Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter

Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter
Tempat Terakhir


__ADS_3

...I Love You Paman Dokter ...


...BAB 105...


...********...


Langit yang tadinya cerah, menjadi mendung. Di kediaman Willson, Telah berkumpul orang-orang yang berlalu lalang dengan pakaian serba hitam.


"Tuan! Bagimana dengan kami Tuan?" Isak Marko di atas peti berwarna putih dengan ukiran emas.


"Marko ihklaskan. Kami juga sangat terpukul dengan keputusan Andre." Ucap Kevin.


Raka, terlihat lebih murung dari biasanya. Bagimana Raka tidak terpukul, Andre yang berperan penting dalam hubungannya dengan Santi. Tidak ada sahabat yang lebih baik dari pada Andre, bahkan dengan suka rela ia memberikan jantungnya kepada Yana Putri satu-satunya.


"Ndre, seandainya jika kau hadir di saat ini. Aku janji, bahkan menikahkan kalian." Guman Raka yang terlihat sangat terpukul dengan kepergian sahabatnya.


"Ka,dari semalam kamu tidak tidur. Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Santi menghampiri suaminya.


Raka meraih tangan Santi, menaruh telapak tangan Santi di pipinya. Berharap mendapatkan ketenangan dari telapak tangan wanita yang ia cintai.


"Sakit San, ini terlalu sakit." Ucap Raka dengan isak yang mulai terdengar dari suara yang keluar.


Santi mengusap kepala Raka, "aku juga bingung. Perasaan apa yang harus ku berikan. Dokter Andre, dia begitu baik kepada kita." Sahut Santi.


Raka membenamkan kepalanya di perut Santi dan mulai terisak, "aku merasa sangat bersalah kepada Andre. Karna beberapa kali memukulinya," ucap Raka di.


"Sttt... Kita ihklaskan . Agar Dokter Andre tenang. Dia berharap kita mengantarnya dengan senyuman. Aku tahu ini menyakitkan, Namun kita tidak boleh bersedih dengan keputusannya." Ucap Santi.


"Tuan-tuan, kita akan mengatarkan Tuan Andrean Willson di peristrahatannya yang terakhir." Ucap salah satu tokoh Agama.


Raka melepaskan pelukannya, lalu meraih kaca mata hitam. Untuk menutupi matanya yang sembab dan bengkak akibat terlalu banyak menangis.


Raka berjalan menuju ke arah sebuah foto hitam putih. Saat Raka menatap foto tersebut, Kembali. Dada Raka terasa di sayat, tidak menyangka ia akan membawa foto hitam putih ini ke area pemakaman.


Iring-iringan orang mengantarkan Andre di tempat peristrahatan terakhirnya. Di depan, ada Raka dan Kevin yang membawa foto Andre.

__ADS_1


"Oh kamu ilmuwan gila itu Ya? Kenapa kamu ada di penjara penyengelan? Padahal kau hanya manusia. Namun berani-beraninya kau melenyapkan separuh Blue Lake,"


"Ikutlah denganku, kau akan menjadi temanku. Ingat ya! Kau harus berguna,"


"Hei Andrean, kau tahu? Aku tidak punya teman. Hanya kau ilmuawan tidak waras yang mau berteman denganku,"


Raka menggenggam bingkai foto dengan erat. Ketika ia kembali mengingat pertemuannya dengan Andre.


"Sial! Kenapa aku merasa sangat bersalah kepadamu. Gara-gara kau mendonorkan jantungmu kepada Putriku? Kau membuat aku hidup di dalam rasa bersalah Andre!" Guman Raka yang terus melangkah menuju ke area pemakaman.


"Ka sudah, jangan terlalu di ratapi. Ini adalah keputasan Andre. Apakah kah jika aku mati kau juga akan begini?" Tanya Kevin.


Raka menatap ke arah Kevin,"sini biar ku bunuh kau. Agar kau tahu bagaimana sakitnya orang yang di tinggalkan, agar kau tahu betapa berarti diri kalian bagiku," pekik Raka.


"Bisa-bisanya kau berpikir demikian di saat keadaan seperti ini," guman Raka kesal.


"Maaf! Aku hanya bertanya," sahut Kevin.


Akhirnya, mereka tiba di pemakaman. Melihat lubang di dalam area makam, membuat Raka dan Kevin semakin hancur, jika peti putih itu di masukan ke dalam tanah. Selamanya, mereka sudah tidak akan melihat senyum dan wajah Datar Andre lagi.


