
"Gita!"
Gita menoleh saat ada seseorang yang memanggilnya, ternyata itu adalah Karin yang membawa nampan berisi dua piring nasi miliknya dan milik Gita.
"Lo kenapa?" Tanya Karin sambil meletakkan nampan ke meja dan meletakkan satu piring di hadapan Gita.
"Gue nggak apa-apa" jawab Gita malas.
"Serius, muka lo keliatan lagi kesel banget loh" Karin duduk dan menarik kursi agar bisa duduk di sebelah Gita
Gita membuang nafas kasar lalu menatap Karin. "Tadi Santi kesini" kata Gita.
"Kesini?" Tanya Karin heran "kok bisa?"
"Kenapa ngga bisa" Gita balikan bertanya dengan heran
"Gita, ini restoran perusahaan, selain karyawan dilarang masuk" jelas Karin gemas.
Gita pun menepuk jidatnya baru tersadar "gue lupa Rin, terus kenapa Santi bisa masuk kesini?"
"Itu pertanyaannya, kenapa bisa kesini" jawab Karin geram.
"Yaudah lah yuk makan dulu" ajak Gita agar mood Karin tidak berantakan.
Akhirnya mereka pun makan siang bersama.
***
"Tuan, ini laporan yang anda minta" seru seseorang berpakaian serba hitam kepada pria baruh baya yang sedang duduk di sofa bersama seorang wanita.
"Letakkan di atas meja, dan keluar lah" seru pria baruh baya itu. Seseorang itu pun meletakkan sebuah map ke atas meja dan melangkahkan kakinya untuk keluar ruangan.
"Ken, terima kasih" ucap pria itu. Seseorang itu pun menganggukkan kepalanya
"Sama-sama tuan" seseorang itu pun segera keluar ruangan.
"Siapa pa?" Tanya wanita di sebelah pria itu.
"Orang suruhan papa, ma"
__ADS_1
"Orang suruhan papa?" Tanya wanita itu mengerutkan keningnya dan menatap sang pria
"Iya, kemarin malam papa bertemu Sisi di mall"
"Lalu?"
"Sisi bareng sama pria ma"
"Papa yakin?"
"Ya, papa bahkan berkenalan dengan laki-laki itu. Namanya Deka"
"Deka?"
"Iya ma, yaudah jangan di bahas. Kita makan lagi" ucap pria itu menyuapkan sesendok nasi kepada sang istri.
'pa, aku harap papa akan berterima kasih dengan apa yang telah aku lakukan' ucap pria itu menatap ke arah map yang ada di atas meja.
***
"Sayang, maaf ya aku baru sempat kesini" ucap Deka kepada Santi. Deka memeluk erat tubuh Santi yang perutnya sudah semakin buncit itu.
"Jangan peluk aku, nanti ada yang lihat" ucap Santi mendorong tubuh Deka menjauh.
"Maafkan aku ya" ucap Deka.
"Kamu tuh kenapa sih, setiap kali aku butuh kamu, kamu ngga pernah ada buat aku" seru Santi marah.
Deka menelan ludahnya sendiri, ia meraih tubuh Santi kemudian memeluknya lagi. "Maaf ya, aku janji sampai besok aku bakal nemenin kamu"
"Bener ya" ucap Santi luluh, kemudian menatap Deka.
"Iya" jawab Deka tersenyum lalu mengecup kening Santi. Santi pun mengeratkan pelukannya ke tubuh Deka.
Diwaktu yang bersamaan, saat ini Eka sedang berdiri bersandar ke mobil Gita. Saat ini Eka sedang menunggu Gita dan juga Karin pulang dari kantor. Eka memainkan kunci mobil untuk menghilangkan rasa suntuk karena jenuh menunggu. Dan saat ia sedang asyik dengan aktivitasnya tanpa sengaja ia melihat Bryan sedang berjalan ke arah nya. Mata Eka melotot saat melihat kedatangan Bryan.
