
"Kau ingat aku siapa Jodi? Aku juga anak dari ayahmu. Meskipun ya... Aku hanya anak angkat" ucap nyonya Lana membuat tuan Jodi menoleh. Mata mereka bersitatap, mereka adalah anak kandung dan anak angkat dari seseorang yang telah meninggal karena menyelamatkan tuan Kurnia.
Bryan termangu mendengar ucapan sang Mama. Tuan Kurnia pun memejamkan matanya dan menarik nafas panjang untuk menetralkan rasa sesak di dada. Tuan Arya langsung menarik nyonya Lana ke dalam pelukan dan nyonya Lana pun menangis sesenggukan.
Tuan Jodi tampak menundukkan kepalanya dalam. Ia melupakan hal itu, wanita yang kini menangis dalam pelukan seorang suami adalah saudara angkatnya. Mata tuan Jodi berkaca-kaca, dendam telah menggelapkan hatinya.
Melihat kondisi yang tidak nyaman Bryan pun memberi kode kepada Romy dan Indra untuk membawa kembali tuan Jodi. Romy dan Indra pun menghampiri tuan Jodi dan membawa tuan Jodi bangkit kemudian berjalan keluar. Tuan Jodi pun hanya menurut saja, ada sedikit sesak dalam hatinya. Ia pun sedikit menyesal telah melakukan hal di luar nalarnya.
***
"Jadi waktu itu Gita ada janji kan sama kak Bryan buat beli cincin pertunangan. Karena kak Bryan lagi di kost Andre jadi kak Bryan ngga bisa jemput Gita. Jadi kita janjian deh ketemu aja langsung toko emas nya. Naa pas Gita udah sampe Gita lihat kak Bryan lagi ngobrol sama kakek Kurnia. Pas Gita mau nyamperin ngga sengaja Gita lihat ke arah sebrang jalan, Gita lihat ada seseorang yang make masker dan seragam serba hitam lagi ngarahin pis*ol ke arah kakek Kurnia yang Gita rasa kakek Kurnia ngga sadar." Cerita Gita kepada semua orang yang ada di ruangannya.
Sudah beberapa hari ini Gita di rawat di rumah sakit, sebenarnya ia sudah ngeyel ingin pulang namun orang tuanya masih melarang. Sebab luka di tangan Gita masih belum kering.
"Terus gimana Git?" Tanya Karin yang duduk di sofa, di sampingnya ada Aldo yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Terus ya gue perhatiin tuh orang mau apa. Ehh ternyata...." Ucap Gita sedikit drama dengan wajah yang sedikit menegang.
"Terus??" Tanya sang Mama yang rupanya ikut kepo.
"Ngga lama setelah itu... Dooorrr" ucap Gita setengah berteriak di akhir ceritanya hingga membuat sang Mama sedikit terkejut.
"Orang itu ngarahin tembakan ke arah kakek Kurnia. Tapi kak Bryan udah sadar dan mencoba melindungi tubuh kakek Kurnia tapi,,, Gita ngga rela kalo sampe kak Bryan kenapa-kenapa. Akhirnya Gita terdorong buat lindungi kak Bryan." Ucap Gita dengan ekspresi sedih.
"Dengan begitu Gita juga jadi tahu kalo kak Bryan bener-bener sayang sama Gita. Terbukti sebelum Gita pingsan kak Bryan sempet nangis karena lihat darah yang keluar dari tangan Gita" ucap Gita kemudian tersenyum tipis, mengingat waktu dimana dia melihat pria dingin seperti Bryan menangisi dirinya yang sedang terluka.
"Bryan nangis?" Tanya Aldo yang sejak tadi sibuk mengetik sesuatu. Ia menatap Gita.
Gita pun menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Kok bisa?" Tanya Aldo.
"Ya bisa lah, namanya kak Bryan khawatir sama Gita" ucap Karin memandang sinis wajah sang kekasih.
__ADS_1
Sementara Aldo hanya menatap lembut ke arah Karin kemudian tangannya terulur mengacak pelan rambut Karin.
"Kaaaak..." Seru Karin manja namun dengan ekspresi cemberut.
Hal itu membuat Gita dan nyonya Indira tersenyum geli.
"Tapi Tante heran deh" ucap nyonya Indira kemudian membuat Karin dan Aldo menoleh ke arah perempuan yang menjadi Mama dari Gita.
"Kenapa Ma?" Tanya Gita yang penasaran juga.
Nyonya Indira kemudian menyerahkan sebuah apel kepada Gita dan menatap ke arah Aldo.
