CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 14


__ADS_3

"Kakek" seru Sisi saat ia masuk ke ruangan tuan Kurnia.


Tuan Kurnia menoleh ke sumber suara dan tersenyum saat melihat calon cucu menantunya berdiri di depan pintu ruangannya.


"Masuklah nak," ucap tuan Kurnia lembut, tuan Kurnia pun berdiri untuk menyambut Sisi.


Sisi pun menghampiri tuan Kurnia lalu memeluk tubuh tuan Kurnia.


"Sisi kangen dengan kakek" ucap Sisi lalu melepas pelukannya. Ia memandang ke arah tuan Kurnia lalu tersenyum.


Tuan Kurnia yang mendengar itu pun menatap ke arah Sisi, tubuh wanita muda itu memang agak pendek jika di banding dengan tuan Kurnia yang memiliki tubuh cukup tinggi. Mata tuan Kurnia menatap sebuah tanda merah di bahu Sisi yang tidak tertutup oleh baju. Sisi memang sering menggunakan baju yang kurang bahan, seperti yang dikenakan saat ini, terlalu mengekspos bahu nya sehingga memperlihatkan tanda merah yang seperti lisptik itu.


Sisi yang menyadari tatapan mata tuan Kurnia pun segera mengikuti kemana arah pandang tuan Kurnia. Dan mata sisi membeliak kaget saat melihat tanda merah yang di tinggalkan oleh kekasihnya. Sisi segera menutup tanda merah itu dengan rambut panjangnya.


"Kakek,, emmm kakek sudah makan siang?" Tanya Sisi agak gugup. Dan hal itu membuat tuan Kurnia curiga.


"Ya, kakek baru saja makan siang bersama Denan"


Sisi pun membawa tuan Kurnia duduk ke sofa yang ada di dekat mereka. Sisi menjadi kurang nyaman saat ia baru sadar bahwa tanda merah sisa aktivitas nya dengan kekasihnya itu masih membekas. Dan semoga saja tuan Kurnia tidak curiga, itu adalah harapan Sisi.


"Kakek, waktu itu kakek sudah janji mau membelikan Sisi tiket pesawat kan?" Tanya Sisi. Ia sudah mampu menguasai kegugupan nya saat ini.


"Ya, hal yang sudah kakek janjikan pasti akan kakek tepati" ucap tuan Kurnia, ia sudah tidak bisa konsentrasi saat ini. Apakah hasil penyelidikan Denan tentang Sisi itu benar. Apakah tentang foto di kamar hotel itu adalah fakta tentang Sisi.


"Kakek, kok ngelamun siih" ucap Sisi berpura-pura cemberut.


Tuan Kurnia memaksa tersenyum lalu menatap ke arah Sisi. "Kakek masih sedikit sibuk saat ini, masalah tiket pesawat biar kakek suruh Denan untuk mengurusnya"


"Bener ya kek"


"Iya,"


"Ya sudah, kalau kakek masih sibuk, Sisi pamit pulang ya kek" ucap Sisi mencium pipi tuan Kurnia lalu keluar dari ruangan itu

__ADS_1


Selepas Sisi pergi, tuan Kurnia meraih benda pipih di sakunya. Ia pun menghubungi seseorang


"Ikuti kemana perginya Sisi saat ini, jangan sampai terlewat sedikitpun" perintah kakek Kurnia kepada seseorang.


'jangan sampai kau bermain-main dengan kakek Sisi' batin tuan Kurnia.


Tuan Kurnia pernah mengalami masa muda, ia tentu paham bekas merah di bahu Sisi tadi itu tanda apa. Tuan Kurnia memegang kepalanya pening. Apakah menjodohkan Bryan dengan Sisi adalah hal yang benar. Sekarang itu menjadi sebuah tanda tanya untuk tuan Kurnia.


***


"Makan siang yuk Rin" ajak Gita menghampiri Karin di ruangannya


"Yuk, tumben lo ngajak makan siang"


Mendengar pertanyaan Karin , Gita menghembuskan nafasnya pelan. Ia jadi ingat kalau pagi tadi mamanya meminta mbok Na memasak makanan kesukaan Bryan. Jadi ia tidak mau membawa bekal dengan menu kesukaan Bryan itu. Meskipun sebenarnya Gita juga suka, namun ia gengsi. Bagaimanapun dulu Gita lah yang meminta Bryan menjauh karena Gita sudah menajlin hubungan dengan Angga.