"Waduh gawat" kata Eka panik. Ia pun segera membuka pintu mobil dan masuk ke mobil.
Eka menunduk ke bawah dashboard mobil agar Bryan tidak melihat ada dirinya di mobil itu. Dan setelah Bryan dan juga seorang lagi melewati mobil Eka baru keluar lagi.
__ADS_1
"Selamat" ucap Eka mengelus dadanya lalu menoleh ke belakang untuk melihat apakah Bryan curiga atau tidak. Dan untungnya Bryan tidak menyadarinya.
Di belakang sana Bryan akan masuk ke perusahaan namun langkahnya terhenti karena ia melihat Karin dan Gita baru saja keluar dari lift. Bryan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Gita. Saat itulah angin berhembus sehingga meniup rambut Gita. Kecantikan Gita pun bertambah ketika ia dan Karin tanpa sadar tertawa bersama, entah apa pembicaraan mereka. Sudut bibir Bryan terangkat melihat pemandangan itu.
'Cantik,' batin Bryan.
"Kheemm.." dehem Bryan agak keras sehingga menghentikan langkah kaki Gita dan Karin.
Gita menoleh ke arah Bryan. Pandangan mereka bertemu, lama sekali mereka bertatapan seolah sedang menyiratkan sebuah kerinduan. Namun Gita segera tersadar lalu menatap ke arah Karin.
"Gue duluan ya, udah di jemput Eka. Lo minta jemput Andi aja" kata Gita segera berlalu bahkan sebelum Karin menjawab ucapannya.
Bryan seolah ingin menghentikan langkah kaki Gita yang semakin menjauh, namun ia seakan tidak mampu menggerakkan kakinya untuk menyusul Gita. Sehingga ia hanya bisa menatap punggung Gita yang perlahan menghilang. Bryan terus menatap ke arah Gita sampai Eka, supir Gita keluar dan membukakan pintu untuk Gita. Bryan menyipitkan matanya guna mempertajam penglihatannya.
Bryan ingin mengejar namun ia ragu, jika benar itu adalah dia mana mungkin mau menjadi seorang supir. Karena pekerjaannya selama ini hanya tau main saja. Jika bukan karena aset yang dia miliki di cabut oleh sang papa, mungkin saat ini orang itu masih asyik berkelana entah kemana saja.
"Kak Bryan" seru Karin menyenggol lengan Bryan. Dan membuat Bryan kaget. "Kenapa?" Tanya Karin heran melihat Bryan kaget.
"Yang jemput Gita tadi......?" Tanya Bryan sengaja menggantungkan ucapannya.
Karin mengerutkan keningnya lalu melihat ke arah luar dimana mobil Gita berada tadi. Lalu ia pun ingat siapa yang di tanyakan oleh Bryan.
"Oh,,, itu Eka supir pribadi Gita." Jelas Karin
"Supir pribadi Gita, sejak kapan?"
"Sekitar lima bulan yang lalu lah, semenjak kejadian itu om Abdi jadi ngga rela kalau Gita keluar sendirian"
"Kejadian? Kejadian apa?" Tanya Bryan kaget.
'bos ku sungguh pandai berdrama" batin Romy, yang saat ini ada di belakang Bryan.
Karin segera menutup mulutnya yang menganga karena kaget dia baru saja keceplosan. Padahal dia sudah berjanji dengan Gita agar merahasiakan hal itu dari Bryan.
"Kejadian apa Karin?" Tanya Bryan dengan dingin.
Karin menelan ludahnya sendiri. Ia bingung ingin menjawab apa sekarang.
'kasihan nona Karin, bos begitu galak padahal bos sudah tau apa yang di maksud dengan kejadian waktu itu' Romy menatap iba ke arah Karin yang seperti sedang terintimidasi.
__ADS_1
"Bryan..!"
Huuuft,,,, Karin menghembuskan nafasnya lega saat ada seseorang yang memanggil Bryan.