CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI

CINTA LAMA BERTEMU KEMBALI
CLBK 84


__ADS_3

"Katakan Santi, siapa yang mengajari mu melakukan hal kotor seperti itu? Dan lagi jika Tina bukan anak dari Angga, lalu Tina anak dari pria mana Santi!!!" Teriak nyonya Indri lantang,.


Nyonya Indri tak habis pikir, bagaimana putrinya bisa merebut kekasih Gita, yang saat itu adalah sahabat baiknya. Bukan itu saja, Gita bahkan memberikan tabungan yang di miliki untuk biaya berobat tuan Adnan ketika di rawat di rumah sakit. Gita juga membantu Santi membangun butik dan merekomendasikan kepada teman-temannya.


Air mata lolos begitu saja dan membahasi pipi nyonya Indri, nyonya Indri terduduk di sofa ia meraup wajahnya terisak. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu. Tuan Adnan pun mendekat ke arah nyonya Indri dan memeluk dari samping tubuh istrinya yang terisak.


Sementara Angga hanya melongo mencerna setiap kata yang baru saja di ucapkan oleh ibu mertuanya. Ia menatap Santi yang semakin terisak.


"Ma...." Panggil Santi, Santi merangkak memeluk lutut sang Mama. "Maafin Santi Ma" ucap Santi terisak.


"Santi sangat mencintai mas Angga, hingga Santi gelap mata dan merebut mas Angga dari Gita. Maafin Santi Ma.." lanjut Santi.


Nyonya Indri hanya menangis, ia biarkan Santi yang menangis sambil memeluk lututnya. Ia masih kecewa dengan sikap Santi.


***


"Udah kak, aku udah kenyang" ucap Gita membungkam mulutnya dengan telapak tangan ketika Bryan ingin menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


Gita membungkam mulutnya dan menggelengkan kepalanya tanda ia menolak nasi dalam sendok yang sudah mendekati mulutnya. Bryan hanya menghela kemudian meletakkan kembali sendok dan kotak nasi ke atas meja.


"Minum dulu" ucap Bryan menyerahkan segelas air putih kepada Gita. Gita menerima gelas itu dan meminumnya hingga tersisa setengah.


"Ah kenyang" seru Gita memegang perutnya yang terasa penuh. Baru saja ia makan buah-buahan dan Bryan langsung memaksanya untuk makan nasi.


"Istirahat lah" perintah Bryan membenarkan banyak Gita.


Gita pun tersenyum dengan perlakuan manis Bryan, dan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah padahal ia tidak melakukan apapun.


"Tidurlah, kakak akan pergi sebentar karena ada urusan" pamit Bryan kepada Gita.


Bryan menarik selimut dan menutupkan ke badan Gita. Pria dingin itu mencium kening Gita sebagai tanda perpisahan malam ini.


"Kakak pamit ya" ucap Bryan kemudian berlalu.


Setelah Bryan keluar, Gita pun langsung memejamkan matanya dan tidak perlu waktu yang lama Gita sudah berlabuh ke alam mimpi.

__ADS_1


"Kak Bryan, bagaimana keadaan Gita?" Tanya Karin ketika melihat Bryan baru saja keluar dari ruangan Gita.


"Gita sudah membaik, tapi saat ini Gita sedang istirahat. Jadi kau jangan mengganggu nya" ucap Bryan memperingati Karin.


Karin pun merengut mendengar ucapan Bryan. Padahal ia sudah sangat ingin memeluk tubuh sahabatnya itu. Tak lama Aldo pun menghampiri Karin dan menggenggam tangan Karin.


"Kita pulang saja dulu, besok pagi kita kesini lagi. Biar Tante Indira dan Om Wijaya yang menunggu Gita" ucap Aldo lembut. Kemudian melihat ke arah orang tua Gita yang duduk di kursi tunggu.


Karin ikut melihat ke arah sana dan melihat nyonya Indira mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah" ucap Karin akhirnya. Karena ia pun tidak ingin mengganggu istirahat Gita.


Aldo dan Karin pun langsung pergi setelah sebelumnya pamit kepada tuan Wijaya dan nyonya Indira. Sementara orang tua Bryan dan juga tuan Kurnia sudah pulang sejak sore tadi.


