
Perlahan senja pun menghilang digantikan oleh malam gelap tanpa bintang yang menandakan hujan akan segera turun.
Di kediaman aleta nampak sang kakak telah berada dirumah dirinya lebih memilih berlibur dengan keluarga dibandingkan berhura-hura diluar sana.
"Kak apakah semua baik-baik saja?".
"Kakak baik-baik saja kok Al, kamu belum tidur".
Aleta menggelengkan kepala tanda ia belum mengantuk dan dirinya memilih menemani sang kakak berada diteras rumah hingga tiba-tiba Reno datang untuk mencari Airin.
"Apa kabar dit”. Sapanya
"Baik ren".
"Ada apa mas Reno kemari?".
"Ini aku membawa roti pesenan Airin. Katanya dia lagi pengen roti coklat".
"Wah pasti dia senang banget, makasih ya mas Reno".
Aleta pun menerima bingkisan dari Reno dan ingin beranjak dari duduk nya namun langkahnya terhenti ketika Adit mengatakan jika ia sudah menyerah tentang perasaannya.
Seketika ia membalikkan badan dan melihat dua lelaki itu saling beradu mata tanda ada sesuatu yang serius disana namun ia memilih untuk menyimak dari pada ikut campur.
"Mengapa? Bukannya kau mencintai Raisa".
"Aku memang mencintainya ren tapi mewujudkan impian keluargaku adalah prioritas utamaku".
"Lalu bagaimana dengan hatimu".
"Aku titipkan satu hal padamu, tolong jaga Raisa untuk ku, buat dia bahagia aku yakin kau lelaki yang tepat untuknya”. Seru Adit sembari menepuk bahu Reno.
Dari arah pintu berdirilah sosok wanita imut disana dan ia mendengar semua percakapan mereka. Hatinya merasa pilu karna pernyataan dari sang kakak menyerahkan cintanya untuk Reno dan bagaimana nasib dirinya yang saat ini telah menaruh hati pada lelaki teman kakaknya itu.
"Aku tidak setuju”. Seru Airin memecah keheningan yang membuat mereka terkejut
"Airin”. Seru mereka
"Kak Adit tidak bisa menyerahkan cinta itu begitu saja dan kak Adit berpikir jika semuanya selesai setelah ini tetapi nyatanya ada hati yang terluka disini".
"Apa maksud mu?".
"Aku menyukai mas Reno".
Deg..
__ADS_1
Semua orang yang berada disana merasa terkejut karna ungkapan isi hati Airin dan Adit memarahinya karna telah melakukan hal yang salah.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan ini".
"Mengapa kakak tidak mempercayaiku aku sungguh-sungguh mencintai mas Reno".
Adit pun menyuruh aleta membawa adiknya masuk ke dalam rumah namun wanita imut itu menolak dan semakin tak bisa dikendalikan. Airin justru berlari dan memeluk Reno hingga menangis dipelukannya sembari mengatakan jika jangan meninggalkan dirinya.
"Airin dengarkan aku, aku tidak tahu bagaimana awal kau menyukaiku tetapi perlu kau tahu usiamu masih terlalu muda untuk mengenal cinta".
Pernyataan Reno membuat Airin menatap wajah pria itu sembari berkata apa maksud dari ucapannya ini. Dia berpikir jika Reno telah menolak cintanya. Keheningan itu pun dibubarkan oleh langkah aleta yang membawa Airin masuk ke dalam rumah dan membiarkan dua lelaki itu saling berbicara.
"Reno maafkan adikku, jangan kau ambil hati ucapannya dia masih terlalu kecil untuk berbicara soal cinta".
"Aku tahu kok, mungkin dia takut kehilangan sahabatnya lagi jadi dia bersikap seperti itu".
"Kehilangan Sahabat? Apa maksudmu".
Reno pun terkejut dengan ucapan Adit yang tidak mengerti tentang masa lalu sang adik hingga ia paham mengapa Airin takut kehilangan dirinya. Dialah orang pertama tempat Airin untuk mencurahkan isi hatinya.
"Seberapa jauh kau mengenal adik bungsuku?” tanya Adit spontan hingga membuat Reno merasa terpojok
"mengapa kau bertanya hal itu padaku, kau sendiri seberapa dekat dengan adik-adik mu hingga kau tidak mengetahui apa yang terjadi diantara mereka".
