
"Gimana keadaan Haykal mas??apa dia baik-baik saja”. Tanya aleta
"Ale mengapa kau ada disini?"
"Mas Reno, gimana keadaan Haykal. Apakah dia baik-baik saja?".
Aleta pun mengulangi pertanyaannya namun Reno tidak menjawabnya hingga wanita cantik itu melihat ruangan UGD terbuka dan beberapa suster mendorong ranjang yang tertutup kain putih.
Deg.
Hatinya hancur seketika melihat ranjang itu dan darah aleta terasa berhenti mengalir, pasalnya ia tidak menyangka secepat itu Haykal meninggalkannya hingga wanita cantik itu berlari dan menangis sejadi jadinya di samping ranjang itu.
"Haykal!!!!huhuhuhuhuuhuh. Kau jahat huuuhhuuh".
"Aleta tenanglah”. Seru Reno sembari memegang tangan aleta untuk menjauhi ranjang itu namun wanita cantik itu menepisnya.
"Mengapa kau tega meninggalkanku kal huuuhhuuh jangan pergi".
Tangisan aleta pun tak bisa tertahan lagi, ia menangis sejadi jadinya disisi ranjang bak seorang anak kecil hingga semua orang melirik kearahnya namun tak dipedulikan oleh aleta.
Baginya, sakit hati yang sesungguhnya adalah dimana kita ditinggalkan oleh orang yang sangat kita sayang untuk selamanya dan rindu yang paling berat adalah rindu pada orang yang sudah tidak berada diatas bumi ini.
Bunda pun akhirnya turun tangan untuk menenangkan aleta hingga mengatakan jika Haykal masih kritis dan belum meninggal. Aleta yang mendengarnya pun sangat terkejut dan mulai memberanikan diri untuk membuka kain putih yang menutupi seluruh ranjang itu.
Sontak saja membuatnya terkejut karna dibalik kain putih itu bukan jenazah Haykal dan hatinya sedikit merasa lega hingga Aleta pun terduduk lemas disebelah bunda.
"Sayang!!!kita doakan saja semoga Haykal segera sadar”. Seru bunda
Namun ucapan bunda tidak mendapat jawaban dari wanita cantik itu karna dia masih shok dengan ranjang jenazah itu hingga tangan bunda menggenggam tangan aleta yang dingin dan meniupinya agar merasa hangat.
Perhatian itu membuat aleta teringat pada Haykal pasalnya lelaki itu pernah melakukan hal itu padanya hingga air matanya membasahi pipi putihnya.
"Bunda!!!".
"Iya sayang ada apa?".
"Haykal masih hidup kan bun, aku sangat takut kehilangannya”. Serunya lirih serasa berat mengatakan hal itu.
Bunda yang melihatnya pun merasa iba dan memeluk wanita cantik itu hingga mereka berdua menangis bersama didalam pelukan hangat itu.
Dokter pun keluar dari ruangan Haykal dan mengatakan jika lelaki tampan itu telah melewati masa kritisnya diiringi ucapan syukur dari mereka.
"Apakah saya bisa menemuinya dok?”. Tanya pak wira
"Boleh, setelah suster membawanya keruang rawat tetapi jika untuk sementara boleh dijengguk namun bergantian". Serunya sembari berlalu setelahnya.
Diiringi rasa bahagia sang bunda beranjak dari duduknya untuk segera menemui anak semata wayangnya namun ia berhenti didepan pintu dan membalikkan badan melihat wanita cantik terduduk menunduk dikursi tunggu hingga ia berjalan menghampirinya.
"Aleta!!! kau saja yang duluan menemui Haykal".
"Tapi bundakan orang tuannya dan bunda juga sangat mencemaskannya, ale bisa nunggu setelah bunda".
__ADS_1
"Tidak sayang!!! Kamu saja yang duluan masuk, siapa tahu setelah kau menemuinya dia segera sadar".
Dengan antusias wanita cantik itu pun beranjak dari duduk nya dan segera menuju ruang sensitif itu hingga ia melihat kekasihnya terbaring lemah diatas ranjang dengan berbagai alat bantu.
Ia melangkah mendekati ranjang itu dan jemarinya menyapu pipi lembut Haykal seraya berbisik ditelinga lelaki tampan itu.
"Sayang!!!aku datang. Kamu berhasil membuat ku takut kehilanganmu. Jangan pernah mencoba meninggalkanku karna mungkin disaat itulah hatiku ikut mati bersamamu".
...............................
Diluar ruangan terlihat mereka semua menunggu giliran untuk menjengguk Haykal namun beberapa petugas polisi datang menghampiri mereka.
"Maaf permisi. Apakah kalian berdua ini adalah kedua orang tua Haykal azza perwira".
