
...I Love You Paman Dokter...
...BAB 82 : Pindah Rumah...
...****************...
2 minggu kemudian,.
Di kediaam penhouse Santi, Terlihat Raka, Santi, Andre dan Kevin sedang berbenah menata ruangan.
Karna hari ini merupakan hari kepindahan keluarga Raka ke rumah baru di penhouse. Sedangkan Apertemen Raka, sekarang telah di sewakan.
" Kenapa kita yang harus membereskan hal semacam ini?" Ucap Kevin yang sedang menyusun beberapa perabotan.
" Raka yang meminta, Jadi kau cukup kerjakan saja," Sahut Andre.
" Hais.. Jika hari ini aku tidak kesini, aku sudah pasti bersantai dengan beberapa wanita di acara pesta pantai," gerutu Kevin.
" Kau keberatan?, Silahkan pergi saja!" Sahut Raka yang baru keluar dari kamarnya.
" Tidak!, Aku menikmatinya," jawab Kevin berbohong.
Yana dan Santi kini datang membawakan beberapa cemilan dan minuman.
" Hai para Tuan bangkotan, mari minum dulu!!" Ucap Santi seraya menaruh mampan di atas karpet di ruang keluarga yang berisikan Cemilan.
Andre dan Kevin meninggalkan pekerjaannya, lalu menuju ke arah ruang keluarga. Tidak lama Raka pun menyusul.
Kini semua telah berkumpul di ruang keluarga. Dan mulai menyantap cemilan yang di buat oleh Santi.
" Ini apa?" Tanya Andre sembari menatap sebuah gorengan di tangannya.
" Itu tape, jadi makanlah," ucap Santi.
" Oh tape yang bisa memutar lagu itu ya?" Timpa Kevin.
" Bukan dodol!, Itu tipe!" Sahut Raka.
Yana mengoyangkan kepalanya, " kebutulan semuanya sudah berkumpul di sini, aku mau kasih tahu kepada kalian," ucap Yana.
Semua menatap ke arah Yana, " besok ada acara pentas donatur di sekolahku," ucap Yana.
" Mmm... Kalau begitu , kita semua harus hadir sebagai donatur," ucap Raka.
Andre dan Kevin mengangguk," yah! Kita harus terlihat dermawan di sekolah Yana," timpal Kevin.
" Paman Kevin, jika kamu yang datang. Aku pastikan, kau hanya melirik para wanita di sana, membuat mereka salah tingkah dan kemudian mencampakannya," ucap Yana.
" Tidak!, Aku akan fokus untuk berdonatur, tanpa melirik sana sini," sahut Kevin.
" Oh!, Iya. Aku juga lupa, Bahwa ada pentas Drama, dan pentas seni lainnya. Untuk menghibur para donatur," Ucap Yana.
" Trus kamu menjadi apa?, Sumbang puisi atau apa?" Tanya Santi kepada Yana.
__ADS_1
" Mmm... Aku ikut Drama, dan aku jadi pemeran utama," Sahut Yana dengan pedenya. Karna mendapat pemeran utama.
" Dalam cerita apa?" Tanya Andre yang sedari tadi berdiam diri.
" Jika aku mengatakannya, itu sudah tidak seru. Nanti kalian saja yang melihat aktingku," ucap Yana.
" Mmm... Baik my Angel. Besok ayah dan bunda akan menyaksian aktingmu," ucap Raka mengelus kepala Yana.
Setelah bersenda gurau, Andre dan Kevin berpamitan. Dan tinggal'lah keluarga somplak bin reseh yang ada di dalam ruangan.
" Yana, apa kamu tidak ingin tinggal di sini saja, bersama Bunda dan Ayah?" Tanya Raka.
" Tidak ayah!, Kasihan kakek sama Nenek tidak ada yang menemani," sahut Yana.
" Yah sudah, terserah kamu saja. Nyamannya di mana, " jawab Raka.
" Ayah mau ke ruang kerja dulu, Temani bundamu," Sambung Raka beranjak.
Kini Raka menuju ke arah ruang kerjanya, ia mengambil sebuah bingkai foto yang ia taruh di dalam lemari meja kerjanya, kemudian ia menaruh foto tersebut di atas meja kerja seraya tersenyum, Ketika ia melihat gambar dalam foto yang ada di hadapannya.
" Kalian berdua adalah penyemangatku, sehat-sehat selalu kalian berdua," ucap Raka, seraya mengelus-ngelus foto tersebut.
...****************...
Ke esokan Harinya,.