Adit pun merasa tertampar dengan ucapan Reno dia mulai menyadari dimana kesalahannya karna terlalu memikirkan diri sendiri hingga membuatnya lupa untuk menjaga adik-adiknya. Pembicaraan mereka pun berakhir saat hujan mulai membasahi bumi.
"Apa kak Reno sudah pulang?”. Tanya aleta dibalas anggukan dari Adit
"Airin apa kau baik-baik saja”. Tanya Adit lembut
"Bagaimana kakak bisa mengatakan hal itu sedang aku terluka karna ucapan kakak".
"maafkan kakak Airin. kakak tidak tahu harus bagaimana lagi ini adalah jalan terbaik untuk masa depan kakak".
"Apa kakak tidak memikirkan masa depanku juga?".
Adit pun menanyakan pada sang adik mengapa ia mencintai Reno dan tidak mau kehilangannya namun ungkapan isi hati sang adik membuat kedua kakak itu merasa iba.
"jika kamu menyukai Reno karna dia bisa menjadi sahabat untuk mu, kakak adalah orang pertama yang merasa cemburu akan hal itu”. Seru Adit sembari memeluk Airin
"Mengapa".
"Karna dia memiliki tempat tersendiri dihatimu dan kakak iri pada posisi itu".
Airin membenarkan dudukannya sembari mengatakan jika kak Adit orang yang paling ia kagumi dan memiliki tempat tersendiri dihatinya. Kini hubungan kedua kakak beradik itu pun sudah membaik hingga mereka menemani Airin tertidur.
__ADS_1
"Ayo kita keluar kak”. Seru aleta saat mendapati adik bungsunya sudah tertidur pulas.
"Aku juga minta maaf padamu, kakak janji akan memperbaiki hubungan kita ini”. Seru Adit sembari menepuk bahu aleta namun ia terkejut ketika melihat pelipis mata aleta membiru tanda ada bekas luka disana.
"Apa yang terjadi?”. Seru Adit panik hingga sang mamah menghampiri mereka
"Ada apa kak?".
"Ini mah pelipis mata aleta lebam".
"Apa?".
Aleta pun menjadi panik dan alasan apa yang harus ia ucapkan untuk menutupi kebenaran hingga ia mengatakan jika terjatuh dikamar mandi sekolah. Awalnya sang kakak tidak mempercayai ucapan adiknya itu tetapi aleta meyakinkan jika semua baik-baik saja.
Melihat aleta yang kekeh dengan alasannya membuat Adit menganggukkan kepala tanda mengerti tetapi dalam benak nya ia ragu akan alasan sang adik pasti ada hal yang membuat aleta terluka hingga mereka berpisah disana karna hari sudah semakin larut.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di kediaman pak wira nampak bunda Karin memerahi Haykal karna tidak datang kesekolah melainkan berada di perkebunan. Bunda juga merah kepada sang suami karna telah membiarkan putranya melakukan hal tersebut.
"Bunda tahu perkebunan sedang tidak baik-baik saja, tetapi bunda mohon besok kamu harus kembali kesekolah biarkan masalah perkebunan menjadi urusan ayah dan bunda".
"Tapi bun ini untuk masa depan perkebunan keluarga kita".
"Haykal dengarkan bunda, sedikit pun bunda tidak ingin membebani pikiran kamu fokusmu hanya satu yaitu belajar untuk masa depan".
"bunda benar kal, tidak seharusnya ayah mengajak kamu bergabung di perkebunan. Sebenarnya ayah hanya ingin kamu mengenali dan belajar lebih jauh tentang perkebunan kita hingga waktunya nanti kamu lah yang akan menggantikan ayah sebagai pemimpin".
Haykal beranjak dari duduknya dan bersimpuh di hadapan kedua orang tuannya sembari mengucapkan jika tidak ada manusia setulus ayah dan bunda, tidak akan mampu baginya membayar semua jasa mereka yang telah sepenuh hati merawatnya, dia juga berjanji akan selalu patuh dengan kedua orang tuannya hingga bunda menitikkan air mata.
"Bunda berhenti menangis Haykal sayang kalian".
"Berjanjilah pada bunda nak untuk selalu berada disisi kita walaupun nanti kamu sudah mendapatkan cinta sejatimu".
*
*
*
*
__ADS_1
*BERSAMBUNG..