"Iya pak saya ayahnya".
"Apakah Haykal sudah sadar".
"Belum pak, ada apa?".
"Kami perlu keterangan darinya tentang pengeroyokan yang melibatkan Haykal dan aleta”. Seru salah satu anggota polisi itu yang ternyata pak adam.
Ternyata pak adam sudah melaporkan kejadian pengeroyokan itu pada pihak yang berwajib karna anaknya adalah salah satu korban maka dari itu beliau memilih untuk melapor.
Saat bersamaan aleta keluar dari dalam ruangan dan terkejut saat mendapati sang papa berada disana. Pak adam pun juga merasa terkejut saat melihat anaknya keluar dari ruangan itu. Seharusnya saat ini wanita cantik itu berada disekolah.
Mereka pun hanya bisa saling memandang, pak adam tidak bisa menegurnya di hadapan umun karna kawatir akan mempengaruhi mentalnya ia memilih untuk memendamnya hingga nanti tiba dirumah. Mata pak adam seakan berkomunikasi pada anak perempuannya dan menanyakan mengapa ia ada disini sedangkan mata aleta seakan menjawab jika nanti ia akan menjelaskan dirumah.
"Ini aleta pak, salah satu korban dari pengeroyokan itu”. Seru pak wira
Pak adam bertanya pada aleta bak seorang petugas dan korban bukan seorang anak dan ayah. Sikap profesional pak adam itu membuat Reno kagum pada lelaki paru baya itu dan tersenyum simpul memandangnya.
Sedangkan aleta menceritakan dari awal hingga Reno ikut menjadi saksi karna berada di TKP.
"Siapa yang menyuruhnya?".
"Saya tidak tahu pak, karna belum sempat mereka menjawab aleta berteriak meminta bantuan dan akhirnya saya melepaskan preman itu".
"Baiklah nak sudah cukup, nanti setelah Haykal bangun kita akan meminta informasi darinya juga dan terima kasih atas waktunya”. Seru pak adam dan rombongan sembari berpamitan pergi.
...................................
"Hallo".
"Hallo sayang!!!apa kabar".
"Tante Monika".
Airin pun merasa bahagia karna mendapat telefon dari Monika. Pasalnya mereka sudah lama tak bertemu dan Monika mengajak Airin untuk bertemu.
"Tante"
__ADS_1
"Hay sayang”. Seru Monika sembari memeluk Airin
"Sudah lama menunggu ya?".
"Ahh enggak papa kok, tante rela nungguin wanita secantik kamu”. Rayunya dibalas senyum dari Airin.
"Tante apa kabar?".
"Kabar baik, kamu gak kangen tante?".
"Kangen tan, cuman aku kecewa aja sama tante karna tiba-tiba menghilang membuat aku jadi kesepian apa lagi kak ale melarangku berhubungan dengan tante Monika".
"Ale melarangmu bertemu denganku?".
"Iya tan katanya tante itu orang yang gak baik".
Mendengar ucapan Airin tersirat amarah dalam benak Monika tetapi ia tidak bisa menunjukkannya di hadapan Airin. Tersirat niat jahat dibena Monika untuk menghasut Airin, ia manfaatkan kesempatan emas ini untuk mengadu domba kakak beradik itu.
"Tante yakin kakakmu itu tidak ingin melihatmu bahagia".
"Apakah benar?".
"Iya buktinya dia melarangmu main dengan orang lain sedangkan dia sendiri bebas bergaul dengan siapa pun. Apa coba kalau bukan egois".
Airin terdiam sesaat dan ia mengingat saat kakaknya selalu membatasi pergaulannya sedangkan dia sendiri bebas ke mana pun. Airin juga membandingkan kasih sayang dari kedua orang tuanya untuk dia dan Airin. Terasa lebih banyak ke aleta dari pada untuknya hingga Airin termakan hasutan Monika.
"Kakakku baru saja mendapat musibah tan, sejujurnya aku sangat sedih melihat kak ale menangis tetapi semua orang kini menjadi perhatian dengannya dan melupakan aku".
"Sayang tante tahu kok, pasti rasanya sakit banget ya. Gimana kalau kamu ikut sama tante. Kamu menginap dirumah tante satu hari saja gimana?".
"Apa???enggak tante pasti papa tidak memberi izin".
"Tapi katamu mereka semua sibuk mengurusi kakak mu kan?".
"Iya, papa melaporkan pengeroyokan itu terhadap kak aleta dan temannya ke polisi jadi mereka harus mencari bukti. Papa juga turun tangan tentang hal ini".
Deg.
*
*
*
*
__ADS_1
*BERSAMBUNG...