
Karin membawa Gita mendekat ke arah keramaian di depan pintu perusahaan Bryan. Setelah dekat, Gita dan Karin dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Tak jauh dari mereka seorang perempuan yang memakai dress ketat berwarna biru sedang mencoba meraih lengan Bryan yang di lindungi oleh kedua bodyguard. Di belakang Bryan ada Romy yang setia melindungi bos nya dari belakang.
Gita dan Karin bingung dengan apa yang terjadi, namun ketika wanita itu mengatakan bahwa dirinya tengah hamil Gita langsung memandang tubuh wanita itu dan ternyata memang benar bahwa wanita itu mungkin tengah hamil karena perutnya terlihat sedikit buncit dan terlihat jelas karena wanita itu menggunakan dress yang sangat ketat.
Gita termangu dan terus menatap ke arah sana, dimana wanita itu menangis dan di abaikan oleh Bryan. Bahkan pria itu terlihat menghindar ketika wanita hamil itu mencoba meraih tangannya. Mata Gita tak lepas dari pemandangan disana, sedangkan Karin hanya diam-diam mengamati dan menoleh ke arah Gita.
"Git..." Panggil Karin pelan, Karin memegang tangan Gita membuat Gita menoleh ke arahnya.
Gita tak menjawab, gadis itu hanya tersenyum tipis kemudian melihat ke arah Bryan dan wanita itu lagi. Entah kenapa Gita penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dari tempat Gita berdiri, terlihat Bryan seperti mengatakan sesuatu namun tidak terdengar oleh Gita. Karena Bryan mengatakan dengan pelan dan wajah datar. Namun dapat terlihat dari ekspresi Bryan bahwa pria itu sama sekali tak menyukai wanita hamil itu.
Tak lama setelah Bryan berucap, wanita itu terlihat kesal dan marah. Dia menatap nyalang Bryan kemudian berkata dengan lantang bahwa anak yang ada di perutnya adalah anak dari Bryan maka dari itu wanita itu menuntut Bryan agar bertanggung jawab.
Bruk....
Map yang dari tadi di genggam oleh Gita jatuh dengan sendirinya. Gita langsung menundukkan tubuhnya untuk mengambil map yang berisi dokumen itu. Namun mata Gita tak lepas dari pemandangan disana yang membuat dadanya sesak.
Dari arah kerumunan itu, Bryan yang mendengar sesuatu terjatuh langsung menoleh dan ia sedikit tercengang saat menyadari ada Gita dan juga Karin sedang berdiri tak jauh dari dirinya. Terlihat matanya melihat ke arah Gita yang sedang mengambil sebuah map berwarna kuning.
Mata Gita dan Bryan beradu, cukup lama sampai Gita yang memutuskan mengakhiri pandangan itu dan lekas berdiri dengan baik dan menarik tangan Karin untuk pergi dari sana. Bryan yang melihat langsung mengejar Gita yang berjalan sedikit cepat.
"Gita..!!" Seru Bryan sedikit berlari untuk mengejar Gita.
Sementara Gita semakin mempercepat langkahnya dan segera masuk ke mobil saat Bryan sudah hampir dekat.
__ADS_1
"Jalankan mobilnya Ndi" perintah Gita kepada supir sahabatnya itu.
Tanpa bertanya lagi, Andi langsung menjalankan mobilnya dan menjauh dari halaman kantor Bryan. Tepat saat mobil itu berjalan Bryan sampai di tempat parkir mobil dan hanya bisa melihat mobil yang membawa Gita perlahan menjauh.
"Git..." Panggil Karin pelan menatap Gita yang menatap lurus ke depan.
Mendengar panggilan Karin, Gita menoleh ke arah sahabatnya. Gita tak menangis, namun dadanya terasa sangat sesak saat mendengar seorang wanita hamil anak Bryan. Gita ingin marah, namun entah kenapa suaranya seperti terhenti di tenggorokan. Jadi ia hanya bisa diam dan merasakan sakit yang sama seperti disaat beberapa tahun yang lalu.
