CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 69


__ADS_3

Bryan terdiam ketika mendengar perkataan Gita. Benar apa yang di katakan oleh Gita. Sisi memang wanita yang telah di jodohkan dengan nya. Namun dalam hati Bryan tetap Gita wanita yang paling di cintai setelah ibunya.


Bryan menyugar rambutnya kemudian sedikit menunduk agak lama lalu melihat ke arah Gita yang sedang memandangnya. Bryan menghela nafasnya sebelum ia mengatakan hal yang ada di hatinya. Di tatapnya Gita dan juga Karin yang ada di samping Gita.


"Dia memang perempuan yang di jodohkan dengan kakak." Ucap Bryan tak menampik apa yang di katakan Gita. "Tapi kakak sungguh hanya mencintai kamu Git" lanjutnya meraih tangan Gita kemudian di letakkan di dadanya tepat di jantung.


"Rasakan detakan jantung kakak yang tidak beraturan ketika dekat dengan mu" ucap Bryan menatap Gita sendu. "Bahkan ketika dengan wanita mana pun, kakak tidak pernah merasakan seperti ini" lanjutnya.


Gita menatap mata Bryan lekat untuk mencari tahu apakah yang di ucapkan pria itu sungguh atau bohong. Namun, dari tatapan mata Bryan tak sedikitpun terlihat sebuah kebohongan, yang terlihat adalah ketulusan.


Kring .... Kring .....


Saat mereka ada di suasana mellow yang serius, tiba-tiba handphone Bryan berbunyi dengan nyaring. Gita langsung sadar dan melepaskan tangannya yang masih menempel di dada kiri Bryan. Kemudian menatap Bryan yang mengambil benda pipih dari saku dalam jas yang di kenakan.


Terlihat Bryan sedikit mendengus kesal saat melihat nama yang terpampang di layar hp nya. Bryan menatap Gita kemudian beralih menatap hp nya kemudian menggeser tombol hijau untuk mengangkat telepon yang masuk.


Karin yang sedari tadi hanya diam dan menyimak apa yang terjadi menepuk pundak Gita dan bertanya tanpa mengeluarkan suara. Gita yang mengerti pertanyaan Karin hanya mengendikkan bahunya pertanda bahwa ia pun tidak tau.


"Baiklah..." Ucap Bryan kemudian memasukkan kembali hp nya ke dalam saku dalam jas. Lalu menatap Gita.


"Kakak ada urusan." Ucap Bryan kemudian beranjak. "Tolong jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang kakak. Kakak ngga seburuk itu" lanjutnya kemudian mencium kening Gita singkat dan berjalan pergi.


Sementara Gita menyentuh dadanya yang berdebar hebat karena serangan mendadak dari Bryan. Sementara Karin menahan senyumnya saat melihat ekspresi Gita yang mendadak kaku karena keningnya di cium oleh Bryan.


"Sadar woyy!!! Orang nya udah hilang noh" seru Karin menyadarkan Gita dan secara spontan Gita langsung menoleh ke belakang dimana sudah tidak ada bayangan Bryan.


Karin tersenyum geli saat melihat tingkah Gita. Gita langsung menoleh ke arah Karin, dengan mengerucutkan bibirnya Gita memandang Karin sedikit kesal sementara Karin semakin memperlebar senyumnya.


***


"Apaaaaaa!!!!" Teriak Andi ayok sembari melihat Eka. Sementara Eka hanya memandang wajah biasa saja.

__ADS_1


Andi berdiri kemudian memegang kedua bahu Eka dan memeriksa wajah Eka, rambut, bahkan wajah Eka di toleh kan ke samping kanan dan kiri.


"Apaan sih?" Tanya Eka memukul tangan Andi dengan kesal.


"Jadi lo anak orang kaya?" Tanya Andi kemudian kembali duduk dan memandang Eka dengan tatapan penasaran.


"Ya" jawab Eka singkat.


Andi menggelengkan kepalanya mencoba untuk mencerna semua perkataan yang keluar dari mulut Eka. Andi tetap memandang Eka dengan perasaan yang masih belum percaya. Pria yang memakai seragam supir yang hampir sama seperti dirinya ternyata adalah putra tunggal seorang bangsawan. Eka tak habis pikir!


