
Deg ... Deg ...
Jantung Karin seperti mau lompat dari tempatnya saat Eka menatap dirinya dengan tatapan yang teduh seperti ini.
"Lo mau jawabannya, temuin gue malem ini di warung yang waktu itu." Ucap Karin lalu melepas dengan kasar cengkraman tangannya. Dan segera pergi dari sana.
Eka diam-diam tersenyum melihat punggung Karin yang semakin jauh.
"Mas Eka kenapa???" Tanya mbok Na yang kebetulan melintas di ruangan itu.
"Ehh, anu mbok... Ee...." Jawab Eka gagap, ia sungguh tidak sadar bahwa ternyata di ruangan ini ada orang selainnya.
"Mbok ngapain kesini?" Tanya Eka mengalihkan pembicaraan.
"Ya mbok mau membereskan meja makan lah mas. Mas sendiri ngapain???" Tanya mbok Na.
"Saya... Emm...." Eka menelan ludah nya dan bingung hendak menjawab apa hingga ponsel di sakunya berdering dan Eka bisa bernafas lega.
"Saya angkat telpon dulu ya mbok" ucap Eka lalu segera pergi dari ruangan itu.
Mbok Na yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya lalu kemudian melanjutkan aktivitasnya membereskan meja makan. Siang ini hanya Gita dan Karin yang makan di rumah itu.
***
Di sebuah kamar hotel berbintang, Sisi berjalan mondar-mandir. Di tangannya menggenggam benda pipih yang sejak tadi ia gunakan untuk menghubungi seseorang namun tidak tersambung.
"Deka kemana siih....??" Tanya Sisi dengan rasa khawatir.
Sejak Sisi berkata pada Deka bahwa dirinya hamil, Deka menjadi sering menghindar dari Sisi. Bahkan sering kali saat Sisi menelpon pria itu tidak mengangkat telponnya dengan alasan sibuk ataupun banyak pekerjaan.
Pikiran negatif pun menghampiri Sisi, bagaimana jika Deka tidak mau bertanggung jawab. Siapa yang akan mengakui anak dalam kandungannya?
Sisi menggigit jari tangannya, ia berjalan kesana-kemari namun tidak memiliki solusi sedikit pun.
Sementara di butik milik Santi, saat ini pria yang sedang di cari oleh Sisi sedang bergelut di atas ranjang bersama Santi. Sudah lama mereka tidak bertukar peluh. Semenjak pagi itu saat Santi berhasil meruntuhkan hati Angga, maka Santi lebih sering melakukannya bersama Angga di banding Deka. Namun siang ini Deka tiba-tiba menemui Santi dan tanpa aba-aba langsung menyerang Santi dengan sentuhan-sentuhan manja yang membuat Santi terbuai.
"Deekaa.... Haahhh...." Lenguh Santi saat ia mencapai puncak. Ia pun ambruk di samping Deka. Perutnya yang semakin membuncit membuat dia tidak bisa merebahkan tubuhnya diatas tubuh Deka.
__ADS_1
Deka miring ke samping memandangi wajah Santi yang penuh dengan keringat. Dia jadi berpikir, jika Santi tau bahwa ada perempuan lain yang hamil karena dirinya apakah Santi akan marah? Sesungguhnya Deka menyukai wanita yang baru saja memberikan kepuasan kepadanya. Namun sayang wanita di sampingnya ini lebih mencintai Angga di banding dirinya.
"Kenapa??" Tanya Santi mengelus lembut pipi Deka.
"Tidak apa-apa..." Jawab Deka tersenyum. Deka meraih tangan Santi yang ada di pipinya lalu menciumnya.
"Tidurlah.." lanjut Deka lalu mencium kening Santi. Deka memeluk Santi dan menyandarkan kepala Santi di dada bidangnya. Tak lama mereka pun sama-sama berlabuh di alam mimpi.
Sisi kembali menelpon nomor Deka, namun jawabannya tetap sama. Telepon itu tersambung. Jawaban operator yang mengatakan bahwa nomer Deka sedang di luar jangkauan membuat Sisi merasa frustasi.
Waktu itu saat Sisi memeriksakan kandungannya di bagian obgyn kandungannya memang masih berusia empat minggu. Namun jika dibiarkan bukankah perutnya akan semakin membesar. Dan jika Deka tidak mau bertanggung jawab maka bagaimana Sisi akan menghadapi situasi ini.
