
Braakk....
Suara benda keras yang di hantamkan ke atas meja kayu. Jika meja biasa mungkin akan rusak saat terkena pukulan dari tongkat kakek Kurnia. Dipandangnya dua orang di depannya, yang satu putranya dan yang satunya adalah menantunya. Kakek Kurnia menatap tajam ke arah putranya itu, kilat amarah jelas tampak dari matanya.
"Apa maksud kalian membiarkan Bryan pergi ke kota itu lagi" seru kakek Kurnia lantang, menggema ke seluruh ruangan yang kedap suara itu.
"Apa kalian sudah menganggap aku mati! Apa kalian mengajarkan Bryan untuk lupa pada kakeknya!" Lanjut kakek Kurnia.
"Bukan begitu pa" jawab tuan Arya tenang. Menghadapi ayahnya harus bersikap tenang dan jangan terpancing emosi jika ingin masalah cepat selesai.
"Jadi bagaimana maksudmu?" Tanya kakek Kurnia dengan nada yang masih marah.
"Pa,,, Bryan kesana karena perusahaan disana sedang terjadi masalah. Dan Bryan kesana untuk menanganinya. Apa yang papa takutkan" jelas tuan Arya.
Kakek Kurnia menatap sinis ke arah tuan Arya. Kakek Kurnia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh putranya.
"Jangan kira aku tidak tau apa maksud kalian mengirim Bryan kesana" bentak kakek Kurnia.
"Pa, tolong lah. Biarkan Bryan bebas. Papa jangan terlalu mengekang nya."
"Mengekang katamu? Aku ini kakeknya aku lebih paham dengan apa yang terbaik untuk cucuku. Cucu tunggal ku" seru kakek Kurnia. Bahkan suaranya lebih keras dari sebelumnya.
"Dan kami adalah orang tuanya pa, apakah papa menganggap bahwa kami sudah tiada? Sebab itu papa selalu mengambil alih tugas mendidik seorang anak yang seharusnya di lakukan oleh orang tua. Apakah papa berfikir bahwa Bryan bahagia selama ini. Di bawah naungan kekuasaan kakeknya yang selalu menuntut Bryan untuk sempurna dalam segala hal. Apakah menurut papa itu benar" nyonya Lana yang sejak tadi diam pun angkat bicara, nada bicaranya tegas dan menatap tajam ke arah mertuanya itu.
"Kami orang tua Bryan pa, apakah papa lupa itu?" Tanya nyonya Lana kembali. Lalu ia pergi dengan perasaan kecewa terhadap lelaki yang selama ini sudah dianggap nya sebagai ayah kandung.
"Papa lihat, sikap keras papa sudah membuat menantu papa merasa tersisihkan. Padahal Lana adalah ibu yang telah mengandung dan melahirkan Bryan" kata tuan Arya lalu bergegas menyusul sang istri.
Tuan Kurnia pun menatap punggung putranya yang hampir hilang dari pandangan. Ia menyenderkan kepalanya di kursi kebesaran yang selama ini hanya Bryan lah yang berani menduduki kursi itu.
"Denan" panggil tuan Kurnia kepada supir sekaligus tangan kanannya itu.
__ADS_1
***
"Selamat datang kembali tuan" sapa seorang pria dengan setelan baju serba hitam dan kacamata hitam yang menutup matanya.
"Bagaimana keadaan disini?" Tanya pria yang di panggil tuan tadi.
"Semuanya aman tuan, nona Gita selalu berada dalam pengawasan saya."
"Bagus"
"Silahkan masuk tuan" pria itu membuka pintu mobil dan mempersilahkan tuannya masuk ke dalam mobil.
"Hey,apa kau akan meninggalkan ku?" Seru seseorang yang tak jauh dari mereka. Terlihat dia sedang membawa koper besar miliknya dan juga milik tuannya.
"Kau tidak membukakan pintu untukku" seru nya lagi saat melihat pria yang tadi membukakan pintu untuk tuannya hanya diam saja.
"Kau punya tangan. Maka gunakanlah tangan mu" ucap pria itu sinis lalu segera masuk ke dalam mobil di bagian kemudi.
"Kau mau masuk tidak?" Tanya nya saat melihat temannya itu hanya diam saja.
'Anggita Fara Natasya. Aku kembali'
***
"Mbak, mau cari suami saya namanya Angga, ada?" Tanya Santi kepada resepsionis yang bertugas di perusahaan dimana Angga, sang suami bekerja.
"Ohh iya nona, untuk saat ini semua karyawan sedang melaksanakan istirahat siang. Silahkan nona hubungi pak Angga" jawab resepsionis itu ramah.
Santi pun mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Angga. Sedangkan Angga saat ini sedang berada di ruangannya. Meskipun rasa lapar yang sedikit menyiksa namun ia tetap harus bisa menahannya sebab uang nya telah habis untuk ia kumpul bersama teman-temannya semalam. Ia memegang perutnya yang terasa perih karena belum makan dari pagi. Ia melihat ponselnya bergetar tanda ada sebuah panggilan masuk. Ia meraih benda pipih itu lalu melihat siapa yang menghubungi dirinya siang bolong seperti ini. Setelah tau siapa yang meneleponnya ia pun menggeser tombol hijau
"Apa?" Tanya Angga malas.
__ADS_1
"Mas, aku ada di bawah nih, kamu temuin aku dong" jawab Santi dari seberang.
"Ngapain kamu ke kantor ku" tanya Angga
"Aku bawain makan siang buat kamu. Kamu pasti lapar kan, ini juga sebagai permintaan maaf aku karena semalem aku lembur di butik dan ngga pamit sama kamu" jelas Santi.
"Baiklah tunggu saja disitu"
Angga pun memutuskan sambungan telepon dan segera beranjak untuk turun ke bawah untuk menemui istrinya itu. Jika bukan karena makanan Angga sungguh malas jika harus menemui Santi terlebih di kantor seperti saat ini.
"Mas" panggil Santi pada Angga saat melihat Angga mendekat ke arahnya.
"Mana makan siangnya" tanya Angga tanpa berbasa-basi
"Kita makan sambil duduk disana aja mas" ucap Santi lalu menggandeng tangan Angga dan berjalan menuju kursi yang disediakan untuk tamu yang berkunjung ke perusahaan. Angga pun mengikuti langkah kaki Santi
"Ini mas aku masakin kamu sop" santi pun membuka rantang yang ia bawa dan memberikan kepada Angga.
"Kamu makan gih" kata Santi.
Tak menunggu waktu lama Angga pun segera melahap makanan yang di bawa oleh istrinya. Masakan Santi memang tidak seenak masakan Gita, namun masakan Santi masih terasa lumayan enak lah jika di makan saat sedang lapar begini. Angga pun segera menghabiskan makanan itu hingga tanpa sisa dan menyerahkan rantang yang sudah kosong itu kepada Santi.
"Sudah. Sekarang kamu pulang ya" ucap Angga
"Kok gitu sih mas, kita belum ngobrol lhoo" jawab Santi tidak suka.
"Bukan begitu Santi, tapi ini kantor jam istirahat sebentar lagi habis" jelas Angga.
"Lagipula aku masih marah dengan mu yang pergi tanpa pamit" kata Angga lagi.
"Baiklah aku pulang sekarang"
__ADS_1
Daripada Angga mempertanyakan kemana ia semalam lebih baik Santi pulang saja. Angga bukan pria yang gampang di bohongi jadi lebih baik Santi mencari jalan aman saja.
jangan lupa like dan vote ya guys....