
"Kakek akan tetap memaksa Bryan menikah dengan Sisi?" Tanya Bryan datar ke arah sang kakek yang berada di depannya, mereka duduk berhadapan di sofa dan hanya terhalang oleh meja.
Sementara di sebelah kanan ada tuan Arya dan juga nyonya Lana yang sedang menyimak ucapan antara anak dan juga ayah. Namun terlihat sekali bahwa tuan Arya menatap tak suka ke arah tuan Kurnia.
"Ya.." jawab tuan Kurnia singkat menatap Bryan santai.
Bryan mencoba mengatur nafas untuk menetralkan rasa marah yang sudah sesak di dada. Bryan menarik nafas beberapa kali hingga ia bisa menguasai dirinya untuk tidak emosi. Kemudian ia menatap kembali sang kakek.
"Apa karena Sisi tengah hamil?" Tanya Bryan lagi. Ia menopang dagu nya dengan kedua tangan yang membentuk kepalan. Matanya menyorot tajam kepada sang kakek.
"Ya" jawab kakeknya lagi.
"Kakek tau Sisi hamil anak siapa?" Tanya Bryan.
"Itu tidak penting. Yang terpenting kau menikahi Sisi karena itu janji kakek kepada kakek Sisi" jawab tuan Kurnia.
Dada Bryan naik turun, tak habis pikir dengan pola orang tua yang selama ini ia hormati.
Braaakkk.....
"Apa maksud Papa??!" Seru tuan Arya yang hanya diam saja sejak tadi.
Bryan menoleh ke arah sang Papa yang sudah berdiri dengan dada naik turun karena emosi. Sementara sang Mama sedang menenangkan sang Papa dengan mengelus lembut lengan sang Papa. Bryan tersenyum samar, setidaknya untuk situasi seperti ini orang tuanya masih membela dirinya dan tidak ikut gi*la seperti kakek nya.
"Papa keterlaluan" seru tuan Arya.
Tuan Kurnia menghela nafas berat, kemudian menatap tuan Arya yang masih menatap tajam ke arahnya.
"Menikahkan Sisi dan Bryan adalah janjiku. Dan tidak akan pernah berubah sampai kapan pun" seru tuan Kurnia dengan pelan namun tegas.
__ADS_1
"Cukupp!" Teriak tuan Arya. "Bryan bebas memilih akan menikah dengan siapa pun wanita yang ia cintai." Ucap tuan Arya. "Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan Bryan menikah dengan Sisi. Terlebih saat ini wanita itu tengah hamil entah anak siapa" lanjut tuan Arya.
"Seorang gadis muda seharusnya mengembangkan daya pikirnya dengan berkreasi dan berinovasi atau dengan mengisi waktu luang dengan bekerja. Bukan malah tidur dengan lelaki mana saja sehingga menghasilkan anak yang tidak di ketahui siapa ayahnya!!" Seru tuan Arya lagi, tuan Arya menekankan kalimat terakhirnya dan berhasil membuat tuan Kurnia tertegun.
"Aku tidak menyangka bahwa selera seorang tuan Kurnia.... Sangat rendah!" Seru tuan Arya kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga dan di ikuti oleh nyonya Lana.
Tak lama Bryan pun ingin segera pergi, namun langkahnya terhenti ketika sang kakek kembali memanggilnya.
***
Malam ini Karin melewatkan makan malamnya. Meskipun sang Mama sudah memanggilnya namun Karin tak menyahut. Sampai beberapa kali yang Mama mengetuk pintu Karin namun di abaikan. Hingga akhirnya sang Mama pun menyerah untuk membujuk Karin.
Karin mengusap air mata yang kembali melewati pipinya. Matanya terlihat sembab karena ia terus menangis. Sejak sepulang dari kantor Karin terus mengurung dirinya di kamar. Karin mengangkat sedikit wajahnya ke atas untuk menghentikan air mata yang terus keluar. Namun saat ia memejamkan matanya air mata kembali menetes. Ingatannya kembali pada saat sore hari tadi.
Sore tadi sepulang dari kantor.....