" Yana!!!" Teriak Santi.
" Aku baru tersadar!, Kenapa dulu aku tidak menyuruh istriku untuk ikut Audisi Sinden?" Guman Raka yang masih belum tersadar sepenuhnya.
Di depan pintu Kamar Yana,.
Tok..tok!!
"Yana!!, bangun, ya ampun. Bagaimana bisa kau bersanding dengan Dokter Andre?, Tukang tidur , Bau ketek plus jam segini masih bau jigong lagi. Kenapa bisa, Seorang Dokter mau sama kamu?"
Teriak Santi di depan pintu kamar Yana, sembari tangannya menggedor-gedor pintu yang ada di hadapannya.
"Sayang!, Kenapa pagi-pagi kamu sudah teriak-teriak kaya Tarzan?" Ucap Raka menghampiri Santi.
Santi yang mendengar, langsung menoleh ke arah Raka, " Dan kamu!, cepat cuci mukamu dan sikatlah gigimu," pekit Santi menujuk ke arah Raka.
" ah.. iya, baik-baik!" Ucap Raka yang langsung berlari kembali ke dalam kamarnya.
Klek!!
Pintu di hadapan Santi terbuka, dengan Yana yang sedang mengucek-ngucek matanya.
" Bunda!!!, Sungguh mati ya!, Ga di di dunia manusia dan di dunia kehaluan ini, kenapa suara cempreng bunda tidak berubah?" Cecar Yana.
Santi menongkak pinggang, " mandi dan sarapan, Setelah itu ke sekolah. Apa mau, bunda mandiin trus sholatin?" Ucap Santi.
__ADS_1
" His Bunda!!, Bahasanya kaya ngedoain aku mati saja," Cetus Yana .
" Makanya cepetan mandi, kamu itu sudah baliq dan seharusnya lebih dewasa Yana," ucap Santi.
" Iya...iya.. aku mandi sekarang," sahut Yana yang kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Santi kini menuju ke arar ruang makan, di sana sudah ada Raka yang telah duduk di salah satu kursi.
" Santi!!, Jangan terlalu keras pada Yana," ucap Raka memperingati.
" Aku lebih tahu Raka, Dia tidak akan bisa mandiri jika kau terus memanjakannya,"
Sahut Santi yang meraih Roti lalu menholeskan selai di atas lembaran roti, lalu santi menaruhnya di atas piring Raka.
" Apakah di dunia manusia, kau selalu seperti tarzan?, Berteriak begitu sudah seperti knalpot racing!" Tanya Raka menatap Santi dengan raut wajah cemberut.
" Samain saja aku seperti monyet, seperti singa. Anak sama Bapak sama saja," pungkas Santi yang kini telah duduk di kursi.
" Yah makanya, sikapnya di rubah. Biar tidak di sebut seperti binatang kamu bilang barusan,"
" iya..iya.. besok-besok kau saja yang bangunin Yana," sahut Santi ngambek.
Yana terlihat sudah Rapi, kemudian bergabung bersama ayah dan bundanya.
" Kamu pergi dengan siapa?, Mau ayah antar , apa sama Supirnya paman Andre?" Tanya Raka.
" Sama om Marko saja, tadi paman Andre sudah menelfon. Jika om Marko sudah OTW kesini," Sahut Yana.
" Ya sudah!, Habiskan sarapannya. Nanti ayah sama bunda menyusul,"
" Iya ayah, Awas!. Jika sampai, bunda sama ayah tidak nonton aksi Yana,"
" Pasti di tonton sayang!!" Ucap Raka.
" Palingan, si Yana jadi nenek sihir!, Lihatlah tampangnya itu. Jutek sudah kaya pacarnya," Timpal Santi.
" Enak saja bun, gadis nan imut ini menjadi pemeran nenek sihir?. haduu..Soryy la yau!" Sahut Yana.
Setelah Yana selesai sarapan, Raka mengantarkan putrinya ke depan rumah menunggu Marko.
Tak lama, Marko pun tiba dan menepikan mobilnya di hadapan Yana dan Raka.
" Ayah Yana pamit," ucap Yana meraih tangan Ayahnya lalu mencium punggung tangan tersebut.
" iya, hati-hati. Marko!, Titip Yana ya!"
" Baik Tuan!!"
Marko berjalan ke arah mobil lalu membukakan pintu untuk Yana.
" Tuan!, Saya pamit,"
" Yah!!"
__ADS_1
Marko kini telah naik ke dalam mobil dan melaju meninnggalkan kediaman Raka.
...**************...