
"Kau berani menikahkan Sisi dengan pria lain Bryan?!" Seru tuan Kurnia lantang. Suaranya bahkan menggema di ruangan itu.
Bryan, Romy dan juga tuan Arya hanya menatap datar ke arah tuan Kurnia. Mereka sungguh bingung dengan pola pikir dari orang tua yang duduk di depan mereka dengan tatapan marah. Jelas-jelas anak yang ada di perut Sisi bukan anak Bryan tapi masih memaksa Bryan untuk tetap menikahi Sisi.
"Aku heran dengan pemikiran Papa, sebenarnya apa yang telah mereka janjikan kepada Papa sehingga Papa mati-matian memaksa Bryan menikahi Sisi meskipun saat ini Sisi sedang hamil dan jelas kehamilannya bukan karena Bryan tapi karena orang lain." Ucap tuan Arya datar. Ia merasa geram dengan apa yang di lakukan oleh pria yang menjadi ayah nya itu.
Hening. Tidak ada jawaban dari tuan Kurnia. Pria tua itu hanya diam, tak berniat menyahut ucapan anak nya. Di sebrang tak jauh dari tuan Arya, tuan Kurnia kembali mengingat peristiwa dimana sahabatnya mempertaruhkan nyawanya demi dirinya. Dan tuan Kurnia pun sudah janji akan menikahkan Sisi dengan cucunya.
"Apa yang telah mereka berikan kepada Papa sehingga Papa....."
"Nyawa!!" Seru tuan Kurnia lantang membuat tuan Arya yang hendak berbicara kembali terdiam dan menatap tak mengerti ke arah tuan Kurnia.
Bukan hanya tuan Arya, Bryan dan Romy yang sejak tadi sibuk dengan pikiran masing-masing pun langsung menoleh ke arah tuan Kurnia.
"Apa maksud kakek??"
***
"Makasih" ucap Aldo kepada Karin saat mereka masih di dalam mobil.
Saat ini mereka berada di parkiran sebuah restoran mewah. Jika yang saat ini bersama Karin adalah Eka, maka ia akan mempertanyakan kenapa pria itu mengajaknya kemari. Namun, saat ini yang ada di sampingnya adalah Aldo, putra semata wayang tuan Jaka. Jadi Karin tidak akan heran.
"Karin" panggil Aldo lagi, ketika Karin tidak menjawab ucapannya.
Karin tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Karin memang sudah memaafkan Aldo sejak lama. Namun jika bukan karena wejangan Gita tadi pagi, mungkin saat ini Karin tidak satu mobil dengan Aldo.
"Yuk masuk, kita makan malam dulu" ucap Aldo kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Karin.
Mereka berjalan beriringan menuju restoran. Sebelumnya Aldo telah memesan bangku di lantai atas restoran ini. Karena dari lantai atas restoran ini pengunjung di suguhkan dengan pemandangan kelap-kelip kota yang indah dan berwarna.
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan menaiki tangga, tangan mereka saling bertautan. Entah siapa yang lebih dulu menggenggam namun, keduanya tidak berniat untuk saling melepaskan.
Tepat ketika mereka menapakkan kakinya di tangga, tidak sengaja sepasang mata menatap mereka. Gita. Saat ini Gita tengah makan malam dengan sang Papa. Dan apa yang ia lihat, ia menyipitkan matanya dan kemudian tersenyum samar setelah yakin dengan apa yang di lihatnya.
"Kenapa?" Tanya sang Papa yang melihat Gita tersenyum sendiri.
"Ah, enggak papa kok Pa" ucap Gita meringis. Kemudian melanjutkan makannya kembali.
Sementara di lantai atas, Aldo menarik kan kursi untuk Karin. Karin bingung kenapa tidak ada pengunjung lain di lantai atas. Padahal di lantai bawah ramai.
"Terima kasih kak" ucap Karin kepada Aldo, dan masih menatap bangku kosong yang tanpa pengunjung.
Karin menatap Aldo curiga. Sementara Aldo yang sadar dengan tatapan Karin hanya duduk santai tidak berniat menjelaskan. Ia justru mengalihkan pandangannya ke arah sana, dimana kota Jakarta tampak indah dengan lampu warna-warni yang menghiasi setiap rumah ataupun bangunan lainnya.
"Kak......"
