
Sudah satu jam pun berlalu tapi dokter belum juga keluar ruangan membuat hati reno semakin gelisah. Haykal pun merasakan hal yang sama dan mengajak reno untuk berdoa agar aurel selamat.
*ya allah, tiada pertolongan yang sebaik engkau, selamatkanlah aurel dan bayinya*
"Aamiin". Seru keduanya
Tak berselang lama mereka mendengar suara tangisan bayi yang membuat kedua lelaki itu terharu.
"Alhamdulillah. Selamat ya mas reno". Seru haykal sembari memeluk reno
Bahkan reno pun merasa tak percaya jika mulai hari ini dirinya menjadi seorang ayah. Dokter keluar dan memberitahu jika bayinya adalah seorang laki laki hingga meminta reno untuk mengadzaninya.
"Kamu aja kal, yang mengadzani bayi itu".
"Tidak mas reno, kamu adalah orang yang tepat. Lagi pula mas reno kan ayahnya".
"Tapi aku ragu".
"Kau harus yakin mas reno, dia anakmu".
Reno pun memantapkan hati untuk mulai mengadzani bayi mungil itu dan tak berselang lama ia telah selesai mengumandangkan suara adzan ditelinga sang buah hati.
Rasa senang bercampur haru pun tak dapat reno sembunyikan, berkali kali butiran putih membasahi pipi dikala melihat bayi mungil itu dihadapannya. Sedangkan monica hanya bisa melihat semua itu dari kejauhan, sebab dirinya tidak memiliki keberanian bertemu reno apalagi haykal berada disana.
Ingin rasanya berlari menghampiri anak semata wayang nya dan memeluk wanita manis itu namun rasanya ia belum siap bertemu mereka hingga monica memilih untuk berlalu meninggalkan rumah sakit.
Di Lobi monica tidak sengaja melihat ada beberapa orang yang mencurigakan berlalu disampingnya. Bagaimana tidak seseorang itu menggunakan pakaian serba hitam bahkan memakai menutup wajah yang membuat monika sedikit menaruh rasa curiga.
Wanita paruh baya itu pun mulai mengikuti kemana seseorang itu pergi namun anehnya orang misterius itu justru masuk ke dalam ruang jenazah yang membuat monika terkejut.
"Aku ternyata salah, mungkin memang bukan apa apa. Tapi mengapa perasaanku sangat gelisah. Semoga tidak terjadi sesuatu dengan cucuku".
Batin seorang monika mengungkapkan kegelisahan, dirinya takut jika ini semua berhubungan dengan cucu mungilnya itu namun ternyata tidak hanya perasaan monika saja.
Sedangkan di semarang, airin dan yongki kian menunjukan keakraban. Setiap hari bahkan mereka selalu bersama, terlihat begitu yogi menyayangi airin. Yogi juga lah yang selama ini menjaga airin.
"Apa kamu sudah minum obat?".
"Aku bosan terus minum obat. Aku ingin hidup normal seperti yang lain".
"Airin. Kamu itu sangat berharga. Jangan sia siakan orang yang selama ini menyayangimu. Mereka berharap jika kamu sembuh".
"Apa kau tahu yang ku inginkan?".
__ADS_1
"Katakanlah, sebisa mungkin jika mampu pasti aku akan membantumu mengabulkannya".
"Aku ingin hidup normal seperti orang lain. Bisa sekolah, punya teman banyak, kemanapun bebas. Uuuhhh impian terindah untuk seorang gadis yang berpenyakitan sepertiku".
Mendengar ucaoan airin membuat yogi terdiam namun ia memikirkan suatu hal yang mungkin akan disukai oleh gadis manis itu.
"Airin. Ikutlah denganku, aku punya kejutan untukmu?".
"Apa?".
Yogi pun menutup mata airin dan memapahnya ke suatu tempat yang mungkin akan membuat airin terkejut. Sesampainya disana yongki mulai membuka kain penutup mata airin.
"Apa ini?".
"Disinilah kamu bisa belajar apa arti dari sebuah kata berjuang dan sembuh".
"Maksudnya?".
"Di panti ini, banyak sekali anak anak yang jauh lebih hebat dari kamu. Mereka bukan hanya berjuang untuk melawan sakitnya tapi mereka juga harus berjuang untuk mendapatkan biaya. Jauh dari kata sempurna, mereka tidak memiliki harta hanya mengandalkan bantuan dan impian mereka pun sama sembuh. Masihkah kamu yang memiliki segalanya menyerah untuk berjuang airin?".
