
Aaallleetttaaa”. Teriak ketiganya.
"Ahh" . ale terkejut sembari menutup telinganya.
"Astaga ini anak ya”. Sahut bunga
"Loh melamun Al?”. Tanya Diandra
"Hemm, ada apa teriak-teriak pelan aja kali aku dengar kok”. Jawab ale datar.
"Buset, kita udah manggil nama loh 1000X tetap aja elo gak dengar ale". Tasya nampak sedikit emosi
"Hehehehe.. maaf-maaf aku yang salah, pelankan suara kalian sini mendekat”. Seru ale sambil merangkul tiga sahabatnya itu.
Ale menceritakan pada temannya kejadian dimalam itu bersama Haykal, ia tidak bisa memendam sendiri perasaannya. menyembunyikan rasa kagumnya terhadap wakil ketua osis yang tampan itu tidak lah mudah, apalagi dia sudah memiliki kekasih itu sangat menyiksa ale.
"Dari pada aku tambah gila mending cerita ke mereka”. Batin ale
Dari awal kejadian saat diruang guru, kehujanan dengan haykal,tidur bersama dirumah sakit ia ceritakan dengan detail, hingga membuat ketiga sahabatnya itu terkejut.
"Aapppaaaa?” Diandra yang terkejut itu membuat semua murid yang ada dikelas itu melirik kearah mereka, termasuk salah satu anggota osis yaitu cika.
"hussssttttt,pelankan suaramu”. Mata ale melotot pada Diandra mengisyaratkan bahwa jangan sampai orang lain mengetahuinya.
"Aduh, jangan cari masalah sama nenek sihir itu deh Al”. Diandra memelankan suaranya serasa berbisik.
"Nenek sihir, siap maksud mu?”. Ale berbisik
"Aauurell”. Seru Diandra
Hahhahhahhahahahhahaha diiringi tawa keempat wanita tersebut..
Sontak saja membuat yang lain menoleh kearah mereka lagi.
"Ahh kenapa mereka?, aku yakin pasti ada yang gak beres”. Seru cika berbicara sendiri. Cika adalah salah satu anggota osis yang berada satu kelas dengan aleta, tetapi ia tidak menyukai anak baru itu, ia juga yang mengusulkan supaya ada razia dikelas XI tempo hari, karna melihat ale berpenampilan yang modis dan feshionable membuat cika iri.
Di samping itu keempat wanita yang sedang tertawa tadi tiba-tiba membubarkan diri karna kegiatan belajar mengajar telah dimulai.
Sejak saat itu keempatnya semakin akrab dan memahami satu sama lain, saling membela dan saling melengkapi.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mentari terus bergulir dari sumbunya menyusuri waktu menghilangkan pagi menyapa senja.
Sore itu dirumah sakit,
Diruang 203 nampak seorang dokter sedang memeriksa airin,melihat Airin sudah bisa bernafas dengan normal dokter itu pun tersenyum.
__ADS_1
"Anak manis, jangan lupa diminum ya obatnya”. Seru dokter itu membujuk lembut Airin.
"Aku jenuh dok setiap hari harus minum obat”. Jawab Airin sendu
"Katanya ingin sembuh kalo kamu tidak mau minum obat nanti kamu bisa lama disini”. Bujuk dokter itu lagi.
Segala upaya dokter lakukan untuk membujuk airin,karna sangat berbahaya jika ia tidak meminum obatnya. Dan ketika Airin sudah meminum obat, dokter pun menyuruh Airin untuk istirahat sebelum ia undur diri dari ruangan itu mamah Helena menanyakan perihal kondisi Airin, namun dokter menyarankan untuk berbicara diluar agar Airin bisa beristirahat.
"Bagaimana dok keadaan anak saya?”. Tanya mamah Helena khawatir.
"Begini Bu, keadaan Airin sudah jauh lebih baik. pastikan dia tidak kelelahan dan kecepekan sehingga ia bisa mengontrol dirinya setelah ini jangan sampai ia telat meminum obatnya jika tidak ini akan sangat fatal untuknya”. Jelas dokter
"Iya dok saya mengerti”. Seru mamah Helena.
Sore itu Hati mamah Helena sangat gelisah, ingin segera menghubungi suaminya namun takut jika itu hanya akan membebani suaminya.
Ketika dirinya sedang melamun terdengar suara teriakan dan tangisan dari ruangan Airin. Sontak saja membuat mamah Helena terkejut dan langsung berlari ke dalam.
"Airinn,sayang kamu kenapa?”. Seru mamah Helena menenangkan Airin yang tiba-tiba mengamuk.