"Terus kenapa lo mau jadi supir?" Tanya Andi curiga, matanya pun menyipit.


Eka menghembuskan nafas kesal. "Apalagi, tentu saja demi Karin" jawab Eka.


"Non Karin?" Ulang Andi dan di angguki oleh Eka. "Kalian udah saling kenal?" Tanya Andi lagi. Dan Eka kembali menganggukkan kepalanya.


"Ck ck ck .... Gue masih ngga ngerti sama apa yang terjadi" ucap Andi kemudian meremas rambutnya sendiri gemas sembari menunduk.


"Lo ngga perlu ngerti apalagi paham Ndi, tapi yang jelas gue emang anak orang kaya. Orang tua gue itu dua orang yang terakhir kali dateng ke rumah om Bram dan kebetulan hari itu juga gue di kenalin sama om Bram. Jadilah gue ketemu sama orang tua gue" jelas Eka berharap Andi mengerti.


Andi manggut-manggut mencoba memahami ucapan Eka. "Jadi,,, hari itu juga lo ketahuan?" Tanya Eka meluruskan badannya yang semula menunduk.


Eka mengendikkan bahunya sambil menatap Andi. "Awalnya engga... Bahkan gue udah berhasil mengelabui orang tua gue bahwa gue bukan Aldo, anak mereka" jelas Eka. "Namun karena ini..." Lanjutnya menyingkap baju nya dan menunjukkan sebuah tanda lahir.


Andi menganga saat melihat itu, ternyata selama ini Eka memiliki tanda lahir berwarna merah muda di bagian lengan atasnya.


"Karena Papa gue ngga sengaja lihat tanda ini, jadinya ketahuan" ucap Eka frustasi.


"Tadinya gue masih bisa minta sama Papa gue buat nyembunyiin identitas gue yang sebenarnya. Tapi..... Pas gue baru selesai ngomong gitu ternyata Karin ada di belakang gue" cerita Eka pada Andi. Dan Andi pun menyimak dengan baik semua yang di katakan Eka. Namun ada satu yang membuatnya bingung...


"Tunggu..." Andi mengangkat satu tangannya. "Tadi lo bilang Aldo..? Siapa?" Tanya Andi.

__ADS_1


"Aldo itu nama asli gue." Jawab Eka.


"Jadi Eka itu bukan nama lo?"


"Bukan..."


"Jelek banget nama samaran lo yak" kata Andi meringis kemudian menatap Eka serius.


"Ck.... Pantes aja non Karin kelihatan marah banget sama lo" ucap Andi menyandarkan tubuhnya di punggung kursi.


Hanya terdengar sebuah helaan nafas dari mulut Eka. Kemudian mereka sama-sama hanyut dalam pikiran masing-masing.


***


"Selamat datang boos" seru empat anak buah yang menyambut kedatangan Bryan di basecamp. Bryan menganggukkan kepalanya kemudian menatap salah satu dari mereka yang merupakan anak buah terlama Bryan.


"Dimana?" Tanya Bryan.


"Bos Andre dan bos Romy ada di ruang khusus bos" jawab pria yang bertubuh tinggi besar dengan otot yang di tutupi oleh baju ketat.


Bryan pun menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju ruangan yang di maksud.


"Lepasin guuueee..!!!" Seru seorang wanita membuat langkah kaki Bryan terhenti.


Bryan menendang pintu dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang keras karena benturan antara pintu dengan dinding. Bryan melihat Sisi yang tengah terikat di atas ranjang. Di ruangan itu juga ada dua anak buah yang di tugaskan untuk mengawasi Sisi agar tidak kabur.


Bryan menatap nyalang Sisi yang bungkam saat mendengar suara keras tadi. Sisi menatap Bryan dengan tatapan mengiba. Namun Bryan tak tersentuh sedikit pun.


"Jangan biarkan dia kabur dan membuat kekacauan" ucap Bryan dingin lalu pergi melanjutkan langkahnya.


"Baik bos" seru dua penjaga itu meskipun Bryan sudah hilang dari pandangan.

__ADS_1


"Jangan buat kami menggunakan cara yang kasar nona!" Seru salah satu dari mereka membuat Sisi bertambah marah.


__ADS_2