
Malam yang sunyi itu membuat airin merasa kantuk hingga tak sadar matanya pun ikut mengatup diiringi detikan jam berlalu.
Suasana yang sepi tampak menyelimuti rumah sakit itu hingga rintikan hujan menambah kesunyian nya. Pak adam terbangun dari tidur, ia merasa hatinya sedang tidak nyaman. Melihat istrinya sedang beristirahat tak tega ia membangunkan hingga berusaha sendiri berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Pak adam pun mulai melaksanakan ibadah sholat isya dan dilanjutkan sholat tahajud, dalam sujudnya ia meminta agar semua masalah segera usai hingga ia berdoa untuk keselamatan keluarganya.
Disaat yang tepat pula seseorang telah mengintai pergerakan pak adam dari jauh, perlahan kakinya mendekati ruangan itu namun ia sempat ragu karena dua anak gadis pak adam tertidur di depan ruangan itu. Beberapa orang berbaju misterius pun mulai mengeluarkan senjata dan siap untuk melangkah ke ruangan itu namun alangkah terkejutnya mereka ketika adit datang secara tiba tiba.
"Astaga, kita sembunyi dulu".
Pemimpin dari beberapa orang misterius itu memberi syarat jika harus lebih waspada dan tidak melanjutkan jalan. Sedangkan adit ragu untuk masuk kedalam karena melihat ayahnya sedang beribadah.
"Aku tunggu sajalah".
Lama adit menunggu disamping kedua adiknya tertidur tiba tiba pak adam keluar kamar untuk bertemu sang anak sulung.
"Ada apa dit? Malam malam seperti ini kamu datang".
"Maaf pah, jujur adit sangat gelisah. Hati adit gak tenang seakan pengen sekali disini didekat papa".
"Apa kau baik baik saja?".
"Baik pah, cuma adit juga gak tau. Mungkin ini perasaan adit saja".
Mereka pun bercengkrama cukup lama, pak adam memberikan beberapa saran, nasehat bahkan lelaki paruh baya itu berpesan agar adit bisa menjaga adik adiknya. Sontak saja adit merasakan hal yang tak biasa namun ia berusaha tegar agar sang papa ikut merasakan tenang.
"Adit minta maaf ya pah, selama ini jarang banget kita bisa kumpul bersama tapi adit janji akan jaga amanah papa".
Kalimat itulah yang mengakhiri perbincangan mereka hingga jam sudah menunjukan pukul 01:00 Wib dan pak adam menyuruh adit untuk pulang karena pagi nanti ia harus menjalankan tugas negara.
Adit pun beranjak dari duduk nya dan mulai melangkah meninggalkan ruangan itu namun masih beberapa langkah dari sana ia mendengar sebuah tembakan yang sangat jelas berada di belakangnya.
__ADS_1
Dooooooooo Rrrrrrrrr...
Sontak saja ia memalingkan badan dan menoleh ke arah belakang, alangkah terkejutnya adit ketika mendapati sang papa tertembak semua pistol yang membuat lelaki itu jatuh pingsan sambil memegangi dadanya yang penuh dengan darah.
"Paaapaaaaa".
Suara lantang adit karena merasa shock ditambah suara tembakan itu membuat semua orang terbangun salah satunya aleta dan airin. Kedua anak gadis itu hanya terbengong melihat sang kakak sudah menangis tersedu sedu sambil memegangi tubuh sang papa. Dan aletta tak dapat lagi berbicara. Wanita cantik hanya bisa meneteskan air mata tanpa mengeluarkan suara, melihat sang papa berlumuran darah.
Aleta pun lekas memanggil dokter yang membuat mama helena semakin histeris. Aletta berusaha menenangkan mama helena dengan memeluknya tetapi lama kelamaan mama helena melemas dan pingsan.
Beberapa perawat hingga dokter pun membawa pak adam memasuki ruang ICU dan mama helena juga dirawat diruangan yang sama. Hati ketiga anak itu semakin tak karuan melihat kedua orang tuanya seperti itu. Air mata yang terus membasahi pipi hingga tangan dingin ketiganya yang terus berpegangan untuk memberikan kekuatan.
