
"Ini dia ruangan bunda Ria, kakak-kakak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu. Maaf saya tidak bisa menemani sebab saya ada jadwal mengajar les" ucap seorang gadis yang namanya belum di ketahui oleh Andre.
Gadis itu tersenyum kembali. Kemudian undur diri meninggal Andre dan Romy yang tengah berdiri di depan sebuah ruangan.
Tok ... Tok ...
Andre mengetuk pintu, tak lama pintu pun terbuka. Andre dan Romy terpaku melihat seseorang yang membuka pintu. Mata mereka saling beradu, Andre dan Romy yang tak kuasa menahan rindu, mata mereka berkaca-kaca. Sedangkan seorang wanita yang memakai kacamata dan jilbab besar itu hanya memandang heran ke arah dua pria tampan yang tidak di kenalnya.
Bibir Andre bergetar, wanita yang sangat ia rindukan sekarang bisa ia temui. Setelah lebih dari 10 tahun tak bertemu akhirnya mereka berdua dapat menemukan wanita yang telah merawat mereka sejak kecil.
"Bun.....daa...." Ucap Andre dan Romy bersamaan, dengan mulut yang bergetar. Mereka berdua mati-matian untuk menahan air mata yang hendak keluar.
sementara wanita yang mengenakan jilbab panjang itu hanya mengerutkan keningnya heran saat melihat dua pria tampan yang tidak di kenalnya. Namun juga terlihat sedikit tidak asing.
"Kalian siapa?" Tanya wanita itu memandang Andre dan Romy lekat.
Andre dan Romy saling pandang. Mereka menatap ke arah wanita itu kembali. Wajar jika wanita di depannya ini mungkin lupa dengan mereka sebab mereka sudah lama tidak bertemu.
"Mari masuk dulu" ucap wanita itu mempersilahkan Andre dan Romy.
Andre dan Romy pun masuk ke ruangan yang sedikit berubah dari sebelumnya. Romy dan Andre meletakkan ransel mereka di atas lantai yang belum di keramik itu.
Mereka berdua pun duduk di kursi kayu yang belum di ganti sejak dulu. Wanita tadi menuangkan air putih ke dalam gelas lalu di letakkan di depan Romy dan Andre. Wanita itu kemudian duduk berseberangan dengan Andre dan Romy. Wanita itu memandang ke arah dua pria yang sedang memandang ke sekeliling ruangan.
Romy menatap lurus ke depan saat ia melihat foto seorang anak kecil yang sedang memegang medali dan piala. Lama sekali, seperti terhipnotis Romy pun berjalan mendekat ke arah foto yang di gantung itu. Menyadari hal itu wanita tadi pun berdiri dan mengikuti Romy.
"Itu adalah Romy. Pria kecil yang menjadi kesayangan saya" ucap wanita itu ramah. Romy menatap wanita tersebut.
Meskipun masih bingung dengan apa yang terjadi dan tidak mengetahui siapa mereka namun entah kenapa wanita itu merasa seperti mengenal mereka.
"Lihatlah,,, betapa tampan Romy ku ini." Ucap perempuan itu menyentuh lembut foto Romy kecil.
"Dia anak yang pintar, aku sangat merindukan nya... Sudah lama sekali Romy tidak datang kesini" lanjut wanita itu.
__ADS_1
Romy memandang wanita itu dengan berkaca-kaca.
"Bunda..." Ucap Romy. Bibirnya bergetar. Air mata lolos begitu saja. Mengalir di pipi Romy.
"Ini Romy Bun...." Ucap Romy tak kuasa langsung memeluk wanita yang di panggil bunda.
"Ini Romy Bunda. Romy kembali. Romy kangeeen banget sama bunda" ucap Romy dengan suara parau.
Bunda Ria melepas pelukan Romy, di pandangi nya wajah Romy yang telah dewasa kemudian memandang ke arah Romy kecil.
"Romy??" tanya bunda Ria sembari mengusap lembut pipi kiri Romy. Romy pun menganggukkan kepalanya, sebab untuk berbicara ia tak kuasa.
"Ya Allah,,, Romy...!" Seru bunda Ria kemudian saat melihat ada kemiripan di antara foto dan juga Romy. Mata nya tetap sama.