"Om, Tan, Bryan pamit dulu. Bryan ada urusan sebentar" pamit Bryan kepada tuan Wijaya dan nyonya Indira ketika Karin dan Aldo sudah pergi.


"Ya Bryan. Terima kasih karena sudah menjaga Gita" ucap tuan Wijaya.


"Tidak perlu sungkan Om, bagaimanapun Gita adalah gadis yang saya cintai" ucap Bryan tulus.


"Bryan pamit Om" ucap Bryan kemudian berlalu.


"Ayo masuk Ma, kita istirahat di dalam biar Gita ada yang menemani" ajak tuan Wijaya kepada istrinya ketika Bryan sudah hilang dari pandangan mereka.


"Iya Pa" jawab nyonya Indira. Mereka pun masuk ke ruangan Gita dan melihat Gita sudah tertidur dengan pulas.


***


"Bagaimana hasil penyelidikan kalian?" Tanya Bryan kepada para anak buahnya, terutama kepada Andre dan Romy yang di beri kepercayaan oleh Bryan.


"Lapor bos, pelaku penembakan nyonya Gita sudah di tangkap" ucap Romy.


"Bagus, Dimana dia?" Tanya Bryan.


"Leo!" Panggil Romy kepada anak buah yang berbadan kekar. Romy memberi kode kepada Leo untuk menunjukkan dimana sandra yang baru saja ia tangkap.

__ADS_1


Leo yang mengerti dengan kode Romy langsung maju dan menghadap Bryan.


"Mari saya antar bos" ucap Leo, Bryan pun berdiri mengikuti langkah kaki Leo. Kemudian di susul oleh Andre dan Romy di belakangnya.


Setelah berjalan menyusuri beberapa ruangan akhirnya mereka sampai di ruangan yang sedikit gelap. Karena penerangan di ruangan itu belum di hidupkan.


Leo membuka pintu ruangan itu dan menghidupkan lampu hingga terlihat seorang pria terbaring di lantai dengan tangan dan kakinya yang terikat. Mulutnya pun di tutup oleh lakban.


Pria itu membuka mata ketika menyadari ada langkah kaki yang mendekat ke arah nya.


"Siapa kau?" Tanya Bryan berjongkok di hadapan pria itu dan memperhatikan wajah pria yang memang asing baginya.


"Maaf bos, dia memang pelaku penembakan nona Gita, namun setelah diteliti ternyata dia hanya orang suruhan" jelas Leo. Membuat Bryan menatapnya.


Bryan berdiri dan menghampiri Leo dengan wajah dingin.


"Lalu?" Tanya Bryan.


"Pelaku sebenarnya pun sudah ditangkap oleh Indra. Dan sekarang sedang di ruangan bawah tanah" jelas Leo.


Bryan pun melihat ke arah sandranya kemudian menatap Andre dan Romy. "Awasi mereka" perintah Bryan. "Dan kau tunjukkan dimana pelaku yang menyuruhnya" ucap Bryan.


Leo pun berjalan lebih dulu menuju ruangan bawah tanah yang dijaga oleh Indra. Sementara Andre dan Romy menunggu pintu ruangan dimana pria tadi di sekap.


"Buka pintunya!" Perintah Leo kepada Indra. Indra yang melihat ada Bryan di belakang Leo pun menurut dan langsung membuka pintu ruangan bawah tanah.


Indra menutup kembali pintu itu setelah Bryan dan Leo masuk ke dalam ruangan. Bryan dan Leo menuruni tangga yang menuju ruang bawah tanah. Hingga mereka dapat melihat seorang pria yang mengenakan jas rapi sedang terikat di kursi.


Bryan menghentikan langkahnya dan menyipitkan mata untuk memastikan apa yang dia lihat. Bryan seperti mengenali orang itu. Meskipun mulutnya di tutup oleh lakban hitam namun, penglihatan Bryan tidak mungkin salah.


Bryan langsung mempercepat langkahnya dan mendekat ke arah pria yang di perkirakan masih pingsan itu.


Bryan menarik paksa lakban yang membungkam bibir orang itu dan matanya langsung melotot kaget. Sementara pria yang masih pingsan itu langsung terbangun ketika Bryan menarik kasar lakban di mulutnya dan ia ikut terkejut ketika menyadari Bryan ada di depannya.


"Kauuu....." Ucap Bryan geram. Rahangnya mengeras.

__ADS_1


__ADS_2