"Apa yang terjadi kak".
Pertanyaan itulah yang dilontarkan airin kepada kedua kakaknya hingga keduanya hanya bisa pasrah tanpa bisa menjawab apa yang adiknya tanyakan.
"Berdoa saja ya airin, semoga tidak terjadi sesuatu pada papa". Seru aletta sembari memeluk sang adik.
Wanita cantik itu berusaha tegar untuk sang adik walaupun sejatinya hatinya menangis. Ia butuh tempat bersandar, mengadu, bahkan bahu untuknya menangis namun semua hanyalah khayalan. Aleta hanya bisa menahan beban berat dipundaknya.
"Tidak.. tidak mungkin".
Kata itulah yang terus keluar dari mulut adit hingga ale pun merasakan apa yang sang kakak takutkan.
Jam sudah menunjukan pukul 05:00 wib tetapi semua belum juga berakhir. Dokter memberitahu jika pak adam sedang berada dalam masa kritis namun, kemungkinan kecil jika beliau selamat.
Tangis pun pecah mendengar ucapan itu membuat ketiganya histeris, tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain berdoa dan pasrah dengan semua yang terjadi.
Sedangkan di kediri, haikal bersama rombongannya itu sudah berangkat menuju kota semarang. Event yang digelar di luar kota itu bertemakan persahabatan hingga lima jam perjalan mereka sampai.
Sekitar pukul 09:00 wib mereka sudah tiba di SMA negeri 3 kota semarang, hingga disambut antusias dari mereka. Haikal dan imelda selaku pemimpin dari rombongan mereka pun mengucapkan terimakasih karena undangan yang sudah diberikan hingga beberapa sambutan untuk mengisi acara tersebut.
__ADS_1
Clara nampak bosan berada disana tetapi apa boleh buat ia tidak dapat pergi sebelum acara selesai. Wanita itu hanya bisa mondar mandir didepan beskem yang sudah disediakan sedangkan dari kejauhan tampak beberapa sahabat aletta mencurigai gerak gerik clara.
"Coba kalian lihat, aneh banget kan".
"Iya. Dari dulu aku tidak pernah mempercayai wanita itu dan aku yakin ada yang dia sembunyikan".
Melihat ada beberapa orang memandangnya sinis clara pun menghampirinya dan menegur ketiganya.
"Ada apa memandangku seperti itu?".
"Kau itu aneh. kami curiga padamu".
Clara pun tersenyum simpul mendengar ucapan mereka hingga membalas jika untuk apa mereka mencurigai dirinya.
"Aku bukan *******".
"Tapi kau misterius". Seru ketiganya sembari berlalu meninggalkan clara hingga membuat wanita itu kesal.
Ting..ting..tingg
Pertandingan pertama pun sudah mulai digelar dan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan kita yaitu indonesia raya. Ada 4 kota yang ditunjuk untuk mengikuti pertandingan ini hingga kota kediri mendapat putaran kedua.
siang itu pukul 12:00 tim haykal sudah memasuki lapangan, suporter pun sudah bersorak sorak menyemangati timnya masing masing. Tak lupa suporter tim haykal juga mempersembahkan beberapa yel yel untuk menyemangati tim mereka hingga bersorak kemenangan untuk sekolahnya.
Ting.. ting..ting
Bell pun dibunyikan tanda permainan sudah dimulai hingga diawali oleh wasit melempar bola keatas. Saat itu haikal bukanlah kapten basket lagi. Namun ia sudah digantikan oleh Bagas sang adik kelas. Haykal juga sudah mengundurkan diri dari ekstrakulikuler sekolah seperti musik,pramuka dan kesenian. Mengingat dirinya sudah berada dibangku kelas tiga yang menuntutnya harus fokus dengan ujian. Hal itulah juga menjadi salah satu penyebab ia mengundurkan diri sebagai kapten basket. Namun ia tidak lepas begitu saja tanggung jawabnya. Haykal masih ikut latihan bahkan membimbing tim barunya itu untuk bertanding. Haykal juga setia mendampingi agar mereka bisa menjadi juara.
*
*
__ADS_1
*
*BERSAMBUNG..