
"Ekheem.." dehem Gita yang sengaja di keras kan ketika melihat Karin dan Aldo baru saja sampai di meja makan.
"Apa sih!" Ketus Karin. Sudah jelas sahabat nya itu akan menggodanya habis-habisan.
"Yang habis malam pertama" ucap Gita gamblang.
"Emang kenapa?" Tanya Karin sewot.
"Dih, udah bisa sewot sekarang ya. Mentang-mentang..."
"Iya lah, pas lo pengantin baru aja gue biasa aja kok" ucap Karin kemudian duduk di bangku yang sudah di tarik oleh Aldo.
Gita pun hanya mencibir kemudian mengambil apel dan memakannya.
"Gimana bro?" Tanya Bryan.
"Apa?" Tanya balik Aldo.
Sebenarnya Aldo tentu paham pertanyaan Bryan mengarah kemana. Namun tentu saja ia malas untuk meladeni nya karena sekarang perutnya sudah sangat lapar. Apalagi semalam ia baru berolahraga sampai tenaga nya habis.
"Halah, sok polos lo" seru Bryan menepuk bahu Aldo.
"Berisik! Gue laper tau ngga" ketus Aldo kemudian meletakkan nasi, sayur dan lauk ke dalam piring nya.
"Iya percaya, yang semalem olahraga sampe lemes. Jadi pagi harinya laper deh" seru Bryan terkekeh.
Aldo yang baru saja menyuapkan makanan pun tersedak dan segera meminum air yang di berikan oleh Karin.
"Kakak apaan sih!" Seru Gita.
"Kasian itu kak Aldo" lanjutnya
"Biarin sih yank, pengantin baru emang cocok kalo harus di bully" jawab Bryan tertawa.
Sedangkan Gita hanya menggelengkan kepalanya dan terus menggigit apel.
"Lo ngga sarapan Git?" Tanya Karin.
__ADS_1
"Enggak, gue males." Jawab Gita.
"Makan buah terus" sungut Karin.
"Enak. Lo mau? Ambil aja itu masih banyak" ucap Gita menunjuk keranjang buah di depannya menggunakan dagu nya.
"Siapa yang bawa?" Tanya Karin.
"Andre tadi gue suruh beli"
"Kemana sekarang mereka?" Tanya Aldo.
"Pada makan di luar. Suruh makan disini ngga mau" jawab Bryan.
"Kenapa?" Tanya Karin heran.
"Sungkan katanya"
Aldo dan Karin pun manggut-manggut dan melanjutkan makannya.
***
"Iya mas. Alhamdulillah" seru Dahlia.
Mereka baru saja pulang dari memeriksa Dahlia di rumah sakit. Ketika Gita menyuruh Dahlia untuk periksa ke dokter Dahlia dan Andre berfikir bahwa Dahlia sakit. Namun ternyata Gita sudah tau bahwa Dahlia hamil dan ingin membuat mereka mengetahui nya.
Andre mencium kening, mata dan seluruh wajah Dahlia. Ia merasa bersyukur karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Pantas saja waktu itu ketika Gita hamil Bryan sangat bahagia bahkan Bryan yang dingin dan tidak pernah perasa sampai menangis.
Sekarang Andre pun merasakan kebahagiaan itu. Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan menjadi orang tua.
***
"Kamu beneran nggak apa-apa nikah sama aku?" Tanya Romy kepada Intan.
Mereka baru saja memesan baju pengantin. Ya, mereka akan melangsungkan acara pernikahan Minggu depan. Tanpa tunangan lebih dulu, karena mereka akan bertunangan di hari yang sama dan langsung melaksanakan ijab qobul.
Lagipula mereka sudah sama-sama yakin. Dan mereka sudah menetapkan hari mereka masing-masing.
__ADS_1
"Emang kenapa sih?" Tanya Intan tak suka.
Sejak mengetahui bahwa Intan adalah teman dari Gita, Romy merasa tidak pantas untuk Intan. Namun, Intan selalu meyakinkan Romy bahwa Intan tidak terganggu dengan hal itu.
Intan menyukai Romy karena Romy pekerja keras. Dan di awal mereka kenal, Romy jujur tentang pekerjaan nya. Lagipula apa yang buruk dari menjadi seorang asisten?
Bukan kah menjadi asisten seorang Bryan Albara adalah sesuatu yang membanggakan.
"Dengerin ya. Aku terima kamu apa adanya. Lagipula memang kenapa kalo kamu asisten dan sekretaris. Aku suka dengan mu, bukan dengan pekerjaan mu. Jadi apapun pekerjaan mu aku akan tetap mencintai mu" jelas Intan menatap lekat mata Romy.