Peti itu pun di turunkan ke dalam liang. Membuat 2 orang yang melihat hati mereka menjadi lulu lantah saat peti putih itu sedikit demi sedikit terpendam ke dalam liang.


Marry hanya bisa menangis melihat peti itu di turunkan. Ia harus kuat, apalagi Andre telah memberikan tanggung jawab yang besar untuk dirinya.


Dan akhirnya, peti itu pun tertimbun dengan tanah. Di sertai isak tangis oleh orang-orang yang di tinggalkan oleh Andre.


Setelah melakukan doa, para pelayat Satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman. Hanya tinggal Raka, Kevin dan Marry yang masih berada di makam yang terlihat masih basah.


Raka dan Kevin menatap ke arah pusara yang masih belum kering di hadapan meraka," bro maafkan kami. Tidurlah dengan damai di sisi-NYA." Ucap Raka sembari mengelus-ngelus batu Nisan.


"Tuan! Aku akan menjaga amanah yang telah kau berikan padaku. Hingga waktunya tiba." Ucap Marry yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan makam tersebut.


"Ndre! Belum apa-apa aku sudah merindukanmu. Bisakah kau bangkit kembali? Dan biarkan aku menggodamu?" Ucap Kevin dengan tangan yang juga mengelus batu Nisan.


Rinai pun turun dari langit. Langit pu tahu dan ikut merasa sedih akan kepergian Andre. Raka dan Kevin masih saja mematung dengan kenangan masing-masing yang mereka miliki.

__ADS_1


Kevin merangkul pundak Raka," tinggal kita berdua. Ku harap kita berdua semakin akur ya!" Ucap Kevin.


Raka membalas Rangkulan Kevin," yah! Kita berdoa saja. Semoga ada keajaiban. Namun yang jelas, saat pulang nanti. Aku akan menyusun rencana," ucap Raka yang tubuhnya telah basah akibat hujan yang tiba-tiba datang mengguyur.


"Ya..aku juga," sahut kevin.


Raka dan Kevin saling berpandang," balas dendam untuk Andre," ucap Mereka berdua secara bersamaan.


"Tidak akan aku biarkan Raja bisa tertawa bahagia!" Guman Raka dengan geram.


******


Di ruangan VIP Rumah Sakit,.


Yana masih terbaring dengan beberapa selang pada tubuhnya. Operasinya berjalan lancar, namun saat ini Yana masih koma.


Santi telah tiba di Rumah sakit, setelah pemakaman Andre. Santi langsung bergegas ke Rumah Sakit, karna tidak ingin Yana sendirian.


Setibanya di dalam ruang Inap, Santi dapati Yana yang masih terbaring. Namun, saat Santi mendekat. Ia terkejut ketika melihat sudut Mata Yana yang berair. Santi kemudian meraih tisu lalu menyeka air mata yang terus menetes dari sudut mata Putri'nya.


"Nak, kamu kenapa? Ada apa denganmu?" Tanya Santi khawatir.


Namun Yana tidak merespon. Santi yang melihat hal tersebut pasti tahu, bagaimana rasanya kehilangan. Saat dalam koma saja, Yana dapat merasakan kepergian Andre. Bagaimana jika Yana sadar? Apa yang harus aku jelaskan?


Santi terlihat risau. Serba salah, membiarkan Andre hidup. Andre akan tersiksa dan jika membiarkan Yana hidup. Yana juga pasti akan tersiksa. Namun saat ini kesembuhan Yana yang terpenting, karena Santi tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan Andre.


"Nak, maafin Bunda. Tidak bisa membahagiakanmu, Maafin Bunda karna tidak bisa menyatukanmu dengan orang yang kamu cintai," ucap Santi perih sembari menggengam tangan Yana.


*******


Di area makan yang sudah nampak tidak ada orang. Seorang wanita berjalan ke arah makam Andre yang masih tampak basah tersebut. Ia menatap ke arah makam di bawah rintik hujan Sembari tersenyum.


"Aku tahu sebenarnya apa yang terjadi, semoga kau tenang!" Guman Wanita itu. Kemudian menaruh bungga lalu melangkah pergi meninggalkan area pemakaman.


Kini Andre sudah terlelap, di dalam kesendiriannya. Di saat semua orang telah berlalu pergi, hanya tinggal kesepian dengan aroma bunga yang menyeruak dari atas pusara.

__ADS_1



__ADS_2