
Mata haykal membulat sempurna mendengar ucapan aditya. Lelaki tampan itu pun bertanya apa maksud dari semua namun, justru sang ayah yang memberi penjelasan atas ucapan kakak sulung aletta.
"Haykal. Kak adit akan membawa semua keluarganya ke malang. Mengingat tante helena membutuhkan suasana baru untuk melanjutkan hidupnya. Dan alatta juga harus meneruskan sekolah. Maka dari itu dia dititipkan pada kita".
"Jadi, aletta tidak ikut pergi ke malang?".
Tampak dari mata haykal jika ia sangat bahagia namun tak sampai disana, mereka masih memiliki sebuah kejutan untuk keduanya.
"Tetapi ada permintaan khusus dari kak adit untuk kamu".
Sejenak lelaki tampan itu melirik sang bunda dan wanita paruh baya itu tersenyum ke arahnya sembari mengangguk.
"Kau tahu kan kal, dalam satu atap tidak baik jika seorang perempuan dan laki laki hidup bersama, tanpa sebuah ikatan. Sebelum kakak pindah, aku ingin kamu menikahi aletta terlebih dahulu".
Mata lelaki tampan itu membulat sempurna mendengar ucapan aditya. Haykal sangat terkejut dengan semua itu. Sejenak mereka terdiam dan suasana pun menjadi hening.
"Tapi bagaimana dengan sekolah kita kak?".
"Jangan khawatir, kalian akan tetap bisa sekolah. Lagi pula pernikahan ini dilakukan secara siri dan diam diam".
Haykal menarik nafas panjang sambil melirik ke arah sang kekasih, aletta pun juga nampak pasrah dengan keputusan lelaki tampan itu hingga ia menyetujuinya.
"Baiklah, jika itu adalah keputusan terbaik. Bismillah, kak adit aku bersedia".
"Alhamdulillah".
Seruan semua orang menandakan mereka sangat bahagia dengan keputusan haykal hingga tak sengaja mendengar ketukan pintu dari arah luar.
Tok..tok..tok
Adit pun sebagai tuan rumah melangkah untuk membukakan pintu dan mempersilahkan tamu itu memasuki rumah.
"Silahkan ustad, kami sudah menunggu".
Ternyata tamu yang baru saja mengetuk pintu itu adalah seorang tokoh agama. Adit benar benar sudah mempersiap semuanya. Kepergiannya esok pagi hingga persiapan pernikahan siri sang adik.
Abdullah jamal adalah salah satu tokoh agama di kota tersebut yang telah bertahun tahun menjalin persahabatan dengan almarhum sang papa. Tak lupa adit berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan besar.
Dimana keputusan itu akan menentukan masa depan sang adik dan dia memilih haikal sebagai orang yang paling tepat untuk menitipkannya.
Bukan tanpa alasan, adit meminta haykal untuk menikahi aletta. Selain karena tidak baik dalam satu atap seorang lelaki dan perempuan hidup bersama tetapi adit juga berharap jika lelaki tampan itu mampu menjaga sang adik melalui cinta keduannya.
__ADS_1
"Keputusan kamu memang sudah tepat adit, saya yakin mas adam pasti merestui mereka".
Ucapan ustadz abdullah jamal itu membuat adit semakin yakin jika keputusannya sangatlah tepat hingga mempersilakan memulai pernikahan itu.
"Bismillahirohmanirohim. pak wira, bu karin saya mohon izin".
Bunda pun mengangguk tanda ia setuju jika pernikahan itu segera dilaksanakan hingga mempersilahkan untuk memulai ijab kabul.
Dengan pakaian seadanya tanpa ada riasan atau bahkan mahar yang mewah layaknya seorang pengantin pada umumnya mereka pun tetap hikmat mengikuti acara tersebut.
"Saudara aletta puspa? Apakah kamu merasa terbebani dengan pernikahan ini ataukah kamu dipaksa?".
Pertanyaan itu sempat membuat aletta terdiam namun kemudian wanita cantik itu menggelengkan kepala setelah melirik kearah haykal yang menandakan jika tidak ada paksaan atau berat didalam hatinya.
"Baiklah, alhamdulillah. Saudara haykal apa anda juga siap?".
