan dengan suara serak.
Tidak ada jawaban, yang ada hanyalah suara tangis nyonya Indira.
"Bos" panggil Romy, menepuk pelan bahu Bryan.
Bryan mendongakkan kepalanya menatap Romy. Romy duduk di samping Bryan kemudian menyerahkan sebotol air mineral yang tadi bawanya.
"Minum dulu, jangan sampai anda dehidrasi" ucap Romy.
Bryan menerima air mineral itu dan langsung meminumnya hingga tersisa setengah. Kemudian menyerahkan kembali kepada Romy.
"Maafin Bryan Om" ucap Bryan melihat tuan Wijaya.
Tuan Wijaya menatap Bryan, terlihat penampilan pemuda itu masih kotor dan ada sedikit da*rah yang menempel di bajunya. Tuan Wijaya menepuk-nepuk bahu Bryan.
"Om tahu, ini pasti sebuah insiden yang tidak di sengaja. Om tau, kamu pasti juga sudah berusaha untuk membawa Gita kesini tepat waktu." Ucap tuan Wijaya. "Gantilah pakaian mu, jangan sampai nanti ketika Gita sadar dia melihat penampilan mu yang acak-acakan seperti ini" lanjut tuan Wijaya.
Meskipun enggan, akhirnya Bryan tetap beranjak untuk berganti pakaian di ikuti oleh Romy.
***
"Perasaan aku kok ngga enak ya?" Tanya Karin pelan kepada dirinya sendiri. Karin melihat ke arah ponselnya dan kembali menghubungi nomer Gita namun jawabannya tetap sama 'tidak aktif'.
"Lo kenapa Git? Tumben banget nomer lo ngga bisa di hubungi" ucap Karin khawatir.
__ADS_1
"Sayang. Kenapa?" Tanya Aldo yang baru saja sampai. Di tangannya membawa piring berisi batagor pesanan Karin.
"Perasaan aku ngga enak deh." Jawab Karin.
"Kenapa? Ada sesuatu?" Tanya Aldo menyerahkan piring berisi batagor ke hadapan Karin.
"Ngga tau. Nomer Gita tumben banget ngga bisa di hubungi" jawab Karin lagi. Karin bahkan mengabaikan sepiring batagor yang beberapa saat lalu sangat ia inginkan.
"Mungkin hp Gita lagi lowbat" ucap Aldo. "Positif thinking aja" lanjutnya. "Dah, makan dulu batagor nya" perintah Aldo.
Akhirnya Karin pun memakan batagor itu dengan perasaan tidak karuan. Tidak biasanya Gita seperti ini.
"Tadi pagi Gita bilang mau beli cincin sama kak Bryan. Abis itu mereka mau kesini bareng kita. Tapi pas aku hubungi nomer Gita ngga bisa. Ponselnya mati" ucap Karin kemudian setelah memakan seperempat batagor.
Aldo mengelus rambut Karin dari samping. "coba aku telpon Bryan dulu ya" ucap Aldo dan di angguki oleh Karin, Karin pun menyuapkan batagor lagi ke dalam mulutnya.
Tuut... Tuut....
"Ngga di angkat" ucap Aldo ketika menghubungi nomer Bryan, tersambung tapi tidak di angkat.
"Coba sekali lagi" seru Karin.
"Mereka kenapa sih" ucap Karin, matanya mulai memanas entah kenapa perasaannya mulai merasa telah terhidang sesuatu.
Disaat Karin sedang memikirkan apa yang terjadi pada Bryan dan Gita. Matanya tak sengaja melihat orang kepercayaan Bryan yang sedang membeli buah di penjual buah yang tidak jauh darinya. Karin segera beranjak untuk menghampiri orang itu.
Aldo yang melihat itu langsung menyusul Karin, namun terlebih dahulu membayar batagor yang baru di makan separo oleh Karin.
"Heii" panggil Karin memeluk lengan orang yang sedang memilih beberapa buah itu.
Orang itu menoleh dan mendapati Karin juga Aldo yang tengah sedikit berlari menuju ke arahnya.
"Kau asisten kak Bryan kan?" Tanya Karin.
"Ya Nona" jawab orang itu kemudian memasukkan apel merah ke dalam plastik.
"Andre" seru Aldo saat melihat ternyata Andre yang di hampiri oleh Karin.
"Kakak kenal?" Tanya Karin. Aldo pun mengangguk.
__ADS_1
"Ngapain kamu disini" tanya Aldo.
"Saya membeli buah Tuan" jawab Andre menoleh sekilas ke arah Aldo kemudian memilih jeruk dan memasukkan ke dalam plastik.
"Maksud ku, bukankah hari ini kau dan juga Romy sedang mengawasi Bryan yang ingin membeli cincin pertunangan dengan Gita?" Tanya Aldo.
Andre menyerahkan beberapa plastik yang berisi buah kepada sang penjual untuk di timbang, kemudian menatap bergantian Karin dan Aldo.
"Sesuatu telah terjadi tuan, disaat nona Gita dan tuan Bryan sedang berbincang di pinggir jalan tiba-tiba nona Gita terkena tembakan dari orang yang tidak di kenal" jelas Andre.
Duaarr.... Tubuh Karin langsung lemas mendengar itu. Bahkan tubuhnya akan ambruk jika tidak di tahan oleh Aldo. Air mata langsung mengalir.
"Di-dimana Gita sekarang?" Tanya Karin yang sudah terisak.
"Mari saya antar nona, saya bayar ini dulu" ucap Andre kemudian menyerahkan beberapa lembar uang merah kepada penjual buah itu kemudian berlalu menuju mobil untuk berangkat ke rumah sakit.
***
"Kau yang waktu itu ingin menabrak tuan besar kan??!" Tanya anak buah Bryan kepada seseorang yang berhasil di sekap.
Orang itu di ikat di kursi dan mulutnya di lakban. Anak buah Bryan menatap tajam ke arah orang itu. Sementara orang itu hanya menunduk ketakutan.
Disaat keheningan tercipta tiba-tiba.... Terdengar nada dering sebuah ponsel. Anak buah Bryan melihat ponselnya namun ternyata mati. Ia pun mempertajam pendengarannya dan langsung menghampiri orang yang di sekap dan mengambil ponsel dari saku celana orang itu.
"Kau sudah menjalankan perintahku kan? Pastikan Bryan ataupun anak buahnya tidak mengetahui bahwa kau adalah suruhan ku, jika tidak maka nyawa mu yang akan jadi taruhannya" ucap seseorang yang sangat di kenalnya.
Mendengar itu dadanya naik turun karena marah dan langsung menutup sambungan telepon.
"Indraaaa..!!!!" Panggil anak buah Bryan dengan suara lantang.
Indra yang memang sedang berjaga di depan pintu pun langsung masuk ke dalam.
"Kau lacak nomor telepon seseorang yang baru saja menelpon ke hp ini" ucap anak buah Bryan dengan tegas.
Ia sudah bisa menebak suara milik siapa tadi. Namun ia juga memerlukan bukti agar orang itu tidak mengelak. Anak buah Bryan mengepalkan tangannya dan keluar dari ruangan itu. Sementara orang yang di sekap hanya bisa pasrah, ketahuan oleh Bryan nyawanya terancam, namun jika bos nya tau ia gagal menjalankan perintah nyawanya pun belum tentu bisa di selamatkan.
"Bos, saya sudah mendapatkan informasi" ucap Indra kepada anak buah Bryan yang baru masuk ke dalam ruangan Indra.
"Kerahkan anak buah untuk datang ke lokasi itu, dan simpan bukti ini untuk di tunjukkan kepada bos Bryan"
__ADS_1