Wanita remaja itu pun terdiam,ia memandang bangunan sederhana di hadapannya itu. Namun tiba tiba seorang anak kecil menghampiri kedua nya.
"Kak ini siapa?".
"Nama kakak yongki dan ini teman kakak nama kak airin".
"Terimakasih, nama adik ini siapa?". Seru airin sambil berlutut dihadapan anak kecil itu.
"Aisyah kak".
"Kamu tinggal disini?".
"Iya. Dulu rumahku besar tapi sekarang aku tidak memiliki rumah. Orang tuaku sudah tidak ada, jadi aku diantar ke sini oleh paman. Paman bilang dia tidak bisa merawatku apa lagi aku sedang sakit".
Airin pun menanyakan mengenai sakit yang aisyah derita dan alangkah terkejutnya ketika mendengar jika aisyah sakit kanker. Wajah pucah aisyah sudah menandakan jika gadis kecil itu memang tidak baik baik saja tapi raganya seakan kuat menerima semua takdir yang membuat airin tak sengaja menjatuhkan air mata.
"Airin apa kau baik baik saja".
"Hemm. Aisya bagaimana kalau kita main?".
"Ayo. Tapi ajak yang lain juga ya kak".
"Boleh".
__ADS_1
Ais pun mengajak semua teman yang tinggal di panti itu bermain dengan yongki dan airin. Terlihat mereka sangat bahagia karena kedatangan keduanya, bahkan wanita remaja itu juga sangat menikmati setiap detik bersama anak anak panti itu. Yongki tersenyum melihat airin tertawa lepas seakan beban yang selama ini ia tanggung terlupakan.
"Apa mungkin aku menyukai airin?? Tidak, aletta pasti tidak akan mengizinkan aku bersamanya".
Yogi pun mulai menyadari ada yang salah dengan hatinya, ia takut jika benar dirinya menyukai airin tapi hal itu sangatlah tidak boleh. Masa Lalu yongki terlalu buruk untuk masa depan airin. Ia meninggalkan aurel, ia juga pernah memfitnah aleta dan dia jugalah yang mencelakai pak adam.
"Tidak. Airin terlalu baik untukku yang hina".
"Kak yangki kenapa?".
"Airin. Sejak kapan kamu disini".
Mata yongki membulat sempurna melihat airin datang, dirinya takut jika wanita remaja itu mendengarkan keluh kesahnya, namun airin justru mengajak yongki untuk bergabung dengan yang lain seolah ia tidak mengetahui ucapan yongki.
"Oh iya anak anak, kak pamit dulu ya sudah sore. Besok kalau kakak ada waktu kita main lagi ya dan kakak bawain kalian es cream".
"Es cream. Horeeee".
Yongki pun mengantar airin pulang kerumah sakit dan ia bergegas pulang ke rumah kontrakannya namun di jalan ia dihadang oleh beberapa orang berbaju hitam.
"Apa kau lupa dengan tujuanmu? Apa kau tidak takut terjadi sesuatu pada ibumu".
"Kalian tidak usah khawatir, kita akan menuntaskan ini tapi beri aku sedikit waktu".
"Waktu untuk apa, waktu untuk kau berkencan dengan gadis itu?".
"Jangan perna kau menyentuhnya, tujuan kita adalah menghabisi adam bukan anaknya".
Beberapa lelaki itu hanya tersenyum simpul mendengar ucapan yongki dan berlalu pergi. Hati yongki semakin gelisah melihat senyum licik di wajah teman temannya itu,ia berharap semoga airin baik baik saja.
malam itu di rumah sakit nampak aletta merasa lelah karena kecapekan dan airin datang hingga duduk di sampingnya.
"Istirahatlah kak, biar aku yang jaga ayah".
"Airin kamu dari mana saja. Mama mencemaskanmu tadi".
"Aku hanya mencari angin di luar sebentar. Kalian tidak usah cemas".
Airin pun meyakinkam sang kakak untuk tak mencemaskannya hingga aleta menuruti apa kata adiknya dan ia pun tertidur dikursi itu.
*
*
__ADS_1
*
*BERSAMBUNG..