Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter

Dalam Proses Revisi I Love You Paman Dokter
Raka yang posesif


__ADS_3

...I Love You Paman Dokter...


...BAB 67 : Raka yang posesif ...


...****************...


Di Tempat studio photo,.


Pria yang menjadikan Andre dan Yana sebagai modelnya, berjalan ke arah Studio dengan raut wajah yang terlihat kesal.


" Sial!!, Bukan untung malah buntung. Untung saja aku sudah memiliki foto mereka, jadi tidak rugi-rugi juga. Karna aku bisa menjual foto mereka di perusahan percetakan," guman pria itu.


Saat pria tersebut sedang mengedit foto Yana dan Andre, Ia teringat bahwa dompet Andre ketinggalan di ruang ganti studionya.


" Siapa pria itu?, Sok famous sekali pria itu, Pakai bilang mau bayar kostumku dengan harga 5X lipat pula, " Guman pria itu dengan nada mengejek.


Pria itu beranjak dari duduknya, Dan berjalan ke arah ruang Ganti," Ku ambil saja duitnya, Toh orangnya sudah tidak akan datang lagi," gumannya.


Dengan cepat, pria itu mengambil sebuah dompet lalu membuka dompet tersebut," Haa!!, Kosong?, Sial!!, Dasar laki-laki kere modal wajah," umpatnya.


Saat membongkar isi Dompet Andre, Pria tersebut seketika tercegang . Ketika ia melihat ID Card sang pemilik dompet," Andrean Willson?, Apakah?, Ah jangan-jangan, Andrean Willson pemilik Rumah Sakit Blue Sea?" Gumannya dengan tangan gemetar.


Dengan cepat, pria itu menaruh Dompet Andre kembali dengan posisi semula, bersamaan dengan jantung yang berdegup.


" Untung saja, Aku tidak lancang pada saat itu," Gumannya seraya mengelus-ngelus dadanya.


" Permisi!!"


Teriak seseorang dari luar studio, Dengan cepat, sang pemilik studio berlari menghampiri Pintu depan Studio.


" Cari siapa?" Tanyanya ,ketika ia berhadapan dengan beberapa pria yang memakai jas Hitam.


" Kami mengantarkan jumlah uang yang di perintahkan oleh Tuan kami. Dan kami di minta untuk mengambil dompet Tuan kami yang ketinggalan," Ucap bawahan Andre.


Pria itu terkejut," tidak perlu!!, Bawa kembali uangnya. Dan tunggu sebentar, Aku akan mengambil Dompet Tuan kalian," Ucap Pria itu, kemudian beranjak.


Tak lama, ia kembali dengan membawa pakaian Yana dan Andre beserta dompet.


" Ini barang-barang dari Tuan kalian," seraya menyodorkan sebuah papper bag kepada bawahan Andre.


" Baik, kami permisi dulu. Namun uang ini, Tuan harus menerimanya. Terima kasih,"


Ucap bawahan Andre yang memberikan sejumlah uang kemudian beranjak.


...****************...


Di kediaman Saptura,.

__ADS_1


Santi dengan gelisah menuggu Raka di teras , yang berada di Lantai 3. Sesekali ia menatap Jam yang menempel di dinding. Dan kemudian menatap dengan cemas ke arah gerbang dari lantai tersebut.


" Ka!!, Kenapa sampai selarut ini kamu belum juga pulang?" Guman Santi dengan perasaan khawatir.


" Bunda belum tidur?" Ucap Yana tiba-tiba, dari arah belakang tubuh Santi.


Santi dengan cepat menoleh ke belakang, " loh!!, Kenapa kamu juga belum tidur?" Santi balik bertanya kepada putrinya.


" Aku kepikiran dengan keadaan Ayah, Apakah Ayah baik-baik saja?" tutur Yana.


" Kamu kepikiran dengan ayahmu atau, kepikiran dengan Dokter pujaan hatimu?" Tanya Santi menggoda.


Yana tertunduk dengan senyuman," dua-duanya' lah . Kan mereka berdua, lelaki yang terpenting dalam hidup Yana," jawab Yana malu-malu.


" Mmmm.. Bunda mau tanya, jawab dengan jujur yah!!, Kenapa kamu bisa tertarik dengan sahabat ayahmu sendiri?" Tanya Santi


Yana terlihat berpikir beberapa detik," Entahlah, Paman Andre orang yang dingin. Berawal aku sering mengerjainya. Namub Lama-lama, perasaan Yana berubah," Yana mencoba mengungkapkan isi hatinya kepada ibunya.


" Bunda harap, rasa itu bukan hanya sesaat. Jujur Yana, bunda takut dengan perasaanmu saat ini. Karna kamu masih sangat muda," Ungkap Santi tetang kekhawatirannya.


" Hhaaaa!!" Yana membuang Nafasnya.


" Yana juga berharap demikian, Yana juga sempat Ragu dengan perasaan Yana. Namun semakin hari, Yana malah takut jika Paman Andre di ambil oleh wanita lain," ungkap Yana


Santi meraih tubuh Yana, Di dekap Tubuh Yana dengan Sayang, Seraya mengelus kepala Anaknya dengan lembut.


" Ya bunda!!, Terima kasih karna bunda selalu mendukung Yana," ucap Yana


" Iya sayang!!, Selagi hal tersebut wajar, bunda akan selalu mendukungmu," ucap Santi.