"Insya allah, siap".
Abdul jamal pun mulai menjabat tangan dingin haykal. Lelaki paruh baya itu tersenyum manis karena tahu jika situasi saat ini sangat menegangkan sembari mulai ijab kabul.
"Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Haykal aza perwira bin perwira dengan Aletta puspa binti adam husain yang walinya telah mewakilkan kepada saya dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat serta uang sebesar seratus lima puluh ribu rupiah, tunai.”
"Saya terima nikahnya aletta puspa binti adam husai dengan mas kawin tersebut, tunai".
Air mata aletta tak dapat ia bendung lagi. Kini wanita cantik itu menngis tanpa suara sembari menundukan kepala.
Rasa yang bercampur aduk kini menghampiri dirinya, dikala mengingat jika sekarang ia sudah menjadi istri dari sang kekasih dan harus meninggalkan keluarganya demi mengabdi pada sang suami.
Dalam batinnya menjerit nama sang papa, seharusnya lelaki paruh baya itu hadir mendampingi nya namun dia sudah pergi jauh dan tak akan pernah kembali.
Haykal yang menyadari jika aletta tengah larut dalam situasi bimbang lantas genggam tangannya dan sembari menyapu air mata yang membasahi pipi putih sang istri.
"Apa kau menyesal?".
Aletta pun menggelengkan kepala tanda tidak ada penyesalan dalam hatinya tetapi ia menyampaikan jika mendadak dirinya mengingat pak adam.
"Harusnya papa ada disini, tapi..".
Wanita cantik itu pun tak dapat lagi melanjutkan ucapannya, aletta hanya bisa menangis tersedu sedu hingga haykal memeluknya.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu khawatir. Apapun yang membebani hatimu, ceritakan semuanya padaku. Aku akan menjadi pendengar terbaikmu".
__ADS_1
Seruan haykal untuk menenangkan sang istri hingga mencium kening aletta yang menjadi tanda jika wanita cantik itu sudah sah menjadi miliknya.
Sesaat semua orang larut dalam situasi yang indah namun adit menyadari jika ada hal yang tidak beres disana. Adit menoleh kekanan dan kekiri seperti mencari seseorang hingga menyebutkan nama.
"Airin? Dimana airin".
Sontak saja membuat semua orang menjadi kebingungan. Mereka lupa jika airin tidak ada disepanjang acara. Kegelisahan pun mulai menyelimuti adit. Setelah acara ijab kabul selesai lelaki itu mencari keberadaan adik bungsunya diikuti oleh semua orang.
Mereka mencari setiap penjuru untuk menemukan gadis yang tengah sakit itu namun tak kunjung menemukan nya.
"Airin?".
"Kamu dimana airin?".
"Airin".
"Airin".
Teriakan demi teriakan pun bergema hingga yongki tiba tiba tersadar dari tidurnya. Lelaki itu membenarkan posisi duduknya dan melihat airin masih terlelap di pelukannya hingga membangunkan gadis polos itu.
"Airin? Bangun airin".
Yongki menepuk nepuk pipi airin dan perlahan gadis itu membuka mata sembabnya.
"Bangunlah, semua orang mencarimu".
Airin pun membenarkan posisinya hingga menatap tajam ke arah yongki. Gadis polos itu tampak bingung dengan perasaannya sendiri. Ingin rasanya berlari pada keluarga dan mengadukan semua perbuatan yongki namun, rasa cintanya menutupi kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Air mata airin tiba tiba membasahi pipi hingga yongki perlahan menyapunya.
"Kau pasti kecewa padaku. Kau pasti membenciku. Aku sangat menyesal. Jika bukan karena balas budi, aku tidak mungkin melakukan ini semua".
Tangan yongki menggenggam erat jari jemari airin untuk meyakinkan gadis itu sekaligus menenangkannya.
"kembalilah kepada keluargamu airin, Aku berjanji akan bertanggung jawab dengan semua perbuatanku setelah ini".
"Besok aku akan meninggalkan kota ini, berjanjilah pada dirimu sendiri. Kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi kak yongki. Terimakasih atas semua luka yang kau beri. Aku pergi".
*
*
__ADS_1
*
*BERSAMBUNG...