Sisi duduk di pinggiran ranjang. Ia menjambak rambutnya frustasi. Apa yang akan dia lakukan sekarang. Bahkan tidak ada yang tau bahwa dirinya hamil. Pada siapa dia akan mengadu dan menceritakan hal ini. Sisi sungguh tidak sanggup menanggung sendiri.
***
Pada malam hari, sesuai yang sudah di janjikan saat ini Karin sudah menunggu Eka di rumah makan nasi goreng mang Rahmat. Bukan tanpa alasan Karin datang terlebih dahulu hanya saja dia ingin mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan sejak tadi saat sebelum berangkat.
Karin sudah memesan jus jeruk kesukaannya, namun jus itu masih utuh belum diminum sedikit pun. Karin hanya mengaduk-aduk jus dalam gelas itu hingga seseorang yang di tunggunya datang.
"Yaa..." Jawab Karin singkat. Jika biasanya Karin akan marah-marah jika Eka datang terlambat maka kali ini entah kenapa Karin seperti kehilangan kata-kata untuk marah-marah.
"Non udah nunggu lama?" Tanya Eka memandang Karin. Terlihat wajah Karin sedikit bersemu merah.
"Belum.." jawab Karin.
Eka mengerutkan keningnya, jika Karin belum lama sampai lalu milik siapa jus jeruk yang sudah hampir ini.
"Lalu jus ini milik siapa non?" Tanya Eka menunjuk gelas di depan Karin.
Karin tersentak kaget, dia lupa bahwa untuk menenangkan irama jantungnya dia memesan segelas jus jeruk yang kini ada di hadapannya.
"Emm... Ini .. ini milik orang lain sebelum aku datang dan mungkin belum di bereskan" alibi Karin lalu membuang mukanya ke arah lain.
Meskipun agak ragu dengan jawaban Karin namun Eka tetap mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Non mau mesen makanan dulu?" Tanya Eka. "tenang, biar saya yang traktir non, saya hari ini dapat gaji dari tuan Wijaya" ucap Eka sambil meringis.
__ADS_1
Karin pun menahan senyum bahagianya, bagaimanapun baru kali ini ada pria yang mau menawarkan sebuah makanan gratis kepada Karin meskipun tahu Karin anak orang kaya.
"Yakin???" Tanya Karin.
"Ya.." ucap Eka yakin.
Karin pun lalu meraih buku menu yang ada di rumah makan itu. Karin ingin memilih beberapa makanan yang menurutnya enak. Dan juga minuman yang bisa menghilangkan rasa haus serta rasa gugupnya.
Di depan Karin, Eka memandang Karin yang sedang memilih-milih menu makanan. Eka tidak akan takut jika uang nya akan terkuras banyak untuk malam ini. Karena yang terpenting adalah Eka bisa makan bersama Karin dan bisa memandang wajah Karin seperti saat ini.
"Oke, aku udah pesen makanan nya.." seru Karin mendongakkan kepalanya dan dia memergoki Eka sedang menatap dirinya. Eka pun segera memalingkan wajahnya.
"Ekhem ..." Dehem Eka. "yaudah non, pesen aja" ucap Eka.
Karin pun mengangkat satu tangannya dan tak lama sang penjual pun menghampiri.
"Pesen apa non?" Tanya penjual itu.
"Seperti biasa ya mang, nasi goreng spesial dan jus jeruk" ucap Karin.
"Siap non, kalau mas nya?" Tanya mamang itu.
"Samain aja mang" jawab Eka.
Penjual itu pun pergi untuk menyiapkan pesanan Karin dan Eka.
"Kenapa cuma pesen nasi goreng dan jus saja?" Tanya Eka.
"Takut uang mu ngga cukup aja kalau aku pesen banyak" jawab Karin menopang wajahnya dengan satu tangan dan menatap Eka.
Eka pun tersenyum. "Kan saya sudah bilang,,, hari ini saya baru gajian. Kerja di rumah tuan Wijaya gajinya besar kok. Hhee" jawab Eka.
Karin pun hanya menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya. Sungguh detak jantungnya semakin tidak beraturan.
___
selalu dukung author ya dengan berikan like, dan juga vote. jika berkenan author juga berharap para pembaca memberikan hadiah seikhlasnya untuk author 🤗🤗
__ADS_1