Saat Santi dan Yana sedang serius berbincang-bincang, Dari Arah gerbang kediaman Saputra, terlihat ada cahaya dari lampu mobil yang di iringi dengan bunyi gerbang yang di buka.


Santi dan Yana langsung menoleh ke arah gerbang melalui teras dari lantai 3, " Yana!!, Itu sepertinya mobil Dokter Andre," ucap Santi dengan pandangan matanya tertuju ke arah gerbang.


" Sepertinya iya bunda, Ayo bunda kita turun," Ajak Yana yang dengan cepat meraih tangan bundanya.


Yana dan Santi kini berlari menuruni Anak Tangga. Dengan cepat, menuju ke arah pintu depan.


Sesampainya di pintu depan, Yana dan Santi telah melihat mobil Andre yang sudah terparkir di depan teras utama.


" Ayah!!, Apakah paman Kevin baik-baik Saja?" Tanya Yana ketika melihat Raka yang keluar dari mobil.


" Untuk saat ini, Paman Kevin membutuhkanmu," Jawab Raka seraya mengeluarkan Kevin dari dalam mobil .


Santi menutup kedua mulutnya dengan kedua telapak tangannya, Tak kala ia melihat keadaan Kevin yang mengerikan.


Badan Kevin terlihat membiru, dengan luka lebam di Wajah kevin dengan darah yang sudah terlihat mengering.

__ADS_1


" Ya ampun!!, Bagimana sampai seperti itu?" Tanya Santi dengan pandangan syok.


" Sabar ya sayang!!, Aku bantu Andre membawa Kevin ke Ruang medis papi dulu, Nanti aku jelasin," ucap Raka kepada Santi.


Santi mengangguk , kemudian Santi dan Yana mengekori Raka dan Andre dari belakang.


Sesampainya di Ruang medis milik keluarga Saputra, Andre Langsung memberikan Infus kepada Kevin dan beberapa suntikan.


Yana yang melihat keadaan Kevin, menghampiri kevin yang sudah di baringkan di atas bed pasien , Lalu mengusap Wajah kevin dengan lembut,


" Paman Kevin Sadarlah, aku menyayangimu, "


Dengan Tiba-tiba, Wujud Yana berubah di sertai ke-4 mustika yang keluar dari tubuh Yana. Dengan cepat Yana memasukan ke-4 mustika tersebut ke dalam tubuh Kevin.


Beberapa menit berlalu, Dan dari hidung Yana kini terlihat Darah Yang keluar. Melihat Hal tersebut, Raka menjadi panik Lalu menghampiri Yana. Namun di tahan oleh Andre, " tidak apa-apa Raka!!, Itu efek pemberian Energi," ucap Andre


Tak lama, Yana membuka matanya, Kemudian menggosok Hidungnya yang mengeluarkan Darah. Andre yang melihat, Langsung menghampiri Yana.


" Kau tidak apa-apa?" Tanya Andre seraya memegang kedua pipi Yana dengan khawatir.


Raka dengan cepat menghampiri Andre, kemudian menepis tangan Andre dari pipi Yana," Dokter sialan, Aku ayahnya!!, Seharusnya Aku yang bertanya demikian, bukan kamu, " Pekik Raka kepada Andre.


" Aku juga khawatir dengan Yana, jadi wajar saja jika aku bertanya hal demikan, " sahut Andre.


Santi yang melihat hanya menggelengkan kepalanya dengan rahang yang mengeras , " jika kalian masih berdebat, Akan aku pastikan menyiram kalian dengan air keras!!!" Teriak Santi tiba-tiba.


Raka dan Andre yang sudah saling mencengkram kerah baju mereka , dengan cepat melepaskan tangan mereka . Ketika mendengar teriakkan Santi.


" Sayang!!, Aku hanya ingin..-" ucapan Raka terhenti, " Diam Raka, aku tidak ingin mendengar alasan kalian berdua. Maka cepatlah kalian mengurusi Kevin dan Yana, sebelum taringku tumbuh dari gusiku ," pekik Santi.


Mendengar hal tersebut, Raka dan Andre pun seketika gelagapan dan Langsung berpencar dengan salah tingkah.


Santi menatap ke arah Yana," apa kau baik-baki saja?, Apa yang kamu rasakan?" Tanya Santi khawatir.


" Aku tidak merasakan apa-apa bunda, Aku hanya sedikit pusing," jawab Yana.


" Yah sudah, kamu istrahat ya?" Ucap Santi.


Yana mengangguk," paman Kevin akan Sadar, dia hanya butuh sedikit istirahat, " ucap Yana.


" Yah!!, Kamu sudah bekerja dengan baik. Ayo bunda antar ke kamar," Ajak Santi.


Yana menggenggam tangan ibunya, lalu menoleh ke arah Andre," Paman!!, Aku pamit tidur ya!!" Ucap Yana kepada Andre.


Andre hanya mengangguk, Sesekali ia melirik ke arah Raka. Dengan bersamaan, Raka juga melirik ke arah Andre dengan tatapan membunuh.


Yana yang melihat reaksi Ayahnya, Hanya dapat membuang nafasnya dengan berat," yah sudah. Ayah dan paman, Good nite. Aku pamit," Ucap Yana Beranjak dari ruangan.

__ADS_1


__ADS_2