
"Kenapa nak?" Tanya nyonya Lana lembut menyentuh kepala sang menantu.
Sementara Gita masih terisak dalam pelukan nyonya Indira. Tak lama tuan Arya dan tuan Wijaya pun datang ketika mendengar suara tangisan Gita.
"Ada apa Ma?" Tanya tuan Arya melihat menantu yang di sayangi nya menangis.
"Ngga tau Pa, tadi Mama sama jeng Dira lagi jalan eh tiba-tiba Gita langsung meluk jeng Dira sambil nangis" jawab nyonya Lana.
Tuan Arya pun melihat ke arah tangga dimana Bryan masih berdiri disana. Bryan menggaruk alisnya yang tidak terasa gatal. Tiba-tiba saja ia ingin menghilang dari sana agar ia lepas dari tatapan sang Papa.
"Bryan, ada apa dengan Gita?" Tanya tuan Arya.
"Pa, semua hanya salah paham. Bryan tadi cuma ngga sengaja...."
"Cuma!!!" Seru Gita marah langsung menatap nyalang Bryan.
Bryan yang baru saja menuruni tangga pun kembali terhenti dan menatap sendu ke arah Gita.
"Sebenarnya ada apa? Gita duduk dulu nak, ngga baik wanita hamil berdiri terlalu lama" ucap tuan Arya.
Gita pun menuruti ucapan ayah mertuanya dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Yang lain pun segera ikut Gita duduk, sementara nyonya Lana dan nyonya Indira duduk di sisi Gita.
"Ayo katakan ada apa?" Tanya nyonya Indira menangkup pipi Gita.
"Tadi Gita bawa piring berisi risol sama kue lapis ke kamar itu" ucap Gita menunjuk kamar dimana ia menangis tadi.
"Terus, belum sempat sempat Gita makan Gita udah kebelet pengen ke kamar mandi. Akhirnya Gita ke kamar mandi yang ada di kamar Gita karena di kamar itu ngga ada kamar mandinya. Nah, pas Gita balik lagi ke sana ternyata piring yang tadi Gita bawa udah kosong.. huaaa" lanjut Gita kemudian menangis kembali.
Nyonya Indira pun dengan sigap memeluk sang putri. Sementara nyonya Lana mengelus punggung menantunya itu.
"Ternyata risol sama kue lapis yang tadi di bawa oleh Gita di makan habis sama kak Bryan!!!" Seru Gita dengan keras dan nada marah.
Semua orang pun menoleh ke arah Bryan yang sedang menggaruk tengkuknya.
"Apa-apaan ini Bryan!" Seru tuan Arya.
"Pa.... Tadi Bryan nyari Gita. Biasanya Gita ke kamar itu sama Karin. Akhirnya Bryan masuk deh. Na, Bryan ngga sengaja lihat ada piring berisi kue dan risol. Setelah Bryan lihat ngga ada orang di dalam kamar itu. Jadi Bryan makan deh" jelas Bryan, ia berharap semua orang akan mengerti dengan posisinya.
"Tapi jangan di habiskan juga kan? Gita bahkan bahkan belum nyicip sama sekali" sergah Gita tak terima.
"Kamu habiskan?" Tanya tuan Arya dan Bryan hanya menjawab dengan meringis.
"Gita kan pengen banget makan kue itu Ma..." Ucap Gita sambil terisak.
__ADS_1
"Sayang, kan bisa ambil lagi di belakang" ucap sang Mama lembut. Nyonya Indira pun menyadari bagaimana sensitif nya Gita di tengah kehamilan nya saat ini.
"Mama Lana ambillin lagi mau?" Tanya nyonya Lana.
Gita pun menggelengkan kepalanya menolak, masih dengan sedikit terisak Gita berkata. "Tadi risol yang Gita bawa masih anget. Kue lapis nya pun masih agak panas. Sekarang udah dingin, Gita ngga mau lagi"
"Sayang, gimana kalo Mama buatkan risol dan kue lapis lagi" tawar nyonya Indira agar permasalahan ini cepat selesai.
Namun Gita menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana jika kita beli ke toko kue di dekat sini. Yang waktu itu Mama belikan untuk kamu" tawar nyonya Lana juga.
Tapi, Gita tetap menggelengkan kepalanya.
"Sayang, kakak minta maaf. Kakak benar-benar ngga tau tadi" ucap Bryan penuh penyesalan.
"Diem!!!" Bentak Gita.