"Gita,,, are you okay?" Tanya Karin pelan.
Gita menatap Karin dengan sendu, "i'm okay" jawab Gita pelan. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
***
"Maaf nona, sebaiknya anda pergi dari sini atau tuan Bryan akan semakin membenci anda" ucap Romy tegas dan memandang wanita yang tengah hamil itu nyalang.
Mata Romy menatap ke arah Bryan yang akan masuk ke mobil. Romy tahu pasti bos nya sedang khawatir dengan Gita, Bryan takut Gita akan salah paham dan marah dengannya.
Romy menghembuskan nafasnya kasar kemudian menatap ke arah dua bodyguard yang berdiri di depannya.
"Jaga wanita ini agar tidak masuk ke dalam dan membuat keributan" ucap Romy dan di angguki oleh kedua bodyguard itu. Romy kemudian masuk ke kantor kembali dan merogoh saku celananya mengambil benda pipih dan menghubungi seseorang.
Sementara di luar, wanita hamil yang tak lain adalah Sisi, dia mengangkat bibirnya menatap sinis ke arah mobil Bryan yang tengah melaju. Sisi ingin mengejar mobil Bryan, namun ia urungkan. Sebab ia sudah merasa puas karena tadi ia melihat dengan jelas bahwa saingannya telah mendengar saat ia berkata tengah mengandung anak Bryan.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat tak jauh dari Sisi berdiri. Tak lama juga Romy keluar dari dalam perusahaan dan menatap ke arah seseorang yang baru saja keluar dari mobil dan sedang berjalan ke arahnya. Seseorang yang tengah membawa dua orang lainnya itu menatap tak suka ke arah Sisi.
__ADS_1
Setelah sampai di dekat Sisi, pria itu memberi kode kepada dua anak buahnya agar membawa Sisi menjauh dari sana.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sisi khawatir saat melihat dua orang tengah menuju ke arahnya.
"Anda tidak mau pergi secara baik-baik, jadi jangan salahkan saya membawa anda secara paksa" ucap Romy memandang sinis Sisi.
"Buat dia pingsan" perintah seseorang yang berdiri di samping Romy.
Sisi menatap tajam ke arah Romy dan seseorang di samping Romy. Namun tatapan sisi tak berarti apapun untuk mereka. Seseorang di samping Romy memberi kode kepada dua anak buahnya untuk membuat sisi pingsan.
Kedua anak buah itu memukul pelan tengkuk Sisi dan akhirnya Sisi pun pingsan.
"Bawa saja ke markas Ndre, agar lebih mudah kau mengawasinya" ucap Romy kepada seseorang di sampingnya yang ternyata adalah Andre.
Andre menganggukkan kepalanya kemudian menatap kedua anak buahnya. Andre melambaikan tangannya memberi kode agar anak buahnya mengikuti dirinya. Dua anak buah yang menggotong tubuh Sisi pun berjalan menuju mobil dan memasukkan tubuh Sisi di mobil.
"Kau pergi bersama ku" ucap Andre kepada salah satu anak buahnya. "Dan kau, tunggu Romy." Lanjutnya menatap anak buah satunya lagi.
Mereka pun mengangguk, salah satu dari mereka masuk ke mobil dan satunya berlari menghampiri Rony yang masih setia berdiri di depan pintu.
***
Bryan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak ada yang ia pikirkan selain ingin cepat-cepat menemui Gita dan menjelaskan bahwa apa yang di dengar bukanlah kebenaran.
Mata Bryan fokus melihat ke arah mobil di depannya yang berjalan lumayan cepat. Kondisi jalan yang sedikit ramai membuat Bryan tidak bisa langsung mendahului mobil di depannya.
__ADS_1
"Gita.... Kakak harap kamu ngga salah paham" ucap Bryan menatap ke arah mobil yang kini sudah hampir berbelok ke sebuah perusahaan.