"Ngelamun lagi" seru Karin mengangetkan Gita.


"Masih mikirin kak Bryan ya..." Ejek Karin menoel-noel pipi Gita.


"Tungguin gue Gita!" Seru Karin lalu mengejar langkah lebar Gita.


Karin pun menyusul Gita dan menghampiri sahabatnya itu. Tak lama mereka sampai di kantin kantor yang ada di lantai satu.


"Mau pesen apa?" Tanya Karin kepada Gita.


"Samain kayak Lo aja deh" sahut Gita agak malas.


"Jangan cemberut aja" ucap Karin mencubit pipi Gita yang agak tembem.


"Karriiiinnn!!!!!" Teriak Gita kesal. Sementara Karin sudah berjalan menjauh sambil tertawa.


Sambil menunggu Karin memesan makanan Gita mengeluarkan ponselnya untuk sekedar melihat berita ataupun mengecek notifikasi apakah ada yang chat dirinya atau tidak. Tiba-tiba......

__ADS_1


Braaaaakkk ....


Suara meja di gebrak, Gita yang sedang fokus dengan hp pun dibuat terkejut dan segera melihat siapa yang menggebrak meja yang ada di depannya. Keningnya mengkerut saat mengetahui siapa yang menggebrak meja itu.


"Santi" ucap Gita


"Kenapa!?" Seru Santi menatap Gita sinis


Plaaakk ....


Tiba-tiba Santi menampar Gita, Santi pun tersenyum miring melihat Gita yang kesakitan.


"Lo apa-apaan" seru Gita memegang pipinya yang terasa panas.


"Dasar jala*g, kalo lo ada masalah sama gue ngga usah bawa-bawa mas Angga. Kenapa Lo masih cinta sama Angga" hardik Santi keras telunjuknya pun menunjuk wajah Gita.


Gita sungguh geram dengan sikap Santi, sudah dua kali ia menampar Gita dan sekarang Gita tidak akan tinggal diam. Gita memegang tangan Santi lalu perlahan meremasnya hingga Santi meringis kesakitan. Gita tersenyum miring melihat Santi yang kesakitan.


"Lo udah dua kali nampar pipi gue, padahal gue ngga tau apa alasan lo nampar gue, apa lo pikir gue lemah diem aja pas di tindas. Lo salah Santi" seru Gita di akhir kalimat. Ia menghempaskan tangan Santi kasar lalu dengan cepat


Plaaakk .... Gita menampar pipi Santi.


Plaaakk .... Sekali lagi, Gita menampar pipi Santi hingga tangannya terasa panas.


"Kita impas," ucap Gita mengibaskan tangannya di depan wajah Santi.


"Kauu..." Seru Santi tertahan. Ia menatap tak percaya ke arah Gita. Wanita yang terlihat elegan bisa bertindak begitu kasar.


"Kenapa? Kau tak percaya dengan tindakan ku barusan" ucap Gita mendorong bahu Santi. "kau salah, Gita yang elegan hanya untuk mereka yang bertindak baik kepadaku, dan kau...." Gita menunjuk Santi dengan wajahnya "kau tidak pan...tas" lanjut kita menekan kalimat terakhirnya.


Santi melihat sekeliling mereka ternyata banyak karyawan yang sudah berkumpul dan menyaksikan pertengkaran mereka berdua. Karena malu dan tidak bisa berkata-kata lagi akhirnya Santi pun memilih pergi dengan perasaan yang kesal.


'kau tunggu saja Gita,' ucap Santi dalam hati lalu berbalik dan pergi dari restoran perusahaan itu.

__ADS_1


Huuuft,,,, Gita menarik nafasnya lega saat melihat Santi pergi dari hadapannya. Waktu itu karena menghargai pertemanan antara dirinya dan Santi, Gita tidak membalas tamparan yang dilakukan Santi. Dan sekarang ia tidak diam saja, bagaimanapun ia seorang wanita pasti akan merasa sakit jika di tampar.


"Gita!"


__ADS_2