"Kok bisa dulu Aldo ganti nama jadi Eka?" Tanya nyonya Indira membuat Aldo terdiam dan Karin menatap Aldo penuh makna. Karin pun merasa penasaran dengan jawaban apa yang akan Aldo berikan. Meskipun Karin sudah tahu jawaban apa yang akan di katakan oleh Aldo.
"Emmm...." Aldo meletakkan laptopnya di atas meja kemudian menatap nyonya Indira yang sedang menunggu jawaban dari mulut Aldo.
"Karena waktu itu Aldo cuma pengen Deket sama Karin Tan, heee" jawab Aldo menggaruk tengkuknya dan tersenyum canggung.
Karin mengangkat sebelah alisnya, bibirnya menampilkan senyum tipis. Hatinya bahagia mendengar jawaban Aldo.
"Awalnya sih iya.. tapi waktu itu ternyata Om Wijaya yang nyari supir pribadi jadinya ya udah Aldo daftar aja. Kan lumayan sambil antar Gita Aldo bisa curi pandang buat lihat Karin. Dan resiko ketahuan bisa di minimalisir" jelas Aldo.
Karin pun menahan bibirnya agar tidak tersenyum.
"Tapi akhirnya juga ketahuan kan" seru Karin kemudian.
"Itu kan karena kamu yang ngajakin aku ke rumah ketemu sama orang tua mu. Dan ternyata kebetulan orang tua ku ada di sana" ucap Aldo.
"Tapi kan kalau ngga gitu kak Aldo ngga bakal ngaku?" Seru Gita membela Karin. Karin pun mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
Aldo menghela nafasnya kemudian memeluk Karin dari samping. "Kan aku udah minta maaf sama kamu, yank" ucap Aldo lembut menatap wajah Karin yang ia senderkan di bahunya.
Karin pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ciee yang udah baikan.." goda Gita.
***
"Ma, Pa... Maaf kalau keputusan Angga sudah bulat." Ucap Angga.
Saat ini Angga, Santi dan kedua orang tua Santi baru saja selesai makan siang. Setelah hari kemarin di lalui dengan cerita sedih dan kenyataan yang menyakitkan baik untuk Angga maupun untuk kedua orang tua Santi. Namun hari kemarin bisa di lewati meskipun dengan keheningan.
"Apa maksud mu Ngga?" Tanya tuan Adnan menyesap kopi hitam nya.
Angga menarik nafas panjang kemudian menatap satu per satu wajah kedua mertua nya dan wajah Santi.
"Angga akan menceraikan Santi" ucap Angga pelan namun bagai cambukan keras untuk Santi.
Santi langsung melihat ke arah Angga. Begitu pula dengan kedua orang tua Santi.
"Jangan halangi Angga Pa, Ma.." ucap Angga menatap bergantian kedua mertua nya dengan tatapan memohon.
"Awalnya Angga sudah bisa menerima kehadiran Santi dan Tina dalam kehidupan Angga. Angga sudah mulai mencintai Santi, tapi yang terjadi adalah ternyata Santi membohongi Angga" ucap Angga menjelaskan.
"Jika saja Santi mengatakan sejak awal mengenai kehamilannya. Mungkin Angga masih bisa menerima. Tapi Santi justru menyembunyikan nya" lanjutnya.
"Mama paham perasaan kamu Angga" ucap nyonya Indri menatap wajah Angga yang kecewa.
Bagaimana pun nyonya Indri merasa kecewa dengan tingkah putrinya yang merebut kekasih orang lain. Karena bagaimanapun merebut sesuatu yang bukan miliknya adalah sebuah kesalahan.
"Terima kasih Ma... Secepatnya Angga akan mengurus perceraian. Dan semoga Tina segera bertemu dengan ayah kandungnya" ucap Angga.
"Kau tau siapa ayah kandung Tina?" Tanya ayah mertuanya.
Angga tersenyum tipis kemudian menatap Santi yang sedang menatapnya dengan air mata berlinang.
"Santi pasti lebih paham Pa... Angga permisi" pamit Angga.
__ADS_1
Angga pun naik ke atas untuk mengambil tas kerjanya. Angga melihat ke box bayi dimana Tina masih tertidur. Angga menatap wajah bayi mungil yang sama sekali tidak mirip dengannya.
"Selamat tinggal sayang" ucap Angga membelai lembut pipi gembul Tina. Angga pun menciumi wajah Tina kemudian bergegas untuk berangkat kerja.