Karin membalikkan badannya ke belakang untuk melihat Eka. Setelah ia berjuang mati-matian untuk menahan air mata yang sudah memberontak ingin keluar. Karin berjalan pelan sembari matanya tak lepas menatap Eka yang kini juga memperhatikan dirinya.
Eka menelan ludahnya kasar, kemudian menatap Karin.
"Kamu sayang kan dengan aku?" Tanya Eka kembali.
Meskipun Eka tau pertanyaannya mungkin akan semakin membuat Karin marah. Namun entah kenapa melihat tatapan sendu Karin, hati Eka menjadi sedih.
Karin terdiam lama sekali, namun matanya tak lepas dari memandang Eka.
"Sebenarnya apa mau mu?" Tanya Karin menatap netra Eka dalam.
Sebenarnya dari tatapan itu Karin tahu bahwa perasaan Eka tulus padanya. Hanya saja cara untuk mendekatinya salah.
__ADS_1
Jakun Eka bergerak naik turun, ia masih tak percaya dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Karin. Dadanya berdebar kencang saat mata Karin menatap dirinya. Karin memajukan kakinya satu langkah ke depan. Mata nya beradu dengan mata Eka. Terlihat air mata kembali mengalir di pipi Karin.
"Kamu tau..... Dulu,, aku sangat mencintai sosok Aldo.. Hingga dia pergi entah kemana" ucap Karin, ia memejamkan matanya kemudian membukanya kembali dan menatap Eka.
Dadanya terasa sesak untuk mengatakan hal yang menyakiti hatinya. "Aku mati-matian ngelupain orang yang namanya Aldo," seru Karin dengan suara sedikit keras. "Hinga kamu datang... Dan berhasil ngebuat aku,, lupa sama cowok yang bernama Aldo" lanjut Karin menunjuk dirinya dan mengarahkan telunjuknya ke sisi kiri sebagai isyarat 'dia'.
"Tapi sekarang apa!!!!!" Seru Karin lantang. "Ternyata kamu bohong... Kamu penipu" lanjut Karin dengan suara parau. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
Tak lama terdengar suara isak tangis dari bibir Karin. Eka hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sungguh dia sama sekali tidak berniat untuk berbohong meskipun memang dari awal memang dia berbohong.
Karin menghapus air matanya kasar dan menatap tajam Eka. "Ternyata kamu adalah pria yang selama ini mati-matian ingin aku lupakan" ucap Karin pelan, ia meringis kala menyadari bahwa dirinya telah di bo*dohi oleh orang yang sama.
"Hhhee..." Karin tertawa, namun air mata kembali menetes. "Kamu pembohong!" Ucapnya kemudian pergi meninggalkan Eka yang masih diam mematung di tempat namun pandangannya memperhatikan Karin yang hendak masuk ke mobil.
Eka beralih menatap ke arah supir Karin, terlihat Andi menatapnya dengan perasaan kasihan.
Karin kembali mengusap air mata yang dengan lan*cang kembali mengalir di pipinya.
Sementara Eka, saat ini di kediaman Wijaya tengah makan malam. Eka memandang makanan yang ada di nampan, makanan itu di antar oleh mbok Na tadi. Sudah sejak satu jam yang lalu. Namun sama sekali belum di sentuh oleh Eka.
Eka menatap ke arah luar melalui jendela yang di biarkan terbuka. Semilir angin malam menyapa dirinya, ia menatap hampa taman belakang yang nampak di penglihatannya.
Tadi sore setelah mobil Karin melaju meninggalkan perusahaan, Eka kembali duduk di bangku kantor untuk menunggu Gita yang pulang lebih sore karena pekerjaan yang sedikit lebih banyak. Hingga setelah satu jam menunggu akhirnya Gita menghampiri Eka.
Saat mereka sudah dalam perjalanan Eka mendapati Gita sedang menatapnya melalui spion dalam. Belum sempat Eka bertanya, Gita sudah lebih dulu berkata.
"Apakah benar kalau kau adalah kak Aldo?"
***
__ADS_1
maafin othor yang beberapa hari ini telat updated terus