"Romy anak bunda .." seru bunda Ria, tangis nya pun pecah. Anak yang di sangka sudah melupakannya sekarang kembali dengan wajah dewasa dan semakin tinggi.
Sementara Andre, ikut menangis tergugu melihat adegan itu. Selain itu juga ternyata Andre melihat di ruangan itu juga terdapat foto kecilnya yang kala itu habis memenangkan pertandingan silat.
"Bunda...." Seru Andre. "Ini Andre Bun" lanjutnya memeluk erat wanita yang dulu sangat menyayangi nya.
Ruangan itu di penuhi rasa haru setelah bertemunya bunda dan kedua putranya.
***
Deka diam-diam memperhatikan Santi yang sedang menimang baby Tina. Deka tersenyum tipis saat melihat Santi yang begitu lihai menimang bayi yang masih berusia 1 bulan itu.
Namun tiba-tiba baby Tina yang berada dj gendongan Santi menangis. Deka pun ikut kaget mendengar itu. Deka memperhatikan sekitar apakah Santi bersama keluarganya atau hanya sendiri. Dan saat sudah memastikan bahwa Santi seorang diri dan di sekitar tidak ada suami atau keluarganya. Deka pun segera menghampiri Santi.
Sementara Sisi yang duduk di depan Deka hanya diam saja saat Deka beranjak pergi. Wanita yang tengah berbadan dua itu hanya memperhatikan kemana Deka akan pergi. Mata Sisi terpaku saat melihat Deka menghampiri seorang wanita yang sedang menggendong bayi.
Sisi memperbaiki posisi duduknya agar ia bisa melihat dengan jelas apa yang akan di lakukan oleh Deka.
"Santi...." Sapa Deka pelan.
__ADS_1
Merasa namanya di panggil, Santi pun menoleh. Dan betapa terkejutnya Santi saat melihat Deka ada di depannya. Santi melihat ke arah putrinya yang memang ada sedikit kemiripan dengan Deka, Santi kemudian menoleh ke sekitar tepatnya melihat ke arah toilet. Kemudian menatap ke arah Deka.
"Kamu ngapain?" Tanya Santi sembari menimang anaknya agar berhenti menangis.
Namun bukannya berhenti baby Tina justru menangis lebih kencang.
"Boleh aku gendong?" Tanya Deka mengabaikan pertanyaan Santi. Deka melihat putri kecil yang mirip dengannya. Mungkin saja bayi itu menangis karena menyadari ada ayahnya disini.
Santi menatap baby Tina. "Tidak" tolak Santi.
"Kamu sebaiknya pergi, sebelum mas Angga kembali kesini" ucap Santi mengusir Deka.
"Santi, dengar.. Kasihan anak kita, dia menangis. Mungkin saja dia menyadari keberadaan ku dan ingin merasakan gendongan ayahnya" ucap Deka sedikit memaksa.
Santi kemudian menatap baby Tina yang wajahnya memerah karena terlalu lama menangis. Akhirnya Santi pun menyerahkan baby Tina kepada Deka. Dan benar saja, setalah di timang dan dicium oleh Deka, baby Tina langsung diam.
Dari jarak yang tak jauh, Sisi memperhatikan interaksi antara Deka dan Santi. Siapa perempuan itu? Kenapa Deka terlihat begitu dekat, dan lagi kenapa anak kecil itu berhenti menangis saat sudah di gendong oleh Deka?
Begitu banyak asumsi dalam fikiran Sisi, Sisi mengelus perutnya yang masih rata. Dia berfikir apakah kelak bayinya akan mendapatkan kasih sayang seorang ayah?
Sisi terus memperhatikan Deka dan Santi, meskipun obrolan mereka tak terdengar namun melalui tindakan Sisi dapat menyimpulkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Siapa namanya?" Tanya Deka terus memperhatikan putri kecil yang berada di gendongannya.
"Tina..." Jawab Santi.
"Hay baby Tina... Ini ayah" ucap Deka memperkenalkan dirinya.
"Stop Deka. Jangan seperti itu!!" Seru Santi saat mendengar perkataan Deka.
"Tapi memang benar kan? Aku ayah kandung Tina" ucap Deka menatap Santi kemudian menciumi pipi gembul anaknya.
"Santi....!!" Seru seseorang dari arah belakang Santi.
__ADS_1