
"Gue pulang bareng lo ya Git?" Mohon Karin pada Gita. Karin mencoba mengalihkan pembicaraan agar Gita tidak larut dalam kesedihannya.
Gita langsung menyipitkan matanya curiga dengan Karin. Sementara Karin hanya cengengesan saja.
"Oke" jawab Gita singkat. Karin pun langsung memeluk Gita dengan bahagia.
"Makasih" ucap Karin sumringah.
"Udah yuk pulang" ajak Gita melepas pelukan Karin lalu beranjak.
***
"Papa ngapain kesini?" Tanya Bryan kepada sang Papa yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Pekerjaan Bryan banyak Pa" ucap Bryan tanpa menoleh ke arah sang Papa. Di meja Bryan terdapat tumpukan kertas yang tinggi. Karena beberapa hari yang lalu Bryan meninggalkan perusahaan maka jadinya pekerjaannya menumpuk.
Meskipun di handle oleh Romy, namun tetap saja pria yang menjadi tangan kanan Bryan itu tidak berani jika menyangkut urusan yang bukan ranah nya.
"Papa hanya ingin berbicara sebentar dengan mu" jawab sang Papa duduk di sofa dan menatap putranya yang masih sibuk dengan laptop dan juga berkas-berkas yang ada di sampingnya.
Bryan menghentikan aktivitasnya mengetik sebuah berkas. Bryan pun merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa sedikit lelah. Setelah itu Bryan menatap ke arah sang Papa.
"Papa mau ngomong apa?" Tanya Bryan.
"Mengenai pertunangan mu dengan... Sisi?" Tanya tuan Arya hati-hati takut putranya marah. "Apakah....."
"Tidak!!" Belum sempat tuan Arya melanjutkan pertanyaannya, Bryan sudah menjawab dengan tegas pertanyaan Papa nya yang belum selesai.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau bertunangan dengan Sisi!" Lanjut Bryan menatap sang Papa.
Tuan Arya menghela nafas kemudian menatap putranya.
"Dengar Bryan, Papa akan mendukung apapun yang menjadi keputusan mu. Walaupun itu akan menentang kakek mu, Papa akan tetap di pihak mu." Ucap tuan Arya menatap serius ke arah Bryan.
"Terima kasih Pa..." Jawab Bryan, ada sedikit haru saat tau ternyata Papa nya mendukung segala keputusannya.
__ADS_1
"Tapi kau dan juga Gita harus sama-sama berjuang untuk menghadapi kakek mu yang keras kepala itu" ucap tuan Arya lagi. Tuan Arya kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja kerja Bryan.
Tuan Arya mengambil sesuatu dari balik sakunya. Beberapa lembar foto tuan Arya keluarkan lalu di letakkan di meja kerja Bryan.
"Kau harus hati-hati dengan wanita ini. Wanita ini bisa membujuk kakek mu agar kau segera menikahi nya. Karena perempuan ini sedang hamil" ucap tuan Arya lalu meninggalkan Bryan dan keluar dari ruangan itu.
Bryan mengambil beberapa lembar foto yang berukuran kecil itu lalu menatapnya. Dalam foto itu terlihat seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan obgyn. Dan beberapa foto lainnya adalah ketika seorang wanita itu berjalan masuk ke hotel bersama seorang pria. Rahang Bryan mengeras saat melihat foto itu. Sorot matanya tajam menatap benda mati yang kini di pegang nya.
***
"Git, gue rasa pasti ada alasan deh kenapa kakek Kurnia ingin menjodohkan kak Bryan dengan wanita lain" ucap Sisi kepada Gita.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Gita. Karena malam ini Karin ingin menginap di rumah Gita sebab Karin masih marah dengan sang Mama.
Gita menatap Karin dengan sendu "iya, karena kakek dari perempuan itu adalah sahabat dari kakek Kurnia" jawab Gita.
"Kok gitu? Kalau untuk persahabatan bukannya kakek Anggar juga sahabat kakeknya Kurnia. Mereka berantem karena kakek Anggar tau waktu itu lo di ancem sama kakek Kurnia" ucap Karin.
Gita pun langsung memiringkan tubuhnya ke arah Karin. Lalu menatap sang sahabat.