Romy pun mendekatkan wajah mereka hingga tidak berjarak. Intan memejamkan matanya saat bibir Romy mendarat di bibirnya. Mereka saling meluma* hingga saat mereka kehabisan nafas mereka baru melepaskan.
Mereka saling berpaling karena sama-sama merasa malu. Hingga akhirnya Romy meraih tubuh Intan dan membawa nya ke dalam pelukan. Intan pun membalas pelukan itu dengan perasaan bahagia.
***
Seperti Romy dan Intan yang sedang mempersiapkan acara pernikahan nya. Angga dan Fitri pun sama. Hanya saja Fitri tidak ingin pernikahan nya di adakan secara meriah, meskipun Angga menawarkan agar pernikahan mereka di meriahkan karena Angga memilih cukup uang untuk acara resepsi itu. Namun, Fitri lebih suka acara yang sederhana. Lebih baik uang itu di simpan dan gunakan sebagai modal usaha serta membangun rumah mereka nanti.
Akhirnya Angga pun setuju dengan Fitri. Akhirnya acara pernikahan mereka yang berlangsung secara sederhana di laksanakan. Acara ijab qobul pun berjalan dengan lancar. Mereka menjadi raja dan ratu seharian penuh. Berdiri di panggung pelaminan dan menyalami tamu undangan yang datang. Acara pernikahan itu di langsungkan di rumah Fitri. Karena Angga sudah tidak memiliki orang tua, jadi Angga memasrahkan urusan pernikahan nya kepada pihak keluarga Fitri. Orang tua Fitri pun tidak keberatan, karena Fitri adalah anak mereka satu-satunya. Jadi mereka menganggap Angga juga sebagai anak kandung mereka.
Terlebih selama mengenal Angga, Angga adalah seorang pria yang bertanggung jawab. Bahkan di depan orang tua Fitri, Angga dengan berani mengakui kisah masa lalu nya. Namun, mereka memaklumi hal itu. Asalkan Angga benar-benar berubah dan kelak tidak akan menyakiti Fitri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.
***
Beberapa hari berlalu, semenjak pernikahan Karin seminggu yang lalu. Kini di rumah Bryan kembali di ramaikan karena acara tujuh bulanan. Seperti acara tiga bulan waktu itu, Bryan meminta tolong kembali kepada keluarga yang waktu membantu acaranya.
Tentu saja permintaan Bryan di terima dengan baik oleh keluarga tersebut. Karena selain Bryan dan Gita tidak sombong, para pemasak itu pun di beri juga makanan untuk di bawa pulang. Mereka juga di beri bonus di luar bayaran mereka.
Seperti adat yang di bawa oleh mereka yang dari desa. Maka acara tujuh bulan ini para ibu-ibu akan membuat tujuh jenis makanan, tujuh jenis jajanan dan juga membuat rujak dengan tujuh macam buah. Namun, tentu saja itu di tanyakan dulu kepada pihak keluarga.
Dan ternyata baik pihak keluarga Wijaya maupun keluarga Arya tidak merasa keberatan. Bahkan mereka menyuruh ibu-ibu menyediakan masing-masing makanan dengan tujuh jenis itu yang banyak. Sebagai tambahan isi 'berkat' dan juga di bagikan kepada anak yatim dan anak-anak panti juga beberapa tetangga yang di rasa kurang mampu.
Kebahagiaan tersendiri bagi Gita dan Bryan karena bisa berbagi kepada sesama. Meskipun tentu saja biaya itu di bantu oleh kedua keluarganya. Bryan pun sebenarnya menolak dengan keinginan orang tua dan mertuanya yang ingin membantu biaya acara nya. Namun, karena Gita dan Bryan adalah anak tunggal maka untuk siapa uang mereka cari jika bukan untuk anak dan calon cucu mereka. Begitu kata orang tua dan mertuanya.
Akhirnya acara tujuh bulan Gita pun berjalan dengan lancar. Para tamu undangan pun sangat bahagia karena pulang membawa banyak makanan. Selain nasi dan teman-temannya, mereka juga di beri jajanan dengan tujuh macam warna. Mereka semua mendoakan kebaikan untuk keluarga Gita dan Bryan. Tak lupa mereka juga mendoakan keselamatan Gita saat hendak melahirkan nanti.
Sementara itu, Romy dan Andre bertugas membagikan makanan kepada para pedagang kaki lima dan anak-anak jalanan. Meskipun tidak banyak namun pasti cukup untuk membuat mereka tidak merasa kelaparan.
__ADS_1
Dengan iming-iming bulan madu, Romy dengan semangat membagikan makanan itu dan menyuruh Andre membagikan makanan ke tempat yang lain. Pernikahan Romy berjalan dua hari yang lalu, berjalan dengan lancar. Romy sangat bahagia akhirnya ia juga bisa merasakan surga dunia yang selama ini ia dengar dari Bryan.