Aldo memandang ke arah pelayan dan menganggukkan kepalanya, sementara Karin hanya memperhatikan pelayan wanita yang sedang memindah makanan ke atas meja.
"Selamat menikmati" ucap pelayan itu kemudian berlalu.
"Yuk makan malam. Kakak udah lapar" seru Aldo kemudian setelah kedua pelayan tadi pergi.
Karin yang ingin menanyakan kenapa tidak ada pengunjung selain mereka berdua pun mengurungkan niatnya ketika melihat Aldo yang sudah lebih dulu makan dengan lahap. Terlihat sekali bahwa pria itu sangat lapar.
"Pelan-pelan kak" ucap Karin saat melihat Aldo menggigit kepiting dengan rakus.
"Kakak udah lama ngga makan makanan kayak gini" ucap Aldo setelah menelan makanannya.
Karin hanya tersenyum geli melihat Aldo, Karin ingat selama Aldo menjadi Eka pria yang ada di hadapannya kini hanya makan seadanya. Bahkan selama mereka pergi berkencan hanya makan nasi goreng mang Rahmat atau jajan di pinggiran jalan saja.
__ADS_1
"Ngga usah liatin kakak. Ayok makan" ucap Aldo ketika menyadari bahwa Karin belum memakan makanan yang ada di piringnya.
Sementara di lantai bawah, Gita sudah menyelesaikan makannya dan ingin pergi.
"Papa tadi liat seseorang ngga sih?" Tanya Gita kepada sang Papa yang baru saja tiba, tuan Wijaya baru selesai membayar tagihan.
Tuan Wijaya mengerutkan keningnya, "siapa?" Tanya tuan Wijaya.
"Tadi aku kayak liat kak Aldo sama Karin deh" ucap Gita melihat ke arah tangga dimana Karin dan Aldo tadi lewat.
"Mungkin kamu salah lihat. Atau kalau ngga mereka ngga lihat kita. Kan pengunjung nya rame banget" ucap tuan Wijaya.
Gita pun menganggukkan kepalanya setuju. "Ya udah. Pulang yuk Pa" ajak Gita kemudian mengandeng lengan sang Papa.
***
"Jadi... Alasan kakek ingin menikahkan Bryan dengan Sisi karena kakek Sisi pernah menyelamatkan nyawa kakek?" Tanya Bryan kepada tuan Kurnia.
Sudah lewat jam makan malam. Namun di antara mereka belum ada yang mau mengakhiri perbincangan panas mereka. Bahkan sekarang, nyonya Lana pun ikut serta dalam perbincangan itu. Nyonya Lana duduk di samping sang suami.
Sore tadi, saat acara masaknya sudah selesai nyonya Lana berniat memanggil sang putra untuk mandi dan bersiap makan malam. Namun saat ia sampai di ruang tamu ia melihat ternyata suaminya juga sudah pulang. Nyonya Lana menghampiri mereka dan tanpa sengaja mendengar tuan Kurnia yang sedang menceritakan alasan kenapa ingin menjodohkan Bryan dengan Sisi. Karena penasaran akhirnya nyonya Lana turut serta menyimak cerita sang ayah mertua.
"Apapun yang terjadi Bryan tetap menolak pernikahan ini" seru Bryan.
"Apa maksud mu Bryan. Jika bukan karena dia kakek mu ini sudah tiada!!" Seru tuan Kurnia dengan lantang. Bahkan tuan Kurnia langsung berdiri karena sangking emosinya.
"Konyol! Kakek benar-benar konyol." Ucap Bryan ikut berdiri. "Tolong jangan egois kek. Jangan selalu memaksakan apa yang kakek kehendaki." Lanjut Bryan dengan suara rendah.
"Selama ini Bryan sudah merasa sakit dengan segala aturan kakek. Apa kakek pikir selama ini Bryan bahagia? Tidak kek. Tidak sama sekali. Apa yang Bryan lakukan demi membuat kakek bahagia. Bukan demi Bryan sendiri kek. Dan sekarang kakek ingin memaksa Bryan menikahi wanita yang tidak Bryan cintai sama sekali. Maaf kek, dengan tegas Bryan akan tetap menolak nya sampai kapan pun. Karena untuk saat ini Bryan ingin menemukan dan merasakan kebahagiaan Bryan sendiri" ucap Bryan kemudian berlalu menuju kamar di ikuti oleh Romy di belakangnya.
__ADS_1