Karin pun ikut tersenyum saat melihat Gita tersenyum. Baginya melihat Gita terpuruk saat itu adalah hal yang menyakitkan. Jadi sebisa mungkin Karin tidak akan membiarkan Gita kembali merasakan sebuah keterpurukan.
Karin melirik ke arah spion dalam mobil itu dan tanpa sengaja ternyata Eka juga sedang menatapnya. Karin langsung melotot ke arah Eka sementara Eka mengedipkan sebelah matanya.
Karin pun segera mengalihkan pandangannya ke luar.
***
"Siaall...!!!" Teriak Sisi. Ia kembali gagal menemui Bryan.
Sisi duduk di sebuah bangku yang ada di pinggiran jalan. Matanya berkaca-kaca, gadis itu menyeseli perbuatannya. Hanya demi sebuah kenikmatan sementara ia merusak dirinya sendiri. Dan sekarang siapa yang akan bertanggung jawab atas kehamilannya.
Sisi menelungkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sungguh bingung sekarang.
Sementara tak jauh dari tempat Sisi, dua pria sedang berbicara mengenai sebuah kerja sama.
__ADS_1
"Baik tuan, selamat bekerja sama. Semoga kerja sama kita akan berhasil" ucap orang itu lalu mempersilahkan orang satunya pergi.
Sisi mendongakkan kepalanya saat mendengar orang yang berbicara tadi. Ia hafal dengan suara yang baru di dengarnya. Dan ternyata benar, dari jarak dekat Sisi dapat melihat pria yang sudah menghilang selama hampir sebulan ini.
"Deka!!!" Seru Sisi kemudian segera menghampiri pria itu.
Sementara pria yang di panggil kemudian menoleh dan menatap datar ke arah Sisi. Ia menatap setiap langkah Sisi yang menuju ke arahnya.
"Deka kamu kemana aja? Aku kangen banget sama kamu" ucap Sisi langsung memeluk Deka dengan erat dan tiba-tiba sehingga Deka tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.
"Lepas!" Ucap Deka tegas.
"Deka..." Sisi menatap Deka dengan sendu.
"Kamu ngga kangen sama aku?" Tanya Sisi.
Deka menatap gadis yang pernah menjadi teman ranjangnya ini. Sudah lama sekali mereka tidak bergulat untuk mencari sebuah kenikmatan bersama. Namun mengingat perkataan Sisi bahwa dirinya tengah hamil, Deka mengeratkan rahangnya dan segera menjauh dari Sisi. Sisi pun kaget dengan reaksi Deka.
"Kamu kenapa?" Tanya Sisi heran.
"Gimana dengan kehamilan mu?" Tanya Deka sembari menatap Sisi yang kini memakai baju dan celana yang agak kedodoran.
Sisi langsung memegang perutnya yang kini masih datar. Ia menatap sendu ke arah Deka.
"Deka,,, please.... Tolong akui anak ini. Jujur mungkin ini bukan anakmu. Tapi aku juga tidak tau ini anak siapa. Aku mabuk saat itu." Ucap Sisi pelan dengan suara serak menahan tangis.
Deka terperangah dengan ucapan Sisi. Ia tak menyangka wanita yang liar di atas ranjang ini pernah tidur dengan lelaki selainnya. Namun, Deka kembali tak peduli. Tentang kehamilan tentu saja ini adalah kesalahan Sisi yang terlalu sembrono dalam bergaul dan berpakaian.
***
Sore hari di kediaman Bram. Nyonya Siska mondar-mandir di teras rumah sambil sesekali melihat ke arah gerbang. Sudah hampir jam 6 sore namun ia tak melihat kedatangan sang putri. Nyonya Siska berniat akan meminta maaf kepada Karin karena telah egois.
"Ma, kenapa?" Tanya tuan Bram menghampiri sang istri yang terlihat khawatir.
"Mama nunggu Karin Pa, kenapa Karin belum pulang juga" jawab nyonya Siska lalu menatap ke arah gerbang.
__ADS_1
"Karin menginap di rumah Gita" ucap tuan Bram membuat nyonya Siska menatap ke arahnya.