"Maahhh. Aku bosan hidup seperti ini.huuhuuuhhuuu" tangisan Airin mulai tak bisa ia tahan.
"Sayang jangan seperti ini, kamu harus kuat mamah ada disini".
"Jangan sayang jangan bicara seperti itu mamah gak sanggup kehilangan kamu”. Air mata mamah Helena pun mulai mengalir
"Aku muak mahh,kenapa aku tidak bisa hidup seperti yang lain Maahhh, aku iri pada kak Adit yang bisa meraih impiannya, aku juga iri pada kak ale yang bisa sekolah di sekolahan umum, punya teman banyak bisa bermain sesuka hati sedangkan aku. Huuhuuuhuuu".
Emosi Airin sudah tak tertahan lagi, ia mengungkapkan semua yang ia pendam selama ini. Ia selalu iri kepada 2 saudaranya itu yang bisa hidup normal seperti yang lain, sedangkan dia tidak.
Ia hanya bisa berdiam dirumah dan melakukan kegiatan belajar melalui komputer karna papa adam tidak mengizinkan dia pergi kesekolah.
Mereka khawatir akan terjadi hal buruk pada Airin mengingat kondisi Airin yang lemah.
Perdebatan itu tidak sengaja didengar oleh ale yang hendak masuk ke dalam ruangan itu namun dihentikan oleh Haykal.
"Jangan sekarang Al, beri Airin waktu dia sangat terpukul dengan keadaannya”. Seru Haykal menahan ganggang pintu yang ale pegang.
" Aku hanya gak mau Airin bersikap seperti itu kal, kita semua sayang padanya tapi kenapa dia seolah olah tidak menghargai kita, dia ingin mati ". Tanpa terasa butiran bening telah membasahi pipi ale.
Haykal yang menyadari bahwa ale pun sudah terpancing emosi ketika mendengar adiknya ingin mengakhiri hidupnya itu membuatnya menarik lengan ale dan membawanya ke taman rumah sakit.
"Disini kamu bisa menangis sepuasmu jangan biarkan mamahmu melihatmu seperti ini, itu akan menambah kesedihannya". Nasehat Haykal
Dan ale pun menangis sejadi jadinya ditaman itu ditemani Haykal yang selalu setia mendengarkan keluh kesah wanita cantik itu.
__ADS_1
"Sabar ya Al, Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya”. Nasehat Haykal sembari mengusap lembut rambut panjang ale.
"Andai bisa diganti, aku rela menggantikan Airin huu. Huuhuuuhuuu".
Perlahan tangan Haykal mencoba menggenggam tangan aleta yang terasa dingin,
"Dengerin aku ya Al, kamu harus percaya takdir dan keajaiban, kedua hal itu saling berdampingan. Takdir yang membuat Airin seperti ini hingga nanti keajaiban datang untuknya juga".
Aleta terus saja menangis, ia menyalahkan dirinya atas apa yang dialami adiknya padahal itu bukan sepenuhnya salahnya hingga Haykal meletakan kepala ale dibahunya dan mengusap lembut air mata yang jatuh membasahi pipi putih ale.
"Mau aku antar pulang?”. Tanya Haykal lembut.
"Tidak, aku ingin melihat Airin”. Jawab ale singkat
"perlu aku temani?".
"Tidak usah kal, lebih baik kamu temani bunda pasti beliau lebih membutuhkanmu”. Seru ale sambil beranjak meninggalkan Haykal.
Haykal pun membiarkan ale pergi dan ia juga segera menuju kamar sang bunda.
"Assalamualaikum”. Sapa Haykal sembari membuka pintu
"Walaikum salam”. Jawab kedua orang tuanya.
"Ayah biar aku aja yang menyuapi bunda, lebih baik ayah istirahat, pasti ayah lelah jaga in bunda sendirian”. Seru Haykal sambil merebut mangkuk yang ayah wira pegang.
"Oke baik lah”. Seru sang ayah.
"Bunda gimana keadaannya?".
"Alhamdulillah sayang sudah baikan,kata dokter besok sore kalu kondisi bunda terus membaik bunda diizinkan Pulang”. Seru bunda bahagia.
"Alhamdulillah bunda, tapi setelah ini Haykal tidak akan mengizinkan bunda lembur lagi, ingat kondisi bunda ini jauh lebih penting dari apa pun".
"Iya".
Setelah selesai menyuapi bundanya, Haykal pun merebahkan tubuhnya dikursi, ia lekas memejamkan matanya aktivitas seharian ini membuatnya begitu lelah hingga tak sadar suara ponsel membangunkan nya.
"Kriiinggg..Kriiinggg..Kriiinggg"
*
*
*
BERSAMBUNG...
__ADS_1