"Pokoknya Gita ngga mau tau, ganti risol dan kue lapis itu." Lanjut Gita.
"Kita beli ya" tawar Bryan mencoba bernegosiasi. Entah mengapa perasaan nya sedikit tidak enak.
Gita berjalan ke arah sang Papa kemudian memeluk Papa nya.
"Pa,,, Gita mau di buatin risol sama Papa" kata Gita.
"Baiklah, hanya risol itu mudah sayang" jawab tuan Wijaya yakin. Karena memang tuan Wijaya memiliki hobi membuat jajanan.
Gita pun tersenyum puas kemudian berganti duduk di sebelah tuan Arya. Gita memeluk Papa mertuanya dan berkata.
"Papa Arya bantuin Papa Wijaya buat bikin risol mau?" Tanya Gita manja.
"Tentu saja" jawab tuan Arya kemudian mencium kening menantu nya itu.
"Kak Bryan yang bikin kue lapis nya ya" ucap Gita lembut namun membuat Bryan tersedak ludahnya sendiri.
"Pa...." Panggil Gita manja kepada Papa mertuanya.
"Iya, Papa akan pastikan bahwa Bryan yang akan membuat kue lapis itu untuk mu" jawab tuan Arya kemudian menatap tajam ke arah sang putra.
"Makasih Pa" ucap Gita kemudian berlalu.
Gita menarik tangan Karin dan membawa Karin masuk ke dalam kamar tamu, Gita meminta Karin menemani nya tidur siang.
__ADS_1
"Bryan ngga bisa masak Pa" ucap Bryan memelas menatap sang Papa dan mertuanya.
"Biar nanti Mama bantu Bryan" ucap nyonya Indira.
"Nanti biar kamu yang memasukkan adonan ke dalam cetakan. Biar adonan nya yang buat Mama dan Mama kamu" lanjut nyonya Indira.
"Terima kasih Ma" jawab Bryan gembira.
Mereka pun kemudian ke dapur untuk membuat camilan permintaan tuan putri.
hari telah berganti malam, orang-orang yang di undang pun sudah kembali dengan membawa berkat dan jajanan yang telah di siapkan. Saat ini hanya tinggal para anak yatim yang memang tidak pulang karena di haruskan menginap oleh Gita.
"Sayang, makan dulu ya" ucap Bryan membujuk Gita. Sedari siang tadi sampai sekarang Gita bahkan belum memakan sesendok nasi.
"Engga mau,,," tolak Gita.
"Bryan, biar Mama saja" ucap nyonya Lana.
Bryan pun menyerahkan piring yang berisi sedikit nasi, sayur dan ayak krispi pesanan Gita.
"Sayang makan dulu ya" bujuk nyonya Lana.
"Engga mau Ma, Gita kenyang" ucap Gita.
"Sedikit saja"
Akhirnya Gita pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari nyonya Lana. Namun, baru saja hendak mengunyah Gita sudah ingin muntah. Gita pun berlari menuju belakang dan akhirnya semua makanan yang di makan oleh nya dari tadi siang keluar semua.
"Sayang" seru Bryan melihat Gita terduduk di kamar mandi.
"Kan aku udah bilang, aku ngga mau makan. Kalo aku makan pasti muntah" ucap Gita sembari menangis. Badannya terasa sangat lemas.
"Maafin kakak" ucap Bryan menyesal. Bryan bahkan merasa sedih ketika melihat wajah istrinya yang menjadi pucat.
Bryan menggendong Gita ala bridal style menuju kamarnya yang ada di lantai satu. Bryan pun membaringkan tubuh Gita yang lemas kemudian menutup tubuh istrinya dengan selimut tebal. Bryan mengecup kening Gita kemudian meninggalkan Gita yang sudah terlelap.
"Bagaimana dengan Gita nak?" Tanya nyonya Lana khawatir.
"Gita istirahat ma" jawab Bryan.
"Maafin Mama ya, kalo Mama nggak maksa pasti Gita ngga akan muntah" ucap nyonya Lana menyesal.
"Enggak apa-apa jeng, itu kan biasa terjadi sama wanita hamil. Apalagi ini kehamilan pertama Gita" ucap nyonya Indira menenangkan besannya.
__ADS_1
"Permisi, selamat malam"
Semua menoleh ke arah pintu yang sengaja di buka karena masih ada beberapa tamu yang belum pulang. Bryan yang hendak duduk di tikar pun mengurungkan niatnya. Rahang nya mengeras melihat siapa yang datang.